Connect with us

Zona Headline

Kaleidoskop Tampang Genderuwo Sontoloyo

 

Penulis: *Yunanto

Komunikator yang baik pasti berorientasi pada komunikannya. Orientasi itu sebelum komunikasi dilakukan. Tentu, harus pula mencermati kondisi objektif medan serta medium yang hendak digunakan berkomunikasi.

Itulah “roh” komunikasi dari perspektif publisistik praktika. Tanpa memahami lebih dahulu komunikan yang hendak dituju, komunikasi malah berpotensi merugikan komunikator. Bahkan berpotensi pula merugikan komunikannya.

Orientasi pada komunikan dimaksudkan untuk mengetahui secara akurat ihwal “siapa sebenarnya” komunikan. Sebut saja, antara lain mulai dari perspektif jender, tingkat pendidikan, sosial-ekonomi, lingkungan sosial domisili, daya mampu menalar dan mencerna informasi, idealisme dan filosofi hidup, sampai afiliasi politiknya.

Hasil dari orientasi pada komunikan itu barulah “dikawinkan” dengan tujuan (terget) komunikasi yang hendak dicapai. Akurasi penentuan lokasi dan medium (jamak: media) komunikasi juga harus dipastikan. Daya pengaruh konten komunikasi wajib diperhitungkan cermat di awal.

Banyak fakta “berbicara” sendiri. Galibnya, mengabaikan orientasi pada komunikan, kerap melahirkan konten komunikasi yang tidak bermutu. Bahkan, hanya membingungkan khalayak komunikan. Lebih parah lagi, membikin gaduh jagat khalayak komunikan. Tak ada nilai-nilai positif yang bisa dipetik oleh khalayak komunikan dari konten komunikasi yang tidak bermutu. Itu pasti.
* * * *
Genderang kampanye pileg dan pilpres 2019 dikumandangkan oleh KPU mulai tgl 23 September 2018.
Jujur saja, sejak saat itu sampai menjelang tutup tahun 2018 ini, saya tidak mendapatkan informasi positif dan berharga dari konten komunikasi politik berlabel kampanye. Padahal, informasi positif itu penting bagi saya untuk menjatuhkan pilihan saat hari “H” pemilu, 17 April 2019.

Saya menduga (sesungguhnya saya yakin), khalayak komunikan komunikasi kampanye pun tidak mendapatkan “apa-apa”, seperti saya. Terutama ihwal konten komunikasi politik dalam wujud kampanye pilpres 2019.
Maaf (jika saya harus minta maaf), khalayak komunikan hanya “dijejali” informasi bermuatan saling sindir, saling ejek, saling umpat, saling merendahkan, saling menyalahkan dan saling curiga.

“Roh” kemanusiaan yang adil dan beradab di bumi NKRI (sila ke-2 Pancasila), seperti sirna. Coba renungkan, di mana beradabnya jika saling sindir, ejek, umpat, merendahkan, menyalahkan dan curiga?!
Saya jadi bertanya-tanya, itukah hakikat demokrasi dalam implementasi pesta rakyat? Harus begitukah berebut kekuasaan? Saya yakin, khalayak komunikan pun punya pertanyaan yang sama atau serupa dengan pertanyaan saya tersebut.

Maka, jangan salahkan kami (baca: saya dan khalayak komunikan berbagai media) jika kami kecewa berat. Betapa tidak, narasi komunikasi politik (terutama kampanye pilpres) yang “dijejalkan” kepada kami ternyata sarat terminologi/diksi tidak bermutu. Tentu tidak ada faedahnya bagi kehidupan kami dalam berbangsa dan bernegara.

Telah “terpaksa” kami nikmati aneka rupa terminologi/diksi dalam berbagai macam narasi. Berdesak-desakan di ruang publik, ruang kami.
Tak kenal waktu. Pagi, siang, sore, malam sampai pagi lagi. Semua istilah dalam beragam bentuk komunikasi didesain harus mampu “menampar”
kami sebagai khalayak komunikan sang komunikator.

Di mana pun kami berada disasar, dibidik. Di perkotaan maupun di pelosok desa. Konten komunikasinya fakta atau fiksi, serius atau celotehan, enteng atau berbobot, tidak jadi pertimbangan si komunikator.
Sekali lagi, “menampar” kami, komunikan sasaran. Itu saja yang dipentingkan, agaknya.

Tak pelak, berseliweranlah berbagai istilah yang “menampar” khalayak komunikan di aneka rupa media publik.
Ada “tampang Boyolali”.
Ada “politisi sontoloyo”.
Ada “negera akan punah”.
Ada “politik genderuwo”.
Ada “tempe setipis kartu ATM”.
Masih ada lagi terminologi/diksi lain, tapi percuma saya tulis. Tidak ada faedahnya.

* * * *
Tinggal hitungan hari, masuk tahun 2019. Masih ada tempo sekitar 3,5 bulan bagi para komunikator komunikasi politik untuk memanfaatkan ruang publik.
Saya dan sangat mungkin juga khalayak komunikan, menunggu konten komunikasi macam apa lagi yang bakal digulirkan dengan label kampanye. Saya sudah siap-siap kecewa, jika konten komunikasi politiknya masih “begitu-begitu saja”. Tidak bermutu. Tidak berfaedah. Cuma bikin tersinggung dan marah.

Terakhir, saya hanya berharap, semoga tak ada lagi konten komunikasi politik (kampanye) yang bermuatan saling hujat, ejek, menyalahkan, mendiskreditkan, merendahkan, memfitnah dan saling curiga. Konten komunikasi politik macam itu malah berpotensi sebagai penyulut konflik horizontal di tingkat akar rumput.

Menyadari bahwa saya bukan siapa-siapa dan tidak menjadi apa-apa, maka daya mampu saya hanya berharap. Tidak bisa lebih dari itu. Mungkin saja khalayak komunikan komunikasi politik, di kota maupun di desa, punya harapan seperti saya. ☆☆

Catatan:
Yunanto adalah jurnalis harian sore “Surabaya Post” (1982-2002); alumni Sekolah Tinggi Publisistik di Jakarta; sekarang bergiat sebagai editor naskah buku, penulis artikel dan instruktur diklat jurnalistik; berdomisili di Pakisaji, Kab. Malang.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © 2017 ZONANUSANTARA.COM - Portal Berita Online Indonesia dan Dunia