Kekeringan Warga di Perbatasan Kesulitan Air Bersih

Reporter : Yulius Salu

KEFAMENANU – Musim kemarau berkepanjangan mulai berdampak. Hampir seluruh desa di Kabupaten Timor Tengah Utara, NTT mengalami krisis air bersih. Daerah yang berbatasan langsung dengan Negara Timor Leste ini selalu menjadi langganan krisis air setiap musim kemarau tiba. Untuk mengatasinya Badan Penanggulangan Daerah (BPBD) setempat membutuhkan anggaran sebesar Rp 600 juta.

Plt. BPBD Kabupaten Timor Tengah Utara , NTT Yosefina M. Lake mengaku telah mengirim proposal bantuan dana kepada Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) di Jakarta, serta melalui Pemprov NTT. Yosefina Lake berharap ada perhatian serius dari BNPB untuk segera mendistribusikan air bersih kepada warga yang membutuhkan.

Yosefina Lake yang akrab disapa Eli Lake mengatakan saat ini hanya memiliki anggaran sebesar Rp 40 juta. Dengana keterbatasan ini praktis tidak bisa menjangkau seluruh desa yang dilanda krisis air bersih. “Anggaran yang kita sediakan hanya mampu melayani delapan desa, sementara desa lainnya menunggu anggaran dari pusat,” kata Yosefina Lake, (Kamis, 27/09/2018).

Delapan desa tersebut antara lain, Desa Usapinonot Kecamatan Insana Barat, Kotafoun, Kecamatan Biboki Anleu, Banuan Kecamatan Insana Fafinesu, Desa Sainoni dan Faenake Kecamatan Bikomi Utara, Oelbonak dan Ajoka Kecamatan Bikomi Tengah, dan Desa Manamas Kecamatan Naibenu. Lima desa terakhir ini berada di perbatasan Timor Leste.

Plt Eli Lake menjelaskan setiap desa membutuhkan sedikitnya 14 tanki air bersih yang berkapasitas 5000 liter. Sementara mobil tanki yang ada hanya satu unit.

“Makanya kita berharap BNPB dan Pemprov NTT memperhatikan kesulitan yang kita hadapi saat ini,” harapnya.

Mantan PNS Prop Timor Timur, saat masih menjadi wilayah NKRI ini memutuskan untuk berangkat ke Jakarta sekaligus mencari solusi sebelum puncak musim kemarau yang diperkirakan akan terjadi pada bulan depan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *