Connect with us

Berita

Puisi akhir pekan ; Duka dan Kasih Ayah

Published

on

Ilustrasi

Hendrika LW

 

Aku,
terkapar di sini
di atas pembaringanku sendiri

Karena tulang belulangku,
serasa remuk rempu,
tak mampu menyangga tubuh rentaku

Kukumpulkan segenap kekuatan
untuk memulihkan belulangku

Kususun lagi,
ruas demi ruas

Kurakit lagi persendian ini,
semili demi semili
agar kumampu berdiri tegak

Kulangkahkan kakiku,
dengan doa-doa di setiap tapak
menuju rumah hijau itu

Aku ingin melihat wajah anakku,
yang sudah lama kurindu

Semakin dekat,
hatiku semakin menciut
tapi kucoba untuk tetap lapang

Nyaliku serasa hampir melayang
tapi kugenggam erat, seerat-eratnya, dengan jemari jiwaku

Ribuan mata memandangku getir,
aku hanya bisa merunduk

Hatiku hancur, porak poranda
tapi kucoba untuk tegar,
demi anakku

Anakku,
bawalah ini untuk bekalmu,
sebungkus doa dan cinta Ayah

Anakku bercucuran air mata…

Aku memaafkanmu, Nak,
berdamailah dengan dirimu

 

Malang entah kapan…….


 

Hendrika LW, : Wartawan penulis sastra dan penggemar seni peran.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *