Tjuk Sukardiman : Sektor Martim Harus Dikembangkan

Reporter : Yosef Naiobe

JAKARTA – Negara Indonesia terrmasuk negara maritim. Memiliki luas laut sebesar 3,25 juta km2. Lebih luas dari daratan yang hanya 2,01 km2. Dengan kondisi ini Indonesia harus mengembangkan sektor maritim atau Martim Sector Development Program (MSDP) yang diberikan oleh Bank Dunia.

Pandangan ini dikemukakan Rektor Institut Transportasi dan Logistik (ITL) Trisakti, Dr Tjuk Sukardiman. Di temui di ruang kerjanya belum lama, mantan Dirjen Perhubungan Laut ini mengatakan sistim transportasi laut harus terintegrasi. Hal yang penting menurut Dr Tjuk adalah bagaimana mengembangkan sektor maritim termasuk di dalamnya sea transportation (transportasi laut) juga eksplorasi dan eksploitasi kekayaan maritim.

“Dua hal ini tidak ada gunanya jika sea transportation menjadi tempat trasportasi laut tdk ada. Jadi hal yang sangat strategis dalam maritim, adanya integrited sea transportation,”ungkap Tjuk Sukardiman.

Dikatakan sistem transportasi yang terintegrasi atau Integrated Sea Transportation System (ISTS) menjadi pembangunan secara terpadu antara pembangunan pelayaran di satu sisi dan pembangunan pelabuhan di sisi lain

Pengamat kelautan ini menambahkan terminologi transportasi terdiri dari kapal, dengan pelayarannya dan pelabuhan. Ketiganya harus dibangun bersama secara simultan. “Jadi sebenarnya konsep yang telah digulirkan Presiden Jokowi mengenai tol laut nusantara dan poros maritim dunia itu adalah pengejawantahan lebih jauh dari adanya martim sector development program tersebut,” paparnya.

Dalam konsep ini laut dilihat sebagai wahana lingkungangan hidup, wahana transportasi komunikasi dan wahana produksi. Artinya tidak ada produktovitas laut yang bisa dikembangkan apabila tidak ada transportasi. Ini berarti tidak akan terjaga dengan baik rutinitas produksi dan transpirtasi kalau lingkungan tidak dipelihara.

Ketiga wahana ini lanjut Tjuk secara simultan harus dikerjakan secara bersamaan dalam konsep yang namanya tol laut nusantara dan poros maritim dunia.

Wujud nyata dari implementasi lebih jauh adalah bahwa Indonesia sebagai suatu negara maritim oleh The International Maritim Organisation (IMO) harus menentukan alur laut internasional (AKI). Tiga ALI yang ditetapkan IMO antara lain, pertama selat Sunda, ke Karimata, Singapura dan Laut Cina Selatan. Kedua, dari Samudera Indonesia, terus masuk selat Lombok ke laut Cina Sulawesi, terus ke laut Cina Selatan. Terakhir adalah Kupang, dan sekitarnya, Arafuru, terus ke Ambon, Sorong terus ke laut Cina Selatan dan Asia Pasifik

“Ketiga Alur Laut Kepulauan Indonesia ini sebagai bentuk perwujudan dan konsistensi kita dan komitmen kita untuk membuka apa yang dinamakan poros maritim dunia,” tandasnya

Artinya Indonesia terbuka bagi lalulintas laut Internasional dengan menyiapkan tiga ALKI tersebut. Pembangun pelabuhan – pelabuhan yang dikatakan terintegritasi pada
angkutan laut dalam dan luar negeri adalah yang disekitar dekat pada alki alki tadi. Contoh sekarang dikembangkan untuk pelabuhan pengumpul berkelas dunia, yaitu di Kuala Tanjung, Sorong dan Blitung.

Lebih jauh dijelaskan bahwa pelabuhan ada tiga kategori, yakni pelabuhan sebagai pengumpul, transit dan yang terakhir adalah penunjang. Selama ini kendala utama yang dihadapi adalah kepemilikan armada laut nasional yang masih kurang.

Rektor Tjuk mengaku pernah melakukan penelitian terkait kapasitas armada. Dalam penelitian untuk penulisan disertasi,  diketahui bahwa kapasitas armada laut nasional kita masih kurang dibanding dengan tingkat kebutuhan jika dilihat dari pendekatan dinamis.

Karena itu sekali pun eksplorasi dan eksploitasi hasil laut tidak akan ada hasilnya jika tidak ada pengangkutnya. Produksi meningkat harus diimbangi dengan transportasi laut memadai.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *