Foto : Pieter S

Jakarta zonanusantara.com Kepemimpinan adalah lapangan pelayanan kemanusiaan. Karena itu, kualifikasi dari seorang pemimpin pertama-tama adalah kemauannya untuk melayani orang lain, bukan memerintah orang lain. Pemimpin tidak terbatas pada tugas instruksional, tetapi memberi dirinya secara total kepada organisasi yang dipimpinnya. Itulah yang disebut kepemimpinan yang melayani (servant leadership).

Demikian benang merah gagasan yang disampaikan Rm. Dr. Rofinus (Roni) Neto Wuli dalam kotbah misa Jumat Pertama (Jumper) di Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo), Jumat (1/11) sebagai wujud syukur atas terpilihnya Johny G. Plate, SE sebagai Menteri Kominfo RI dalam Kabinet Indonesia Maju 2019-2024).

Menurut Rm Roni, konsep kepemimpinan yang melayani diperkenalkan pertama kali oleh Robert K. Greenleaf pada tahun 70-an dalam bukunya yang berjudul, “Servant as a Leader.” Namun gagasan tersebut sudah berakar sejak zaman dahulu kala. Yesus, Sang Guru Agung sendiri yang mengajarkan dan mempraktekan konsep kepemimpinan yang melayani.

Dalam Matius 20: 25-28 Yesus menegaskan, “Kamu tahu bahwa pemerintah-pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi dan pembesar-pembesar menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka. Tidaklah demikian di antara kamu. Barang siapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barang siapa ingin menjadi yang terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu; sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang”.

Penegasan Yesus tentang kepemimpinan yang melayani, kata Rm. Roni sudah cukup meringkas apa yang dimaksudkan oleh Yesus tentang kepemimpinan yang melayani. Yesus tidak sedang berteori, tetapi Dia sungguh-sungguh mempraktekannya secara nyata. Dia menyembuhkan orang sakit, memberi makan ribuan orang lapar, menyapa orang berdosa dan termarjinal dengan penuh kasih, mengajar tentang kebajikan dan bahkan membangkitkan orang mati. Pengorbanan Yesus yang paling tinggi adalah menyerahkan nyawa-Nya untuk tebusan bagi banyak orang.

Kepemimpinan Yesus yang melayani tersebut hendaknya menjadi spirit yang senantiasa menyuntikan energi baru bagi pa Johny G. Plate dan jajarannya di Kemkominfo dalam mewujudkan kemaslahatan masyarakat atau yang dalam konteks gereja Katolik disebut bonum commune (kebaikan umum).

Rm. Roni optimis Menteri Kominfo yang baru, Johny G. Plate mampu melaksanakan amanah yang dipercayakan Presiden Joko Widodo untuk memimpin Kemkominfo. Rekam jejak perjalanan karir dan kompetensi serta dialectical skill yang sudah teruji selama ini akan menjadi jaminan bagi Johny G. Plate dalam melaksanakan tugasnya.

Sebelum doa umat dan persembahan Rm. Roni secara khusus mendoakan dan memberi berkat kepada Menteri Johny G. Plate dan Sekjen Kemkominfo ibu Rosarita Niken Widiastuti Rm. Roni menyerahkan Rosario merah-putih yang merupakan titipan dari Kardinal Prof. Dr. Ignatius Suharyo Hardjoatmodjo, Uskup Keuskupan Agung Jakarta. Dia juga meminta seluruh umat Katolik untuk mendoakan Menteri Kemenkominfo yang baru agar sukses dalam melaksanakan tugasnya ke depan.

Sementara itu, Johny G. Plate dalam sambutannya sebelum berkat penutup mengapresiasi gagasan kepemimpinan yang melayani sebagaimana disampaikan Rm. Roni dalam kotbatnya. Kepemimpinan yang melayani, kata Johny adalah nilai universal (universal value) yang ditujukan kepada semua orang pada level jabatan atau posisi apapun, tidak ditujukan kepada orang tertentu.

Sebagai orang Katolik, lanjut Johny, nilai universal yang diwariskan oleh Sang Guru Agung Yesus Kristus harus menjadi pijakan dan panduan dalam menghayati panggilan hidup agar menjadi berkah bagi yang lain.

Johny menggarisbawahi bahwa dirinya adalah pembantu Presiden Joko Widodo untuk mewujudkan visi-misinya di bidang komunikasi dan informatika.

Johny menyadari, bahwa tantangan yang dihadapi Kementerian yang dipimpinnya ke depan tidak ringan. Kemajuan teknologi informasi yang begitu pesat berdampak luar biasa dalam kehidupan manusia zaman ini.

“Saat ini kita sedang bermigrasi dari dunia fisik ke dunia maya dalam bidang apa saja. Untuk itu dibutuhkan sumber daya manusia (SDM) yang mumpuni di bidang teknologi informasi yang disebut digital talent. Saat ini Indonesia membutuhkan sekitar 123 juta digital talent dan kita hanya mampu menciptakan 104 juta digital talent. Masih ada kekurangan sekitar 9 juta digital talent dan itu harus dicari pada negara-negara lain yang menyediakannya,” ujar Johny.

Johny mengajak seluruh ASN di lingkungan Kemkominfo untuk meningkatkan kerja sama dan kerja keras untuk menyiapkan digital talent yang dibutuhkan, bukan hanya jumlahnya tetapi juga kualitasnya.

“Mari kita bergandengan tangan dan mengerahkan seluruh energi serta sumber daya yang ada agar teknologi informasi yang kian canggih membawa manfaat bagi kemakmuran dan kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia,” tegas Johny

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here