Connect with us

Politik

Yunanto Angkat Bicara Soal Isu Pemekaran Wilayah Kabupaten Malang

Published

on

Yunanto

MALANG, –  Wartawan senior, Yunanto mengatakan wacana pemekaran Kabupaten Malang bukan hal baru. Sejak dekade 1980 gagasan memecah Kabupaten Malang menjadi dua yakni Kabupaten Malang Utara dan Malang Selatan. Kabupaten Singosari lanjutnya meliputi Karangploso, Lawang, Singosari, Dau, Pakis, Jabung, Poncokusumo, Tumpang dengan pusat pemerintahannya di Singosari. Sementara Kabupaten Malang Selatan,  Kabupaten Kanjuruhan beribukota di Kepanjen.

Munculnya gagasan pemekaran wilayah itu kiat-kiatnya pada rezim Orde Baru, waktu itu jelas tidak berbasis terminologi, tapi dikala itu siapa berani menyebut pemimpin tidak adil,” ungkap pria yang pernah menjadi wartawan Harian Sore Surabaya Post.

Menurut Yunanto, munculnya opini “isu pemekaran wilayah tidak akan muncul jika pemimpinnya adil” seperti yang di ucapkan Calon Bupati (Cabub) dari jalur perseorangan, Heri Cahyono alias Sam HC menurut saya keliru, dan tidak tepat, karena tidak berbasis fakta. Lebih keliru bila membandingkan dengan Negeri Tirai Bambu, Tiongkok (Cina).

“Jika dibandingkan dengan Cina, tentu sangat tidak sebanding. Jauh beda idiologinya, demografinya, geografinya, kultur budayanya, dan masih banyak lagi pembedanya,” jelasnya, Kamis (15/10).

Sebenarnya, lanjut Yunanto, Gagasan memecah Kabupaten Malang menjadi dua daerah tinggkat II (istilah saat itu), muncul pada era Bupati Malang Eddy Slamet (1980 – 1985), yang merupakan Perwira Menengah (Pamen) TNI-AD. Kolonel Infanteri Eddy Slamet inj menjadi kondang kaloka (tersohor), karena saat menjadi Dandim Blitar, pada masa Pangdam Brawijaya Mayjen TNI Witarmin, yang berhasil menghabisi Oloan Hutapea, tokoh CC PKI. Kala itu Oloan dan massa anggotanya bersembunyi di sebuah gua, di Lodoyo, kawasan Blitar Selatan. Saat itu, Bupati Eddy Slamet kerap mengutarakan untuk memecah Kabupaten Malang menjadi dua daerah tingkat II.

“Gagasan itu muncul dari pak Eddy (sapaan akrabnya). Pak Eddy adalah seorang pamen TNI AD. Kolonel Infanteri ini sebelumnya adalah Bupati Blitar, dan masuk Malang menggantikan Kolonel Infanteri Soewignyo, Bupati Malang dua periode. Mungkin kala itu Sam HC masih berstatus pelajar. Entah pelajar SD atau SLTP,” terangnya.

Dasar pemikiran memecah Kabupaten Malang kerap dipaparkan oleh Bupati Eddy Slamet, di berbagai kesempatan, lantaran didasari untuk memperpendek “jarak ketimpangan” antara kawasan Malang Selatan yang tidak sesubur kawasan Malang Utara.

Bila bisa dipecah menjadi dua kabupaten, maka pemerintah kabupaten dimaksud bisa lebih fokus ke satu daerah yang tidak kelewat luas. Terget gol terakhirnya, versi Pak Eddy, bermuara pada peningkatan kualitas kesejahteraan rakyat.

Untuk itu, lanjut Yunanto, jika berkiblat pada fakta ketimpangan tingkat kesejahteraan penduduk, di Malang Selatan dengan Malang Utara, memang diperlukan adanya pemekaran wilayah di Kabupaten Malang, buka pada terminologi “pemimpin tidak adil”.

“Pemekaran wilayah itu bukan lagi sebuah terminologi tabu jika untuk mempersempit jarak kesenjangan sosial-ekonomi rakyat di Malang Utara dan Malang Selatan,” tandasnya.

Sebagai informasi, luas hamparan wilayah Kabupaten Malang memang pada peringkat kedua di Pulau Jawa setelah Kabupaten Banyuwangi. Namun, fakta lain, jumlah desa dan jumlah kecamatan di Kabupaten Malang menduduki peringkat pertama. Tak ayal secara demografis pun jumlah penduduk Kabupaten Malang terbanyak.

Kabupaten Banyuwangi seluas 5.782,40 Km2, berpenduduk 1,693 juta jiwa lebih, tersebar di 28 kelurahan dan 189 desa dalam wilayah 25 kecamatan.

Kabupaten Malang seluas 3.530,65 Km2, berpenduduk 2,464 juta jiwa lebih (dua kali jumlah penduduk Banyuwangi!), tersebar di 12 kelurahan dan 378 desa dalam wilayah 33 kecamatan.

Dari aspek kamtibmas dan  stabilitas politik Jawa Timur juga ada yang khas. Kabupaten Malang bersama Kota Malang sejak zaman Orde Baru menjadi barometer stabilitas politik Jawa Timur.

Fakta ihwal stabilitas politik dan kamtibmas memang berbicara sendiri. Deretan ledakan bom teroris terjadi di Malang. Bom di gedung SAAT Kasin dan bom di balai pertemuan Kathedral (Gerja Katolik) Kayutangan. Sebagian tersangkanya pun warga Kota Malang.


Bahkan, Gembong teroris paling dicari, Doktor Asahari, bisa diringkus oleh Densus Anti-Teroris juga terjadi di kawasan Malang Raya (baca: Kota Batu). Tokoh teroris asal Malaysia itu bersama anak buahnya tewas dalam baku tembak dengan aparat keamanan saat digerebek.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *