Kisah Unik Pebisnis Barang Antik

Kisah Unik Pebisnis Barang Antik

Kisah Unik Pebisnis Barang AntikOleh : Yosef Naiobe

Menjual barang antik dengan cara membeli dari pedagang (kolektor) lain atau langsung dari pemilik barang antik butuh kewaspadaan ekstra. Selain barangnya langka, unik dan kuno, juga rawan terhadap penipuan.

Itulah sebabnya, kenapa tidak banyak orang berminat menggeluti bisnis berisiko ini. Disebut berisiko lantaran antara penjual dan pembeli jarang bertemu muka. Barang yang diperdagangkan pun diketahui hanya melalui postingan di media sosial. Modalnya kepercayaan, sebab bisa saja orang iseng.

“Setelah uang dikirim jangankan barang. Pemiliknya pun susah dihubungi,” aku M. Cholil yang mengaku tiga kali mengalami nasib apes.

Pengalaman pahit ini dialami suami dari Ika H. sekitar tahun 2008. Salah seorang yang mengaku ingin menjual barang antik. Setelah uang ditransfer, pemiliknya susah dihubungi. Pengalaman seperti ini lebih dari satu kali.

Jenis barang – antik yang diburu para kolektor antara lain, Gramaphone HMV made in England tahun 1937. Lalu Gramaphone Stehle made in Jerman tahun 1916, Gramaphone Parlophone Jerman tahun sekitar 1938.

Selain itu, ada berbagai jenis radio tabung yang diproduksi 1942 hingga 1965. Misalnya, Radio tabung Jawell (Jerman), Telefunken (Jerman), Siegfried (Jerman), Philips (Holland), BRAUN (Jerman), Ralin (Holland), Grundig (Jerman) dll. Disamping itu juga tedapat ratusan radio transistor keluaran era 1969, seperti Telesonic, Philips, National dll

Kisah Unik Pebisnis Barang Antik
Phonograph (Koleksi Pribadi)

Barang – barang tersebut kini dipajang di Galery Bangho, Malang, Jawa Timur, sementara barang antik lain harus dipesan melalui mitra bisnis (kolektor) barang antik di Bandung maupun daerah lain. Pemesan pun beragam. Tidak saja dari dalam negeri namun juga dari Luar Negeri.

Baca Juga :  Kejuaraan Karate Festival dan Open Turnamen Piala Kemerdekaan RI Diharapkan Jadi Sport Tourism

Menurut M. Cholil, ia pernah menjual Pathé Freres Phonograph model nomor empat, kepada salah seorang pembeli di Bahrain,  dengan harga miring. Hanya Rp 26 juta. Padahal jika dijual saat ini mencapai ratusan juta.

“Saat itu aku jual Rp 26 juta. Karena butuh uang, ya aku jual  murah,” ujarnya.

Ayah dua anak putra dan putri, Wahyu Saputra, M Rizky F dan Aninda Rizky mengungkapkan barang antik yang dijual Label Pathe buatan Paris pada tahun 1890. Sata itu kata Cholil, Pathe menjadi distributor terbesar silinder dan piringan hitam  yang paling sukses di Perancis, dan produk mereka seperti gramaphone, phonograph berhasil dijual di  berbagai negara seperti Amerika Serikat, Inggris , Jerman , Italia , dan Rusia .

Pathe adalah perusahaan pertama untuk membuat master rekaman di Perancis  dalam media yang berbeda dari produk komersial akhir dalam studio rekaman Pathe , master lagu dipotong pada silinder yang berputar cepat berukuran sekitar 13 inci panjang dan 4 ½ inci , silinder berputar cepat memungkinkan untuk tingkat yang lebih besar untuk keseimbangan audio .

Disebutkan pula, berbagai jenis silinder Pathe komersial kemudian dijuluki mesin pantographed dari master ini  dan pada tahun 1914 , setelah itu label Pathe berkembang dan membuka cabang di America.

Baca Juga :  Terlibat Kasus Perzinahan Anggota Powan dan Oknum DPRD Diamankan Polisi

Desember 1928, aset phonograph Pathe Perancis dan Inggris dijual ke British Columbia Graphophone Perusahaan. Juli 1929, aset dari American perusahaan rekaman Pathe digabung menjadi  Amerika Corporation.

Kisah Unik Pebisnis Barang AntikLabel Pathe – Amerika Corporation  sampai sekarang masih bertahan sebagai jejak dari EMI Record yang biasa kita temui di label Kaset atau CD hingga kini dan sampai sekarangpun jejak Phonograph Pathe menjadi salah satu phonograph Collector item mengingat tingkat sejarah yang sangat pendek untuk label PATHE Phonograph dan diproduksi sangat terbatasa akibat terhambat perang dunia ke 1 ditambah keadaan politik pada masa itu yang mengakibatkan tingkat produksi terhambat dengan bahan baku yang sangat mahal dan langka.

M.Cholil yang juga berprofesi sebagai wartawan ini mengatakan ia menekuni barang langka ini sekitar tahun 1996 namun baru dijalani secara serius belakangan ini. Meski harganya menggiurkan, namun alumnus Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan Budi Utomo Malang ini acapkali harus merogoh kocek untuk memperbaiki graphophone yang rusak. Jika sudah normal, satu graphophone dibanderol Rp 30 hingga 35 juta tergantung jenisnya.

Tetap Terhubung
Ikuti Zonanusantara.com untuk mendapatkan informasi terkini.

Related posts