Gabdika Menganut Filosofi Gatotkaca

JAKARTA – Jiwa kesatria yang dimiliki Gatotkaca menjadi sumber inspirasi bagi Shihan dr Markus Basuki, Pemegang Dan VIII Karate – do Indonesia ini ingin menjadikan generasi muda yang belajar ilmu bela diri karate menjadi kesatria.

Pendiri Gabungan Beladiri Karate – do (Gabdika) ini, berobsesi menjadikan Gabdika menganut filosofi Gatotkaca tokoh dalam kisah Mahabharata.

“Kesatria paripurna, memiliki mental, moral dan etika itu yang utama, baru fisik dan teknik,” kata Markus Basuki di Jakarta belum lama ini.

Seorang satria menurutnya di mana pun harus memiliki sifat yang jujur, tidak mudah menyerah, tidak egois, bertanggung jawab serta berpikir positif.

Di temui di sela sela acara seminar organisasi, ujian nasional yang dirangkai  dengan HUT Gabdika ke 49 di Jakarta belum lama ini, Shihan Markus menungkapkan tiga misi utama yang diemban Gabdika Indonesia. Menjadikan Gabdika rumah besar sebagai wadah tempat orang belajar karate.  Dengan sikap merendah Markus menjelaskan Gabdika tidak pernah menyebut “jadilah juara karate”.  Dengan mengabaikan ambisi berlebihan ini, Shihan Markus yang juga berprofesi sebagai dokter ini menilai misi ini berbeda dengan organisasi lainnya.

Misi yang kedua, Gabdika menjadi mata air, sumber ilmu pengetahuan karate. Yang terakhir, menjadikan generasi muda yang memiliki ilmu beladiri berjiwa kesatria.  Mempersiapkan kader untuk menjadi duta bangsa, pemimpin serta pemersatu bangsa.

Gabdika hadir tidak saja sebagai olahraga beladiri semata, sebagai salah satu cabang Forki. Dituntut mempersiapkan bibit atlit berprestasi guna mengharumkan nama bangsa dan negara di tingkat internasional.

Shihan Markus mengatakan telah mengikutsertakan atlitnya beberapa kejuaraan nasional seperti Mendagri Cup di Lampung, Palu maupun Mendikbud Cup Gorontalo. Empat atlit yang diterjunkan meraih juara. Dengan kemampuan ini Shian Markus sudah bisa mengukur kemampuan atlitnya. Apalagi dua atlitnya masing – masing  Lintika Ning Ayu Lestari dan Afifah Bulandari telah menunjukan prestasi terbaik untuk kategori kata beregu.

Ditemui terpisah kedua atlit pemegang sabuk hitam Dan I ini sama – sama bertekad terus berprestasi. Tika maupun Afifah sama – sama ingin masuk pelatnas. “Saya ingin masuk pelatnas,” ujar Tika diamini Afifah.

Gabdika kini memasuki usia 49 tahun, dalam rentang waktu sejak didirikan Shihan Markus Basuki tidak pernah lepas dari kendala.

Hal ini diakui Pengurus Daerah (Pengda Gabdika) Provinsi Sulawesi Selatan, Sutrisno menurutnya kendala yang dihadapi adalah minimnya pelatih. Dampaknya dari 27 kabupaten/kota di Sulawesi Selatan, baru 2 kabupaten yang membuka cabang karate – do. Ino sapaan Sutrisno, bertekad akan terus mengembangkan karate – do di seluruh Sulawesi Selatan. “Ya kita akan terus berusaha mengembangkannya di wilayah Sulawesi Selatan, kita berharap ke depan sudah ada banyak pelatih,” harapnya.@yos

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *