Lebih Dekat Toto D. Gunarto

Reporter : Yosef Funan Naiobe
 

JAKARTAGuru yang baik akan bangga melihat muridnya berprestasi. Seorang artis ternama pasti ada sudradara hebat di belakang layar.

Sepenggal kalimat ini pas untuk Toto D. Gunarto. Nama ini terasa asing dan tidak banyak yang mengenalnya. Berbeda kalau menyebut Iwan Fals, Krisdayanti atau Novia Kolopaking, Mus Mujiono dan Maya Rumantir. Nama – nama ini sudah tidak asing bagi seantero jagad negeri ini.  Figur publik di dunia hiburan era tahun 1980an yang eksis hingga kini.

Tapi siapa sangka para pesohor ini  mendapatkan panggung di bawah polesan tangan seorang Toto D. Gunarto?

Dalam perbincangan dengan ZONA NUSANTARA di kediamannya di Pondok Melati Jakarta belum lama ini,  pria kelahiran Semarang 11 Pebruari 1954 berkisah tentang bagaimana suka duka  menggembleng Iwan Fals. Pelantun hits namaku Bento ini dinilai memiliki potensi luar biasa. Kala itu lanjut Toto sapaan akrabnya, Iwan Fals remaja merupakan penyanyi jalanan.

Seiring perjalanan waktu, Toto dan Iwan Fals mendirikan kelompok music Amburadul pada tahun 1978. Dua tahun sebelum menggagas kelompok Amburadul, Toto Gunarto mendirikan Group Philosopic. Di group ini Toto berperan sebagai pelatih vokal. Iwan Fals salah satu muridnya. Perlahan Iwan Fals menemukan style dan karakter bermusik. Ia kemudian menjelma dari pemusik anak jalanan menjadi artis beken dengan lirik lagu kritik sosialnya.

Tidak saja Iwan Fals. Krisdayanti dan sejumlah artis yang disebutkan di atas adalah buah dari polesan tangan sang guru. Mengenai sosok Krisdayanti maupun artis lain, Toto dengan nada merendah mengaku ia hanya sedikit memoles bakat – bakat yang dimilikinya. ” Saya bukan pelatih vokal. Namun ketika di studio, saya mengarahkan saja, ” papar ayah tiga anak ini.
Menilik perjalanan kisah hidupnya, pemilik Sanggar Merah Putih ini total untuk musik. Ia memandang musik sebagai roh yang menghidupkan. Kecintaannya terhadap musik membuat suami dari Nurlaela ini kerapkali diundang pentas di Istana Negara bersama sejumlah artis ternama. Ayah dari  Gigih  Perwira Mukti, Bening Cahya Hayu, dan Rizkyne Banyu Milli ini mengaku pagelaran musik di Istana sejak zaman Presiden Soeharto. Selain itu berkat kecintaanya terhadap musik menghantarnya melanglangbuana ke luar negeri,  tour musik mewakili Indonesia.

Kesungguhan pada musik  dikemas dalam sebuah moto yang digelorakan sebagai sebuah sikap spiritualitas dalam menekuni kesenian.”Adalah suatu kebahagiaan yang tak terhingga manakala sepanjang hidup yang diberikan Tuhan Yang Maha Kuasa senantiasa memberikan arti dan manfaat untuk keluarga masyarakat, bangsa dan negara”

Filosofi ini menjadi pegangan sepanjang kariernya di blantika musik tanah air. Itulah sebabnya ketika artis- artis yang dibinanya mendapatkan panggung kehormatan dan hidup dalam kegemerlapan,  sang guru memilih menyepi. Ia seakan masuk dalam ruang keheningan jiwa.

Menggeluti dunia hiburan bagi seorang Toto D Gunarto seperti berselancar di samudera maha luas. Misi perjalanannya keliling Indonesia, hingga ke Papua di ujung timur Indonesia atau dicurahkan untuk mengembangkan musik bagi kaula muda yang memiliki jiwa seni

Sepanjang kariernya Toto menduduki sejumlah jabatan. Beberapa di antaranya Ketua Kelompok Musik Demokratik 1979 – 1982, Pendiri dan Ketua Umum Yayasan Kharisma Merah Putih 2014 hingga sekarang, Korwil Kirab Remaja Asia Pasific 1995.  Tentu masih ada deretan jabatan lain yang disandangnya.

Bagi Toto, musik bukan sekedar menghibur dan mengumpulkan pundi – pundi.

“Musik harus membentuk karakter manusia untuk memiliki kepekaan dan bermartabat bagi sesamanya,” ucap Toto menerawang.

Pandangan ini menjadikan dirinya kokoh dan tidak pernah tergoda dengan dunia kemerlapan yang serba hura – hura. Padahal untuk mendapatkannya bukanlah hal sulit bagi seorang Toto D. Gunarto.

Petualangannya di bidang seni memotivasi pria paruh baya ini tetap konsisten dalam pilihan hidupnya hingga di usianya menjelang senja. Dengan musik, ia juga sering terjun dalam berbagai kegiatan sosial lainnya terutama pemberantasan narkoba. Kegiataan ini pula yang menorehkan namanya dekat sejumlah pejabat negara. Mulai dari menteri, atau sebut saja Budi Waseso, Gubernur DKI, Anis Baswedan, Goris Mere, dan lain – lain.

Kedekatan itu dibangun melalui misi kesenian. Bersama Budi Waseso ketika menjabat Kepala BNN, Toto membantu melakukan sosialisasi anti narkoba melalui pentas musik. Menurut Toto narkoba tidak bisa dihadapi dengan senjata atau kekerasan. Harus dengan hati.

Dia beralasan di balik sisi kelam seseorang, masih ada sisi baiknya. “Menghadapi orang – orang seperti ini harus dengan sentuhan perasaan. Dan pendekatan musik salah satu solusi” pungkasnya.

Deretan karier dan seremonial yang pernah ditangani bersama panji Kharis Merah Putih antara lain, hari Pendidikan Nasional, hari Anti Narkoba Internasional, Head Delegation Asean Musiv For The Queen di Bangkok, dan lain – lain.

Dalam berbagai even, Toto membawa misi membangun tiga harmoni generasi dan membentuk generasi bangsa yang unggul dan berbudi pekerti serta berkarakter Indonesia.

Genderang Cinta Negeri telah ditabuh seorang Toto D Gunarto. Alangkah baiknya jika kita mencoba meneladani jejaknya sebagai sebuah potret kehidupan. Rela tak mendapat karpet merah demi sebuah tataran nilai. Musik akan kehilangan roh jika ukurannya adalah uang dan harta.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *