- Foto : Deni
Jeritanku
Oleh : Riessa
Cinta, sudah lama aku berkelana,
Kini aku kembali
Dengan niat hati
Ingin menjagamu
Cinta, sudah lama aku berkelana
Apakah tak ada rindu di hatimu untukku?
Apakah tak kata ada kangen yang terselip dalam sanubarimu
Cinta, kini kau berubah
Hatimu
Sifatmu
Tutur katamu
Semua bagaikan mimpi buruk untukku
Cinta, tiga tahun yang lalu aku pergi
Semua karena aku ingin kau bahagia
Semua karena aku ingin kau tenteram
Semua karena aku ingin kau lebih sehat
Cinta…
Kumohon maafkan aku
Maafkan semua salahku
Jangan kau simpan dendammu
Kumohon dengan segenap hati
Maafkan semua salahku
***
Kebahagiaan
Oleh : Riny Aur
Tersenyumlah….
Karena senyum bisa menopengi
kedukaan,
Kau akan menderita jika melihat kesengsaraan di wajahmu
Tertawalah….
Karena itu mampu mengusir derita,
titisan luka pasti mengalir pada hati yang menderita.
Yakinlah…
Keesokan hari kau akan memadu kasih, bercerita tentang bahagia
Kau akan tertidur dalam pelukan angkasa,
Kau akan menemukan kebahagiaan yang nyata
***
Untukmu Pertiwiku
Oleh : Hendrika LW
Ibu,
Aku tanam bunga melati di tanah ini
Tanah lapang yang subur
Di kala fajar menyingsing,
aku terkagum menyaksikannya
Elok rupawan sungguh memesona
Kuntum melati,
Mewangi semerbak ke seluruh pelosok negeri
Kupetik sekuntum demi sekuntum
Kurangkai menjadi bentangan persada Ibu Pertiwi
Di atas tanah lapang ini,
Aku berpijak dalam beragam kisah
Tentang anak cucu,
tentang generasi bangsa
Tentang pahlawan yang menjadi saksi sejarah
Tentang cinta seorang ibu
yang terus mengembang
Tak pernah meredup
dan tak akan pernah lekang
meski badai menerjang
Setiap senja adalah nyanyian semesta alam
Adalah batas cerita tentang pesona
Tentang malam pekat menyelimutimu
Tentang mimpi-mimpi yang menghadirkan sebuah negeri yang elok.
Kala gerimis turun perlahan,
di antara bunga melati
Aku menebar doa dan harapan
Agar pelangi terus mewarnai persada ini
Dalam rentangan waktu demi waktu Kusaksikan senyumanmu merekah
Bersama semburat fajar
Dalam kilatan cahaya yang memberi kehangatan dan kehidupan
Ibu,
Adakah air matamu menyuburkan tanah tandus ini?
Tanah yang berujung dari Timur ke Barat tak lagi kering kerontang dan kami beria-ria di atasnya
Kami menamai tanah ini
Sebagai Firdaus yang nyata
Warisan para kstaria yang terus menebar panji keperkasaan
Ibu Pertiwi,
Negerinya para dewa
Aku ingin hatimu rimbun berhias melati,
Bermahkotakan cinta tiada akhir
Dan sejarah akan terus menceritakannya pada anak cucu kelak
***
Pejuang Sejati
Oleh Kimberly Harefa
Mengadu di bawah sinar rembulan
Dengan peluh beralas ketakutan
Ia terlahir tanpa sebuah kesepakatan
Dari rahim yang berselimut penyesalan
Bayangan pahit kembali menghantui
Sekujur tubuhnya menegang tiada henti
Sadar bahwa raganya tak direstui
Ia terima penolakan serta caci dan maki
Nafasnya naik turun menahan tangis
Memecah keheningan malam yang sunyi
Matanya menerawang jauh, menangkap pedih
Mengharuskannya berjuang seorang diri
Teringat saat kaki menyapu debu jalanan
Berteriak dengan suara parau menjajakan koran
Mengambil selembar uang dan memberi senyum simpul pada pengendara
Demi sebuah lapar yang tak tertahan
Ia kembali pulang
Mencoba menata ulang
Penerimaan yang semakin hilang
Berharap berubah meenjadi hati yang riang
Ia tersadar
Bersandar pada tiang harap
Mengusap pipi yang sedari tadi basah
Oleh rintihan langit malam
Pagi pun datang
Ia berkemas, berlari menuju harapan
Berharap ibu dan ayah memeluk erat
Jika mereka melihatnya menjadi pemenang
Bibirnya tak henti bergumam
Dalam derasnya masa kelam
Ialah sang pejuang sejati
Melangkah walau harus tertatih
#HanyaKataKim
6-5-20





