Yosef Falentinus : Antara Timor dan Jakarta

Yosef FALENTINUS, DK S.IP, MA

Jakarta, Zonanusantara.com Hari – hari belakangan ini, masyarakat di Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Nusa Tenggara Timur (NTT), menyita perhatian publik. Ya, itu tiada lain, daerah yang berbatasan langsung dengan Negara Timor Leste itu, akan menyelenggarakan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) pada 2020.

Sejumlah kandidat, mulai mendaftar melalui partai politik yang ada. Sesuai ketentuan perundangan, calon kepala daerah memang harus diusung partai politik atau koalisi partai politik, atau calon independen.

Riuh politik mulai rame di perbincangkan masyarakat, baik di kebun, maupun di perkantoran, baik oleh elit politik, cerdik pandai, atau bahkan masyarakat di pelosok. Eforiah pesta demokrasi lima tahunan ini benar benar menjadi magnet yang menarik  perhatian khalayak.

Di antara Sejumlah kader atau putra daerah yang disebut bakal maju di Pilkada TTU, salah satunya, Yosef Falentinus. Putra Insana kelahiran Wini 10 Pebruari 1977 ini juga memiliki obsesi untuk kembali dan berbakti kepada tanah kelahirannya. Apalagi selama ini ia bergulat di ibukota, Jakarta dan bahkan sempat melanglang buana ke berbagai negara dalam menjalankan tugas negara.

Keinginan untuk pulang kampung, sudah lama dirindukannya. Melalui  Pilkada, menurutnya ini waktu yang tepat agar bisa merealisasikan kerinduannya. Akan tetapi, Falen demikian ia di sapa belum bisa mengambil keputusan.

Alumnus Akademi Militer, 1999 ini mengaku harus berpikir secara matang sebelum mengambil keputusan. Menurutnya, mengambil sebuah keputusan tidak boleh gegabah,  apalagi hanya terdorong oleh hasrat untuk sekedar mencari kekuasaan.

“Sejatinya saya ingin kembali. Ada pemberontakan (konflik) batin melihat TTU, yang dari waktu ke waktu tak pernah ada perubahan,” ujarnya dalam acara ngopi bareng media, di Sarinah Jakarta, belum lama ini.

Suami dari Adinda Winantuningtyas ini mengaku sedang mengemban tugas negara yang harus dituntaskan dan tak bisa diabaikan begitu saja. Ia beralasan tugas tersebut berkaitan dengan misi kemanusiaan.

Sayangnya, ayah dari Dominggas Queen Juanina Dacosta Kebo, ini enggan menjelaskan secara rinci tugas negara yang dimaksud. Meski demikian Falen kerap menceritakan perihal bantuan sosial yang ditanganinya. Misalnya, bantuan kepada korban gempa bumi di Donggala, dan daerah lain di Indonesia, termasuk Aceh.

“Ini misi sosial berkaitan dengan hajat hidup orang banyak,” urai Falen sedikit membuka tabir di balik misteri tugas berat tersebut

Ketua Umum Kirab Remaja ini menjelaskan bantuan sosial lainnya adalah memberikan beasiswa di sejumlah daerah, atau bantuan perpustakaan keliling. Bahkan dalam waktu dekat ia pun merencanakan untuk membantu sumur bor di beberapa daerah NTT.

Dengan sedikit merendah, Falen yang mengbil keputusan pensiun dini dari dunia militer (TNI) pada 2018 ini merasa bahagia bila menyaksikan bagaimana ekspresi kebahagiaan yang sama dirasakan oleh orang yang menerima bantuannya.,

Ketika menyinggung Pilkada TTU, Falen seperti sedang meminang waktu yang terbaik. Yang pasti jiwanya digadaikan untuk daerah kelahirannya. Ia pun berobsesi mempertaruhkan seluruh kemampuan dan pengalaman yang  dimiliki untuk membangun daerah, jika diberi mandat oleh rakyat.

Waktu terus berotasi. Pergumulan di antara rona kehidupan politik praktis di daerah mayoritas petani ini terus menggeliat. Falen berada di antara pusaran waktu tersebut. Tekad untuk membangun kampung halamannya, begitu kuat dan membuncah di antara rutinitas kesibukannya di Jakarta.

Memilih pulang kampung atau menerima tawaran menjadi pejabat teras di negeri ini, ibarat meneguk anggur merah. Sama – sama menikmati.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here