Gerakkan Ekonomi Kreatif Melalui Blitar Djadoel

BLITAR – Nuansa jaman dulu, mulai dari pakaian, dekorasi sampai pernak-pernik begitu semarak terasa pada peringatan Hari Jadi ke – 112 Kota Blitar. Setelah upacara berpakaian jaman dulu, pawai budaya jaman dulu, mulai 4-8 April 2018 di Aloon-Aloon Kota Blitar digelar Bazaar Blitar Djadoel (jaman dulu) yang ke-8.

Pengunjung benar-benar diajak bernostalgia dan beromantisme sejarah, dengan berbagai sajian jaman dulu. Dalam acara ini disuguhkan makanan tradisional, kesenian tradisional jaman dulu, benda-benda jaman dulu, kerajinan jaman dulu, foto-foto jaman dulu dan pentas musik jaman dulu.

Namun untuk menarik pengunjung terutama wisatawan, baik lokal, domestik maupun mancanegara. Agar mau berkunjung ke Bumi Proklamator julukan Kota Blitar ini, digelar berbagai lomba diantaranya : lomba selfi contest, lomba menyanyi djadoel, pesta kembang api dan ditampilkan pitutur-pitutur luhur. Sebagai program pro rakyat, pengunjung Bazaar Djadoel dapat masuk ke lokasi djadoel secara gratis tanpa dipungut biaya.

Meningkat dari tahun lalu, peserta bazaar djadoel tahun ini adalah 150 stand. Bazaar Djadoel ini diikuti oleh semua Organisasi Perangkat Daerah di lingkungan Pemerintah Kota Blitar, sekolah, BUMD, ormas, organisasi perempuan, perbankan, pengrajin, seniman, stand TNI/Polri dan pengusaha. Event regional ini dimeriahkan 16 peserta dari kabupaten / kota se Jawa Timur dan stand UMKM. Setiap malam juga dimeriahkan dengan panggung hiburan, yang menampilkan musik-musik jaman dulu.

Wali Kota Blitar, Samanhudi Anwar mengatakan banyak nilai positif yang bisa kita ambil dari pelaksanaan Acara Blitar Djadoel ini, termasuk upaya membangkitkan semangat kecintaan pada budaya asli dalam negeri sekaligus kearifan lokal. “Pakaian jadul ini dipilih agar kita sebagai manusia Indonesia, bangga dengan budaya bangsa kita sendiri,” tutur Wali Kota dua periode ini.

Warga Kota Blitar harus bangga dengan budayanya, hal ini sejalan dengan pesan Bung Karno dalam tri sakti yang salah satunya kita harus berkepribadian dalam kebudayaan. Bung Karno juga berpesan agar kita jangan sekali-kali melupakan sejarah”, kata Samanhudi.

Bazaar Blitar Djadoel juga merupakan wujud dari ekonomi kreatif, yang selama ini digaungkan oleh Pemerintah Kota Blitar. Dengan tidak meninggalkan konsep ekonomi kerakyatan, mulai tahun ini pola pembangunan ekonomi Kota Blitar kita arahkan pada pengembangan ekonomi kreatif.

Melalui Bazaar Djadoel ini, lanjut Samanhudi pihaknya berharap dapat membangkitkan kembali semangat cinta budaya asli indonesia, mempertahankan nilai positif tradisi dan budaya bangsa, sekaligus memperkuat karakter dan jati diri warga Kota Blitar. Di tengah serbuan budaya asing, kita ingin tampilkan kembali nilai-nilai kearifan lokal dan budaya kita yang adiluhung. “Saya yakin efek ekonomi dari Bazaar Djadoel ini akan sangat besar, sekaligus memperkuat ikatan persatuan kita sebagai Wong Blitar yang punya semboyan “Rukun Agawe Santoso”, pungkas Wali Kota Samanhudi.ais

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *