Batang Punya Segudang Potensi Ekonomi Kreatif

Foto : ist/infopublik.id

  • Sesuai visi misi Pemkab Batang ciptakan 1.000 wirausaha

BATANG – Kabupaten Batang tidak hanya memiliki keindahan panorama alam pantai dan pegunungan, daerah yang terbagi atas 15 kecamatan, 235 Desa dan sembilan kelurahan ternyata mempunyai banyak potensi ekonomi kreatif. Hal ini sejalan dengan visi misi Pemerintah Daerah Kabupaten Batang, Jawa Tengah yakni menciptakan 1.000 wirausaha.

Bupati Batang, Wihaji mengungkapkan untuk meningkatkan penghasilan masyaraka di bidang ekonomi kreatif pemerintah memberikan pelatihan dan pemberdayaan kepada calon-calon wirausaha baru termasuk pemasaran dan kemasan yang bagus. Sebagai bukti keseriusannya dalam memajukan ekonomi kreatif di daerah tersebut, Pemerintah Daerah (Pemda) Batang telah membentuk Dekranasda (Dewan Kerajinan Nasional Daerah) yang dipimpin oleh Uni Kuslantasi yang juga merupakan Ketua Tim Penggerak Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Kabupaten Batang.

“Kita punya sesuatu yang bagus tapi kalau bungkusnya plastik biasa dan tidak dikemas dengan bagus maka market-nya tidak meningkatkan. Saya pernah sekali mendampingi mereka untuk mengembangkan Usaha Kecil Menengah (UKM) agar produk-produk kita bisa masuk ke pasar modern. Dan nanti setiap jalan akan dibuat tempat khusus kuliner dan tempat khusus untuk ekonomi kreatif,” jelas Wihaji saat dikunjungi sejumlah media dan Kementerian Pariwisata di rumah dinasnya di Batang belum lama ini.

Selain batik, berikut sederet subsektor ekonomi kreatif Kabupaten Batang.

– Kerajinan Kayu “Batang Kerajinanku”


Kerajinan kayu ini berlokasi di Desa Sempu Kecamatan Limpung, Kabupaten Batang. Usaha ekonomi kreatif ini diinisiasi oleh Ngatimin yang juga sebagai pemilik dari usaha tersebut. Berbagai kerajinan dekorasi rumah berbahan dasar limbah kayu disulap menjadi pernak-pernik yang unik.

Menurut Ngatimin, pengerjaannya berbeda dari perajin pada umumnya. “Kita punya limbahnya dulu baru kita pikirkan akan dibuat menjadi sesuatu yang punya nilai. Kalau tempat lain kan dia buat gambar dulu,” imbuh Ngatimin saat dihubungi via telepon.

Produk kerajinan yang dihasilkan bervariasi mulai dari perintilan kecil seperti tempat pensil dan asbak rokok Rp10 ribu, hingga kursi kayu seharga Rp2,5 juta per set. Beberapa tahun lalu, usaha Ngatimin sempat ikut serta di ajang Inacraft, setelah itu pembeli mendatangi langsung pusat pembuatan kerajinan kayu ini, bahkan adapula yang memesan barang untuk pengiriman.

“Dulu ada juga yang minta dikirim tapi kendalanya kita di bungkusannya, karena kalau kaca rentan pecah jadi kita susah pengemasannya. Sekarang ini pembeli datang langsung ke sini,” ujar Ngatimin.

– Kuliner Khas Emping Klethuk


Salah satu contoh industri rumahan produksi emping klethuk terletak di Desa Plumbon Kecamatan Limpung Kabupaten Batang. Meskipun di Batang tidak punya perkebunan melinjo namun daerah ini sangat terkenal dengan oleh-oleh emping melinjo. Berbeda dari emping melinjo biasanya, emping klethuk ini punya berbagai variasi rasa gurih, pedas, dan manis.

Salah satu pelaku usaha emping klethuk melinjo 2 Jempol UD Dadi Makmur di Desa Plumbon dikelola oleh keluarga Hj Holisah. Dalam sehari, industri rumahan ini bisa mengolah lima kwintal biji melinjo. Hj Holisah menjelaskan proses pembuatan emping klethuk.

Pertama biji melinjo mentah yang didatangkan langsung dari Lampung dan Palembang ini disangrai dengan pasir diatas tungku kayu, kemudian proses pengelupasan kulit ari melinjo. Setelah pengelupasan, melinjo ditumbuk dengan palu hingga pipih. Belum selesai, melinjo yang sudah melalui tahap pressing kemudian di-oven atau dipanggang lalu digoreng.

“Kalau sudah digoreng nanti baru dibumbui, kalau yang manis dikasi gula jawa, yang pedas dikasi cabai dan garam. Hasilnya tergantung kondisi melinjo. Kalau melinjonya bagus hasilnya juga banyak,” jelas Holisah.

Emping yang sudah diberi bumbu ini dilemas2 dalam plastik doble sehingga lebih tahan lama. Per kemasan berisi 5 kilogram emping klethuk dimana per kilogram seharga Rp36 ribu – Rp40 ribu. “Kalau beli di rumah harganya Rp36 ribu kalau di pasar Rp40 ribu sekilo,” ujarnya.

Sudah lebih dari 30 tahun usaha emping klethuk ini digeluti Hj Holisah bersama mendiang suaminya, dan sekarang ini ia dibantu anak-anaknya untuk melanjutkan usaha tersebut. Saat ini ia mempekerjakan 60 orang yang umumnya ibu rumah tangga.

– Kuliner Khas Putri Domas


Sebuah usaha yang bergerak di bidang kuliner diinisiasi oleh Casrini yang berasal dari Desa Padomasan Reban Batang yang memanfaatkan bahan dasar jagung serta melinjo untuk dijadikan camilan yang inovatif seperti keripik melinjo, stik jagung, nasi jagung dll.

– Kopi Robusta Lobang


Setiap daerah punya kopi dengan ciri khas berbeda dari daerah lainnya. Seperti di Desa Lobang, Batang, tempat ini terkenal dengan “Kopi Lobang”. Paryadi adalah salah satu petani kopi robusta di desa tersebut. Setelah meningkatkan kualitas kopi robusta Desa Lobang, kopi kini menjadi buruan para pengusaha kedai kopi baik daerah lokal maupun luar daerah di tingkat nasional.

– Kerajinan Kriya Merti Desa


Dari sini telah dilakukan pemberdayaan ekonomi kreatif yang diinisiasi oleh Tatik Setianingsih dengan memberikan inovasi yang begitu inspiratif dalam memajukan pertumbuhan sumber daya yang ada. Hingga kini Merti Desa telah menghasilkan beberapa produk unggulan seperti gantungan kunci, bros, baju anak, tas, dompet, dan lain sebagainya yang memanfaatkan kain perca.@andim

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *