Home Politik Pakar Hukum Administrasi Negara Menyikapi Fenomena Kotak Kosong

Pakar Hukum Administrasi Negara Menyikapi Fenomena Kotak Kosong

Prof Dr Suko Wiyono, membuka Webinar Nasional Fenomena Bumbung Kosong Dalam Pilkada Di Era Pandemi Covid – 19 yang digelar secara virtual

MALANG – Pakar Hukum Administrasi Negara yang tergabung dalam Asosiasi Pengajar Hukum Administrasi Negara – Hukum Administrasi Negara (APHTN – HAN) angkat bicara menyikapi fenomena bumbung kosong atau kotak kosong dalam Pilkada yang terus meningkat.

Ketua APHTN – HAN Jawa Timur, Prof Dr Suko Wiyono mengatakan sejak dimulainya Pilkada Langsung, fenomena bumbung kosong (kotak kosong) terus meningkat jumlahnya. Dampaknya, calon kepala daerah, tidak mempunyai lawan dalam Pilkada. Situasi ini kata dia sangat memprihatinkan.

Prof Dr Suko Wiyono mengungkapkan hal ini
dalam seminar nasional bertajuk Fenomena Bumbung Kosong dalam Pilkada di Era Covid – 19, di kampus Universitas Wisnuwardhana Kota Malang, Senin (02/11/).

Dijelaskan sejak 2015, calon pemimpin daerah melawan calon kosong ada tiga. Dua tahun berikutnya yakni 2017 ada sembilan kotak kosong.

“Tahun 2018 ada 16. Yang paling parah di tahun ini. Dari total 270 wilayah yang melaksanakan pemilihan kepala daerah, ada 34 bumbung kosong. Sehingga, calonnya sendirian melawan kotak kosong,” jelas Prof Sukowiyono.

Kondisi seperti itu lanjutnya, sejujurnya lebih berat. Ia beralasan lawannya bukan orang. Sehingga tidak bisa dinilai kecacatan atau kelebihannya. Sehingga pemilih tidak banyak pertimbangan. Di saat tidak cocok dengan calon yang ada, maka akan memilih kotak kosong.

“Melawan kotak kosong, saya kira malah semakin berat. Bumbung kosong, tidak bisa di nilai, karena tidak ada cacatnya. Kan bukan orang,” paparnya.

Kendati demikian ia memahami situasi itu lantaran sesuai putusan MK, No 100/puu-XIII/2015.

“Ketika calon kalah dengan kotak kosong, ini yang repot lagi. Maka akan diulang, kan biaya lagi,” lanjut Rektor Unidha ini.

Kondisi seperti itu menurutnya, sangat Ironi. Sebagai negara demokrasi yang jumlah Partainya banyak, namun tidak mampu melahirkan kader yang mumpuni.

“Di negara kita banyak partai politik. Tapi kadang calonnya bukan dari kader sendiri. Malah mengusung calon dari luar partai. Ya kadernya sendiri malah tidak mendapat kesempatan. Jadi selain parpol kurang bisa melahirkan kader, bisa juga karena “mahar” politik yang mahal. Jadi, yang mempunyai modal besar, bisa ikut mencalonkan meskipun di luar kader,” pungkasnya.

Ia berharap, fenomena bumbung kosong tidak terus bertambah. Minimal harus dua pasang calon. Masyarakat juga harus berpartisipasi dalam agenda Pilkada, dengan mengambil hak suaranya.


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

TERBARU

Garda Puti Soekarno Total Menangkan Kelana-Astutik

SIDOARJO,- Garda Puti Soekarno Relawan Puti Guntur Soekarno, total memenangkan pasangan calon bupati dan wakil bupati Sidoarjo, Jawa Timur, Kelana - Astuti. Tim yang tergabung...

Hari Terakhir Masa Kampanye Astutik Janjikan Infrastruktur Yang Layak

SIDOARJO,- Dwi Astutik menjanjikan pembangunan jalan yang layak. Ia menegaskan selama masa kepemimpinannya tak satu pun jalan di wilayah itu yang dibiarkan rusak. Penegasan ini...

KASN Menilai Masa Tenang Rawan Pelanggaran Bagi ASN

JAKARTA, - Tahapan Pilkada akan memasuki masa tenang selama tiga hari, yakni pada 6-8 Desember 2020. Komisioner Aparatur Sipil Negara (KASN) menilai rentang waktu...

Cabup Kelana Aprillianto Lepas Sepeda Santai

SIDOARJO, Calon Bupati (Cabup) Sidoarjo, Jawa Timur Kelana Aprillianto, melepas sepeda santai yang digelarKelana center di Posko Pemenangan Kelana-Astutik Desa Kepuh Kemiri Tulangan, Jumat...

Dewan Minta KPU Kabupaten Malang Perhatikan Limbah Khusus APD di setiap TPS

MALANG - Komisi IV DPRD Kabupaten Malang, meminta KPU Kabupaten setempat memperhatikan limbah khusus Alat Pelindung Diri (APD) di setiap Tempat Pemungutan Suara (TPS),...

Menakar Pemenang Pilkada TTU dari Pemetaan Basis Pemilih

Catatan : Hiro Bifel - Kupang TAHAPAN pemungutan suara Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pilkada) di Indonesia pada Desember 2020 yang digelar secara serentak untuk daerah-daerah...

Bupati Bone Resmikan Mesjid Kis Firdaus

BONE, - Bupati Bone, Andi Fashar Padjalangi meresmikan masjid Kis Firdaus di Dusun Cempalagi Desa Mallari Kecamatan Awangpone Kabupaten Bone, Sulsel, Rabu (2/12). Masjid tersebut dibangun...

Kelana – Dwi Astutik Punya Solusi Atasi Kemacetan di Aloha dan Gedangan

SIDOARJO,- Pasangan calon bupati dan wakil bupati Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur Kelana - Dwi Astutik berjanji bisa mengatasi kemacetan lalulintas di sekitar Aloha dan...

Namanya Disinggung Dalam Debat, Calon Petahana Tersulut Emosi

MALANG, - Debat publik yang diikuti tiga pasangan calon bupati dan wakil bupati, diwarnai aksi saling "menghujat". Debat diselenggarakan KPUD Kabupaten Malang, Jawa Timur,...

Dipolisikan Atas Dugaan Pelecehan, Oknum Pejabat di Bone Mengaku Sakit

BONE, - Seorang pejabat di UPT Samsat Bone, Sulawesi Selatan berinisial Ati kini bermasalah dengan tindak pidana dugaan pelecehan seksual. Ati pun terpaksa harus...