Kolaborasi ICRAF dan Pemerintah Kabupaten Bone, Perkuat Kurikulum Pangan Lokal untuk Ketahanan Iklim

d1ffe08c 3c7c 47a4 9e2c ed4d0bcccc5d - Zonanusantara.com
Kepala Bappeda Bone Dr. Ade Fariq Ashar, SSTP., MSi, Sekretaris Dinas Pendidikan Drs Nursalam MPd selaku Narasumber, Beta Lusiana dari ICRAF Bogor dan Koordinator ICRAF Sulsel Muhammad Syahrir

BONE–Hotel Helios menjadi saksi dari kolaborasi yang berarti antara International Center for Research in Agroforestry (ICRAF) dan Pemerintah Kabupaten Bone dalam mengadakan lokakarya yang bertujuan untuk meningkatkan kapasitas dan pengarusutamaan kurikulum pangan lokal, Selasa, 6 Februari 2024, . Acara ini bertujuan untuk mengintegrasikan materi pangan lokal ke dalam kurikulum muatan lokal (Mulok) sebagai langkah strategis dalam meningkatkan ketahanan iklim di Kabupaten Bone.

a813ae0f 052c 4e8f 8d3c 9ef939f0e5a0 - Zonanusantara.com
Para Peserta Lokakarya untuk Peningkatan Kapasitas dan Pengarusutamaan Kurikulum Pangan Lokal

Lokakarya ini menjadi momen penting bagi Kabupaten Bone, yang menunjukkan komitmen mereka dalam menghadapi tantangan perubahan iklim dengan pendekatan yang berbasis pada kearifan lokal dan edukasi yang berkelanjutan. Salah satu langkah konkret yang diambil adalah dengan memasukkan mata pelajaran tentang pangan lokal ke dalam kurikulum muatan lokal (Mulok), yang diharapkan dapat membantu meningkatkan pemahaman masyarakat akan pentingnya memanfaatkan sumber daya lokal untuk menjaga ketahanan pangan dan lingkungan.

Read More

Keputusan untuk mengembangkan kurikulum Mulok Pangan Lokal untuk Ketahanan Iklim melalui Keputusan Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Bone nomor 043 tahun 2024. Tim pengembang kurikulum ini dipimpin oleh Sekretaris Dinas Pendidikan Nursalam, yang didukung oleh para guru dari berbagai tingkatan pendidikan di Kabupaten Bone. Keterlibatan para guru sebagai anggota tim pengembang menunjukkan komitmen yang kuat dari pihak pendidikan dalam mendukung inisiatif ini serta memastikan bahwa kurikulum yang dikembangkan benar-benar relevan dan efektif dalam meningkatkan pemahaman siswa tentang pentingnya pangan lokal dalam menjaga ketahanan iklim.

Lokakarya hari ini diharapkan dapat menjadi titik awal yang baik dalam perjalanan Kabupaten Bone menuju ketahanan iklim yang lebih baik melalui pendekatan yang berbasis pada kearifan lokal dan kolaborasi antara berbagai pihak terkait. Langkah-langkah konkret seperti ini menjadi tonggak penting dalam upaya global untuk menghadapi tantangan perubahan iklim dan memastikan keberlanjutan sumber daya alam bagi generasi mendatang.

Baca Juga :  Sharing Session UNISMA, Cak Imin: Siap Diundang Kampus Manapun

Sekretaris Dinas Pendidikan Kabupaten Bone, Drs. Nursalam, M.Pd, mengungkapkan bahwa sebuah inisiatif penting telah diambil untuk meningkatkan pemahaman masyarakat tentang peran vital pangan lokal dalam menghadapi perubahan iklim. Kurikulum mulok yang menitikberatkan pada pangan lokal sedang dikembangkan sebagai langkah konkret dalam rangka merespons kebutuhan mendesak ini.

Langkah ini dianggap sebagai bagian penting dari upaya bersama untuk memberdayakan komunitas dalam menghadapi dampak perubahan iklim yang semakin terasa. Rincian mengenai kurikulum tersebut dibahas secara mendalam dalam lokakarya bertajuk “Peningkatan Kapasitas dan Pengarusutamaan Kurikulum Pangan Lokal untuk Ketahanan Iklim”, yang diadakan pada tanggal 6-7 Februari 2024 di Hotel Helios, Watampone.

Lokakarya dua hari tersebut bertujuan untuk mencapai kesepahaman bersama dan merumuskan tujuan bersama dari para pemangku kepentingan terkait dengan target-target dan langkah-langkah pengarusutamaan materi Pangan Lokal untuk Ketahanan Iklim.

Dalam pengembangan kurikulum ini, Dinas Pendidikan Kabupaten Bone bekerja sama dengan ICRAF Indonesia, yang berperan sebagai fasilitator. ICRAF saat ini tengah melaksanakan proyek Land4Lives di Sulawesi Selatan, dengan salah satu tujuan utamanya adalah mengidentifikasi dan mengamati potensi pangan lokal sebagai kunci dalam menghadapi perubahan iklim.

Langkah ini tidak hanya diharapkan dapat meningkatkan pemahaman masyarakat tentang pentingnya pangan lokal, tetapi juga memberikan landasan yang kuat bagi ketahanan iklim di wilayah Kabupaten Bone.

Betha Lusiana, fasilitator dari ICRAF Indonesia mengatakan Pangan lokal sangat berperan dalam mengatasi masalah rawan pangan akibat krisis iklim. Dari integrasi kurikulum ini, harapannya anak-anak mampu memahami pentingnya pangan lokal untuk melawan rawan pangan dan belajar melestarikan pangan lokal mereka.

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Bone, Ade Fariq, menegaskan bahwa pengembangan kurikulum pangan lokal memiliki peran krusial dalam membangun fondasi yang kokoh untuk meningkatkan kualitas hidup dan ketahanan pangan di wilayah tersebut.

Menurut Ade, Pemerintah Kabupaten Bone meyakini bahwa pendidikan merupakan kunci utama dalam mencapai tujuan tersebut. Oleh karena itu, pemanfaatan nilai-nilai pangan lokal dalam kurikulum pendidikan formal dianggap sebagai langkah berani menuju masa depan yang lebih berkelanjutan.

Ade menjelaskan bahwa pada awal tahun ketiga pelaksanaan program oleh International Centre for Research in Agroforestry (ICRAF) di Kabupaten Bone, terjadi koordinasi antara Dinas Pendidikan untuk membahas strategi terkait isu perubahan iklim. Hari ini, upaya dilakukan dengan pertukaran saran terkait mata pelajaran muatan lokal dalam konteks ketahanan pangan lokal untuk menghadapi tantangan perubahan iklim.

Baca Juga :  Pantau Logistik untuk Kesiapan Pemilu di Kabupaten Bone, Danrem 141/Tp: TNI dan Polri Siap Bantu Distribusi Logistik

Lebih lanjut, Ade menyampaikan bahwa Undang-Undang Nomor 6 menjadi landasan penting, di mana desa yang memiliki ketahanan pangan dianggap sebagai indikator kemajuan. Desa Ketahanan Pangan menjadi fokus perhatian dan akan didukung oleh Pemerintah Desa, kolaborasi APBD, APBN, dan Dana Desa. Ade yakin bahwa program lintas sektor ini menjanjikan hasil yang positif.

Dalam konteks integrasi mata pelajaran muatan lokal, pemerintah Kabupaten Bone berusaha memastikan keberadaan regulasi yang mendukung langkah ini. Upaya mendorong pemanfaatan lahan kosong sebagai tempat pelatihan dan edukasi ketahanan pangan untuk siswa, serta memanfaatkan pekarangan kecil guna menekan inflasi cabai dan tomat, menjadi bagian dari strategi yang dijalankan.

Ade menekankan bahwa masyarakat Bone sudah memahami pentingnya pangan lokal, namun pemanfaatannya belum optimal. Contohnya, di daerah Ulaweng dan Amali, terjadi pengundulan gunung untuk pertanaman jagung. Oleh karena itu, perlu adanya upaya edukasi yang lebih intensif, terutama bagi anak perempuan.

Pengalaman inovatif yang pernah dilakukan oleh Dinas Pendidikan Kabupaten Bone menjadi inspirasi bagi inovasi di tingkat kabupaten. Adanya pola pelatihan yang efektif perlu dipertahankan dan direplikasi ke wilayah lain.

ICRAF yang hanya hadir di tiga lokasi di Provinsi Sulawesi Selatan, dengan Kabupaten Bone sebagai satu-satunya lokasi, menjadi peluang besar untuk penyebaran inovasi yang berhasil dilakukan. Terlebih, dengan pelatihan yang telah dilakukan di 12 desa, kesuksesan dalam bidang pendidikan, seperti gerakan untuk mengembalikan anak putus sekolah, menjadi bukti konkrit dari potensi kolaboratif yang ada.

Ade juga mengungkapkan tiga hal yang perlu dipertahankan, pertama, upaya mempertahankan ketahanan pangan yang disesuaikan dengan karakteristik masyarakat setempat; kedua, memastikan aksesibilitas ketahanan pangan yang mudah diakses tidak hanya bagi siswa, tetapi juga bagi guru; dan ketiga, upaya untuk mengendalikan inflasi. (*)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *