HomeHukum & KriminalPotret Dua Anggota Polisi yang Berhasil Ungkap Kasus GENGRAPE

Potret Dua Anggota Polisi yang Berhasil Ungkap Kasus GENGRAPE

Dua anggota Polisi yang mendapat penghargaan dari Komnas PA (Andi M)

 

Jakarta,zonanusantara.com – Hari ulang tahun Bhayangkara tahun ini menjadi momentum terindah dalam perjalanan dua anggota Polsek Pagedangan. Sehari setelah perayaan HUT Bhayangkara, dua anggota Polsek, AIPDA M. Sopiyan Hadi dan Bripka Syahrul Ramadhan mendapat perhargaan dari Kompas Perlindungan Anak Komnas (PA)

Wajah sumringah dan bahagia terpancar dari raut wajah keduanya saat menerima plakat penghargaan dari Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) di Polres Tangerang Selatan.

Ya, tanda penghargaan itu diberikan langsung oleh Ketua Komnas PA Arist Merdeka Sirait sebagai bentuk apresiasi Komnas PA terhadap kedua anggota Polsek Pagedangan ini karena berhasil mengungkap kasus kekerasan seksual terhadap gadis belia OR (15) hingga meninggal oleh delapan pria di wilayah Pagedangan Sabtu (13/6).

Kasus kekerasan seksual terhadap anak memang bukan hal baru, namun kasus pemerkosaan bersama-sama ini atau disebut GengRAPE dianggap kejahatan luar biasa. Bahkan ironisnya lagi, korban meregang nyawa pasca kejadian tersebut.

Begitu kasus ini mencuat berdasarkan laporan LP/226/K/VI/2020/S jajaran unit Resort Kriminal (Reskrim) Kepolisian Sektor (Polsek) Pagedangan dengan sigap menangani kasus ini. Kepala tim Buser Polsek Pagedangan AIPDA M. Sopiyan Hadi bersama Anggota Reskrim Polsek Pagedangan Bripka Syahrul Ramadhan bekerjasama melakukan penangkapan terhadap tujuh tersangka.

Mereka akhirnya berhasil meringkus tujuh tersangka tersebut Fikri Fadhilah alias Cedem, Sudirman alias Jisung, Denis Endrian alias Boby, Anjayeni alias Anjay, Rian, Dori, dan Diki. Satu pelaku masih Daftar Pencarian Orang (DPO) diketahui masih di bawah umur berinisial RY (16).

Atas usahanya yang gigih mengungkap kasus ini dengan segala daya dan upaya dilakukan, AIPDA M. Sopiyan Hadi dan Bripka Syahrul Ramadhan dihadiahi penghargaan oleh Ketua Komnas PA Arist Merdeka Sirait.

AIPDA M. Sopiyan Hadi kepada awak media menuturkan bahwa Polisi merupakan garda terdepan dalam pemberantasan kejahatan seksual terlebih lagi anak di bawah umur.

“Sudah menjadi tugas dan tanggungjawab kami menuntaskan kasus ini. Kami bekerja semaksimal mungkin menangkap para pelaku. Meskipun banyak tantangan alhamdulillah upaya kami membuahkan hasil,” tutur pria yang pernah menjabat sebagai Banit 32 Unitidik Satreskrim Polres Tangerang Selatan Polda Metro Jaya 2015.

Bripka Syahrul Ramadhan menjelaskan, empat tersangka Cedem, Jisung, Boby, dan Anjay diamankan pada 14 Juni di rumah tersangka masing-masing di Desa Cihuni Kecamatan Pagedangan, Kabupaten Tangerang.

Sementara tiga tersangka lain, Rian,
diamankan di, Desa Cihuni, Dori ditangkap di Pamulang sementara
Diki di Desa Jati Nunggal, Mekar Sari Sumedang, Kabupaten Tangerang. “Kami berkoordinasi dengan kepolisian setempat untuk melakukan penangkapan,” tuturnya.

Syahrul sedikit menceritakan pengalaman menyeramkan ketika menangani kasus ini. Sebelum menuntaskan kasus ini ia merasa bahwa arwah korban sempat mendatanginya di rumahnya dengan aroma comberan yang pekat saat maghrib hari dimana korban dimakamkan. Meski tidak menampakkan diri, korban seakan memberi isyarat agar Syahrul menolongnya dan mengungkap kasus tersebut.

“Waktu itu keluarga mencium bau aneh kayak bau lumpur, kemudiam saya bergegas untuk sholat. Awalnya saya ragu untuk menangani kasus ini karena seharusnya diambil alih oleh Polres Tangsel, tapi setelah kejadian malam itu saya bertekad untuk menangkap pelaku,” tuturnya.

Syahrul menceritakan kronologis kasus ini, pada awal April 2020 terjadi perkenalan antara Cedem dengan korban (OR 15 Tahun Pondok Jagung Tangsel) melalui di media sosial yaitu Facebook lalu berpacaran di dunia maya.

Pada Sabtu 18 April 2020 sekitar pukul 01.00 WIB, Cedem menjemput korban dan membawa korban ke rumah Jami yang beralamat di RT 04 RW 04 Desa Cihuni Kecamatan Pagedangan.

Sesampainya di dalam rumah Jami, Boby Anjay, Rian, Dori dan Diki sudah ada dirumah Jisung dimana sebagian pelaku ada di dalam rumah dan sebagian ada diluar rumah.

Kemudian, korban meminta Pil Kuning (Pil Excimer) sebelum melakukan persetubuhan dan juga meminta uang Rp100.000,- per Orang untuk bisa menyetubuhinya. Atas permintaan tersebut kemudian Jami keluar untuk membeli Pil Excimer lalu sekitar 20 menit kemudian Jami telah kembali lagi dengan membawa tiga butir Pil Excimer.

Selanjutnya Pil Excimer tersebut Cadem berikan kepada korban dan langsung diminum tiga butir sekaligus.

Setelah meminum Pil Excimer tersebut, kelihatan korban mabuk dan bicara ngelantur (bicara kacau), kemudian pelaku dan teman-teman pelaku menyetubuhi korban secara bergiliran.

Akibat kejadian tersebut korban mengalami sakit dan pada 26 Mei 2020 di bawa ke rumah sakit khusus jiwa Darma Graha Serpong, dan diambil paksa oleh keluarganya pada 9 Juni 2020 ketika kondisi korban masih sakit diambil paksa pada 26 Mei 2020 oleh keluarga untuk dirawat di rumah kemudian meninggal dunia pada 11 Juni 2020.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img

TERBARU