Connect with us

Zona Gaya Hidup

Teladani Semangat Kartini Dengan Belajar Membatik

SURABAYA – Berbagai cara dilakukan untuk meneladani semangat RA Kartini dalam memperjuangkan hak kaum wanita, salah satunya dengan melestarikan warisan seni dan budaya bangsa kita yakni belajar membatik.

Batik merupakan warisan budaya nusantara yang harus terus dijaga keberadaannya, apalagi kini batik sudah menyebar hampir keseluruh antero nusantara dan tidak didominasi Jawa saja. Di Jawa, batik tidak lagi terpusat di Jawa Tengah, namun di Jawa Timur juga sudah merambah seluruh daerahnya. Motif dan coraknya juga bervariasi, sesuai dengan karakteristik daerah masing masing.

Untuk melestarikan batik tentu menjadi tanggungjawab bersama, bertepatan dengan peringatan Hari Kartini juga bisa menjadi momen untuk melestarikan batik. Hari Kartini yang biasanya dirayakan dengan mengenakan pakaian tradisional, bisa juga dirayakan dengan belajar membatik. Inilah yang digelar di salah satu plaza di selatan Kota Surabaya, para pengunjung diajak belajar membatik bersama.

Hadirnya pembelajaran membatik di pusat pertokoan ini disambut antusias oleh para pengunjung. “Saya senang sekali bisa belajar membatik secara langsung,” kata Anggi salah satu pengunjung yang terlihat serius memperhatikan proses belajar membatik.

Anggi yang merukapan siswa kelas X jurusan tekstil di SMKN 12 Surabaya ini, merasa tertarik dengan workshop batik yang diselenggarakan Dinas Pemberdayaan Masyakat dan Desa Provinsi Jawa Timur. “Kebetulan ini kan juga sesuai dengan jurusan saya,” katanya.

Belajar membatik secara langsung di pusat pertokoan ini yang  pertama kali bagi Anggi, mendapatkan ilmu membatik di luar sekolah. Kebetulan Anggi datang bersama dengan teman temannya dan semua ikut belajar membatik.

Selain Anggi dan teman temannya, para ibu ibu pengunjung lainnya juga tidak mau ketinggalan belajar membatik. Mereka langsung duduk mengitari wajan berisi lilin atau malam,  tangan mereka segera mengambil canting yang telah disediakan panitia.

Setelah mendapatkan selembar kain putih dari panitia, mereka begitu antusias menggoreskan canting berisi lilin panas diatas lembaran kain katun putih tersebut. Berlahan lahan, motif mulai terbentuk.

Tak jarang diantara mereka yang enggan memegang kain karena takut terkena cairan lilin panas. “Susah, lilinnya kayak mau tumpah terus,” kata Sulis salah satu peserta belajar membatik.

Ternyata cara Sulis menggoreskan canting memang salah, sehingga lilin panas dalam canting keluarnya terlalu banyak.

Fathurohim pengrajin batik yang menjadi tutor dalam acara itu mengatakan seharusnya posisi canting didongakkan ke atas, sehingga lilin tidak mudah tumpah.

Belajar membatik ini juga tidak hanya diikuti ibu ibu dan remaja putri, tapi ada juga bapak bapak dan remaja putra yang ikut. Mereka tak mau ketinggalan, bahkan karya mereka juba tidak kalah dengan karya para kaum Kartini.

Fathurohim pengrajin batik yang tergabung dalam Badan Usaha Milik Desa (BUMDesa) Sendangagung Makmur, Kabupaten Lamongan ini mengatakan peringatan Hari Kartini juga sangat cocok diperingati dengan belajar membatik. “Belajar membatik ini juga sebagai melestasikan warisan budaya bangsa dan sesuai dengan semangat RA Kartini,” pungkasnya. @han

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © 2017 ZONANUSANTARA.COM - Portal Berita Online Indonesia dan Dunia