Robby Diogo Idong: Fokus Pada Pengentasan Kemiskinan

Reporter : Pieter Sambut

JAKARTA – Bupati Sikka, Robby Diogo Idong menegaskan, bahwa pihaknya akan fokus pada pengentasan kemiskinan di Kabupaten Sikka. Walaupun Kabupaten Sikka sudah keluar dari predikat sebagai daerah tertinggal, namun jumlah orang miskin masih cukup signifikan. Dari data statistik, jumlah penduduk miskin sekitar 14,2 % dari total 317.000 penduduk Sikka atau setara dengan 44.000 jiwa.

“Angka kemiskinan 14,2 % itu bukan jumlah yang kecil jika dibandingkan dengan angka kemiskinan nasional yang berada pada level 9,92 %. Mereka tersebar di bagian Barat dan Timur Kabupaten Sikka. Kelompok ini benar-benar miskin, hanya masak sekali dalam sehari. Mereka harus ditolong dan diberdayakan agar bisa keluar dari lingkaran setan kemiskinan,” jelas Robby Idong.

Menurut Robby Idong, kemiskinan tidak saja berdampak pada kondisi fisik masyarakat yang secara kasat mata terlihat kurus dan tidak bergizi, tetapi berdampak pada seluruh aspek kehidupan manusia. Mereka termasuk kelompok termarginal secara ekonomi, berpendidikan rendah, derajat kesehatan rendah, gizi buruk dan tidak memiliki akses terhadap sumber- sumber ekonomi.

Untuk mewujudkan ambisi besarnya, Bupati yang tampak energik ini akan melakukan terobosan untuk membedayakan orang miskin dan sekaligus membuka ruang bagi kelompok masyarakat yang sudah relatif maju untuk terus meningkatkan taraf hidupnya. Ada beberapa program strategis yang diyakininya akan menyentuh kebutuhan dasar (basic need) dan kebutuhan yang dirasakan (felt need) masyarakat Sikka. Program-program unggulan itu antara lain: Pertama, pembangunan ekonomi. Prioritas pembangunan ekonomi adalah peningkatan produksi pertanian dan menjadikan Maumere sebagai kota dagang. Potensi lahan kering di Maumere belum dioptimalkan. Lebih dari 50 % lahan yang tersedia belum dikelola dengan baik. Persoalan terbesar, kata Idong, adalah ketersediaan air. Dia bertekad akan membuat bendungan untuk meningkatkan produksi pertanian.

“Selama ini masyarakat petani hanya panen sekali setahun. Saya bertekad agar para petani panen dua kali setahun. Kita akan tiru teknologi Israel. Di Israel hujan turun cuma tiga minggu dalam setahun, tetapi produksi pertanian mereka luar biasa dan terkenal di seluruh dunia. Di Maumere dan NTT pada umumnya, hujan turun tiga bulan setahun. Seharusnya kita lebih baik dari Israel. Untuk itu kita perlu belajar dari Israel,” ujar Idong.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *