HomeSastraPuisi akhir Pekan

Puisi akhir Pekan

Ist

Semesta sedang berduka


OlehKimberly Harefa

Semesta sedang berduka
Lagi-lagi meratapi kepulangan
Karena jutaan tubuh melemah
Berpasrah pada virus yang semakin merajalela

Beribu pasang mata menatap langit
Berharap hujan turun sebagai pelipur lara
Juga sebagai kawan pengusir sepi
Kala bosan terkadang menjadi bayang

Berpulanglah, Corona
Jangan gemar menyakiti
Anak yang rindu kampung halaman
Dan ayah ibu yang masih giat mencari nafkah

Banyak yang menjadi korban
Pun juga berkorban
Di garda terdepan
Karena hati mereka penuh rasa kepedulian


Tersiar kabar seorang pejuang
Yang mengabdi pada tugasnya
Ia telah gugur dalam perang
Bersama buah hatinya tercinta

Terdengar pilu
Seperti sayatan seorang penyamun
Semua berkabung
Pikiran pun kalut

Kami rindu semesta berjabat tangan
Berdamai sebagai sesama ciptaanNya
Bukan lagi histeris ketakutan
Serta menjatuhkan air mata

Bersama-sama kita lambungkan doa
Juga menaati aturan yang diberlakukan
Untuk saling menjaga jarak
Agar tak ada lagi yang berjatuhan

Sebentar lagi datangnya hari Kemenangan
Semoga mampu melawan
Dan kita rayakan dengan ketenangan
Tanpa rasa yang berdebar

Semoga senyum itu kembali ada
Semesta

#HanyaKataKim
18-5-20

***

Dimanja

Hendrika LW

Malam- malam ibu membeli sate kambing kesukaanku. Setelah aku merengek-rengek. Seharian tak mau makan masakan ibu. Tidak enak, kataku. Dengan sepeda jengki biru, ibu ke warung Mang Dani yang berjarak satu kilometer dari rumah.

Semata wayang, membuatku merasa seenaknya. Seperti ritual pagi. Mogok sekolah, karena uang jajan kurang. Ibu mesti pontang-panting mencari pinjaman tetangga untuk menambah uang sanguku. Sekolah yang pinter ya, Nak. Itu pesan ibuku setiap hari. Sampai bosan mendengarnya.

Setiap hari ibu mengambil dagangan kue dari Bu Sri, dijajakan sampai ke kantor kelurahan. Kadang aku mengambil sesukaku. Ibu diam saja. Aku sering membantah bila ibu minta dibantu. Ibu pun diam. Hari itu aku sial, apes. Baru pertama kali beraksi menjambret di pasar, sudah tertangkap. “Ini gara-gara ibu, Pak. Ibuku membiarkan aku seenaknya. Jadi aku tak tahu salah dan benar.” Ibuku kembali hanya menangis, bercucuran air mata tanpa berkata-kata.


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here


TERBARU