Jaring Minat Mahasiswa Asing, IBU Perluas Akses ke Luar Negeri

Mahasiswa asing di IBU (Foto: Humas IKIP Budi Utomo)

Malang, Zonanusantara.com – Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP Budi Utomo) atau akronim dengan IBU Malang, Jawa Timur aktif membuka akses seluas luasnya dengan bangsa lain. Aktifitas seperti ini menjadi bagian dari cara IBU mempromosikan diri ke negara lain.

Alhasil 10 tahun terakhir sedikitnya terdapat 80 orang mahasiswa asing yang berasal dari Asia dan Eropa yang kuliah di IBU. Total jumlah negara yang ada perwakilan mahasiswanya di sini sebanyak 30 negara. Beberapa negara di antaranya sebut saja di sini Italy, German, Laos, China, Bangladesh, Thailand, Philippines dan lain-lain (lihat grafik data mahasiswa asing)

Data mahasiswa asing di IKIP Budi Utomo Malang (Foto: Humas IKIP Budi Utomo)

Kehadiran mahasiswa asing menjadi tantangan tersendiri bagi kampus yang memiliki dua gedung utama yakni di jalan Simpang Arjuno 14- B, dan di jalan Citandui 46. Mahasiswa yang kuliah di kampus Jalan Arjuno adalah mahasiswa dari Fakultas Pendidikan Ilmu Eksakta dan Keolahragaan (FPIEK serta mahasiswa program magister (S2).

Mahasiswa fakultas lainnya mengikuti perkuliahan di kampus yang berlokasi di jalan Citandui Malang. Di dua gedung ini terdapat mahasiswa asing.

Fakta ini memberi pesan mahasiswa asing tertarik pada program program studi yang ditawarkan oleh IBU. Sebagaimana mahasiswa asal Thailand, Ateekoh Khareng. Ia tertarik mengambil program studi Bahasa Indonesia dan Sastra lantaran tertarik dengan budaya Indonesia.

Selengkapnya saya deskripsikan secara utuh fakultas fakultas yang ada di IBU beserta program-program studi (Prodi).

IBU memiliki dua Fakultas dengan tujuh program studi (prodi). Antara lain Fakultas Pendidikan Ilmu Eksakta dan Keolahragaan (FPIEK) dan Fakultas Pendidikan Ilmu Sosial dan Humaniora (FPISH) dan Pasca Sarjana.

Sementara untuk prodi terdiri dari Pendidikan bahasa Inggris, Pendidikan bahasa Indonesia, Pendidikan Ekonomi, Pendidikan Sejarah dan Sosiologi, Pendidikan Matematika, Pendidikan Biologi dan Pendidikan Olahraga.

Proses perkuliahan berlangsung di dua tempat. Fakultas Pendidikan Ilmu Eksakta dan Keolahragaan (FPIEK) dan Pasca Sarjana S2, di jalan Simpang Arjuno 14- B, sementara Fakultas Pendidikan Ilmu Sosial dan Humaniora mengikuti perkuliahan di jalan Citandui 46.

Beberapa mahasiswa asing di IBU (Foto: Humas IKIP Budi Utomo)

Representasi mahasiswa asing yang berbaur bersama mahasiswa Indonesia yang berasal dari berbagai daerah menjadikan kampus tersebut perlahan tapi pasti mulai merambah era globalisasi. Hadirnya mahasiswa asing yang menjadikan IBU sebagai pilihan adalah gambaran sekilas bagaimana upaya pihak rektorat mempromosikan kampus ini ke belahan dunia.

Rektor IBU, Dr Nurcholis Sunuyeko, Msi menjelaskan bagaimana strategi untuk menarik mahasiswa dari luar negeri untuk bisa kuliah di IBU.

Pertama ia mengaku menggandeng media sebagai patnert. Strategi Kedua adalah membuka seluas luasnya komunikasi dengan relasi di sejumlah negara, terutama Asia dan Eropa Timur. Rektor Nurcholis menyebut beberapa negara seperti Jerman, Perancis dan Amerika Serikat.

Hal yang paradoksal. Mengapa tidak. Negara negara tersebut sangat maju di dunia pengetahuan dan teknologi. Presiden Soekarno sendiri dalam sebuah kesempatan mengatakan kejarlah ilmu sampai ke negeri Cina. Sebuah pemaknaan, membangun optimisme hingga ke luar negeri. Atau, dengan kata kata indah lain, gantungkanlah mimpi mimpimu setinggi langit. Kalau pun nanti jatuh, engkau akan jatuh di antara bintang bintang.

Kalimat tersebut bermakna ganda. Satu sisi, kita perlu belajar dari perkembangan negara negara maju. Di sisi lain, negara negara lain pun penting belajar dari peradaban negara berkembang termasuk Indonesia. Selain melalui kerjasama dalam bidang ekonomi pun dalam bidang pendidikan dan kebudayaan. Berlaku prinsip timbal balik atau simbiosisme mutualis.

Rektor IBU telah melakukan langkah langkah strategis, membangun dan memperluas akses dengan negara lain termasuk membangun komunikasi secara intens dengan Departemen Luar Negeri. Selain instansi tersebut, Nurcholis mengaku membangun akses dengan Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi.

Mahasiswa asing di IBU (Foto: Humas IKIP Budi Utomo)

Hasilnya meski belum bisa dikatakan gemilang, namun untuk saat ini tujuan rektor membawa kampusnya disejajarkan dengan kampus lain di dunia, kian menampakan hasilnya. Ibarat menanam kita tidak mungkin memanen hasil seketika.

Investasi ke arah ini telah dilakukan. Menyongsong era milenium atau yang disebut revolusi industri 4.0 pun telah dilakukan. Era ini menjadi kompetensi tersendiri bagi Pendidikan Tinggi di Indonesia. Sebagai gambaran revolusi industri 4.0 adalah peralihan tenaga manusia ke sistem digitalisasi. Semua pekerjaan akan diambil alih tehnology.

Penemuan awal revolusi industri pertama ditemukan di Inggris dan Jerman. Dengan industri ini segala sesuatu akan bermuara pada sistem komputerisasi. Kecerdasan buatan manusia melampaui kemampuan manusia yang menemukan industri itu sendiri.

Di dunia perdagangan bisnis digitalisasi kini merambah negara negara di Asia. Khusus di Indonesia terdapat Tokopedia, Traveloka, Bukalapak, Gojek. Inilah contoh kecil mengenai virus digitalisasi yang kini merambah dunia termasuk negara kita.

Lalu apa relevansinya dengan revolusi industri 4.0 dunia Pendidikan Tinggi? Kampus sebagai tempat kaderisasi. Mahasiswa adalah agen dari suatu perubahan.

Karena itu, kampus atau lembaga pendidikan tinggi dituntut untuk menyesuaikan perkuliahan dengan perkembangan dan tuntutan zaman. Sistem digitalisasi merupakan keniscayaan di era milenium saat ini. Kampus harus berada pada tataran tersebut.

IBU sendiri telah mengambil langkah sejak dini. Bahkan boleh dikatakan sebuah lompatan. Belum lama ini IBU mengirim tujuh mahasiswa untuk magang di Thailand. Selama satu bulan di negeri gajah putih tersebut para mahasiswa magang ini akan melakukan bakti sosial selain berdiri di depan kelas dan mengajar.

Mahasiswa magang ke Thailand foto bersama rektor (Foto: Humas IKIP Budi Utomo)

Rektor Nurcholis pengiriman mahasiswa ke Thailand wujud dari kerjasama yang telah digagas IBU dengan negeri gajah putih tersebut. Bahkan ia mengklaim ini merupakan kloter pertama. Ke depan negara lain yang menjadi tujuan magang berikut adalah Hongkong. Jumlah mahasiswa akan bertambah menjadi 10 orang.

Proses magang akan terus ditingkatkan sesuai kesepakatan yang tertuang dalam konsep kerjasama dengan negara tujuan.

Salah satu peserta kloter pertama magang di Thailand adalah Eka Akhmaliatul Janah. Menariknya Eka demikian ia disapa baru duduk di semester III prodi Bahasa dan Sastra jurusan Bahasa Inggris. Eka mengaku bangga bisa terpilih menyisihkan 48 peserta lainnya yang ikut seleksi ke Thailand.

Anak kedua dari dua bersaudara ini mengaku akan memanfaatkan kesempatan ini sebagai ajang untuk mempromosikan IBU di Thailand juga sebagai bakti kepada kedua orangtuanya yang memberikan kesempatan untuk kuliah di IBU.

Kepala Pusat Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat IKIP Budi Utomo Malang, Rochsun mengatakan hingga saat ini mahasiswa yang kuliah di IBU jumlahnya kurang lebih 8 ribu. Dari jumlah tersebut 25 diantaranya adalah mahasiswa asing yang masih aktif kuliah di IBU, sementara mahasiswa lainnya telah selesai kuliah dan kembali ke negara asalnya masing masing. Tenaga dosen yang ada berjumlah 200 orang.

Animo mahasiswa asing yang kuliah di IBU disertai kompetensi secara global menjadi pertimbangan untuk menaikkan status IBU menjadi universitas.

Hal tidak sulit dan hanya menunggu waktu, apalagi pada 2016, IBU telah mendapatkan Sertifikat Akreditasi dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi. Didasarkan pada keputusan BAN-PT nomor : 1025/SK/BAN-PT/Akred/PT/VI/2016. Sertifikat akreditasi itu berlaku hingga 17 Juni 2021.

3 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here