Aksi Baksos 3000 Kantong Sampah, Kadis DLH Bone Dorong Perubahan Mindset Masyarakat: Sampah Bisa Jadi Sumber Penghasilan Jika Dikelola dengan Benar

Aksi Baksos 3000 Kantong Sampah, Kadis Dlh Bone Dorong Perubahan Mindset Masyarakat: Sampah Bisa Jadi Sumber Penghasilan Jika Dikelola Dengan Benar
Didampingi Kabid Tata Lingkungan Andi Habibie, ST., M.Si, Kadis Lingkungan Hidup Kab. Bone Dray Vibrianto, SIP., M.Si memberikan keterangan Pers dalam kegiatan Gerakan 3000 Kantong Sampah di Wiri Tasi Kelurahan Bajoe
Aksi Baksos 3000 Kantong Sampah, Kadis Dlh Bone Dorong Perubahan Mindset Masyarakat: Sampah Bisa Jadi Sumber Penghasilan Jika Dikelola Dengan Benar
Kabid Tata Lingkungan Dinas Lingkungan Hidup Bone Andi Habibie, St., M.si Memastikan Sampah-Sampah Dari Gerakan Bakso 3000 Kantong Sampah Terangkut Dengan Baik

BONE–Dalam semangat kolaborasi dan kepedulian lingkungan, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bone, Dray Vibrianto, SIP., M.Si, didampingi oleh Kabid Tata Lingkungan Andi Habibie, ST., M.Si, turun langsung ke lapangan dalam aksi gerakan bakti sosial bertajuk 3000 Kantong Sampah yang diselenggarakan pemerintah Kecamatan Tanete Riattang Timur di Wiri Tasi Kelurahan Bajoe Kamis, 01 Mei 2025. Namun, lebih dari sekadar kegiatan bersih-bersih, kehadiran mereka membawa pesan penting: persoalan sampah bukan hanya tugas pemerintah, tetapi tanggung jawab bersama.

“Masalah sampah ini sebenarnya adalah masalah kolektif. Selama ini kita mengira ini hanya tugas pemerintah, padahal tanpa perubahan mindset masyarakat, kita tidak akan menyelesaikan persoalan ini,” tegas Dray Vibrianto di tengah aktivitas pembersihan di kawasan padat penduduk.

Baca Juga :  Mengawali Hari dengan Peduli Lingkungan, Bupati Bone Cek Sampah di Tiga Kelurahan, Angkut Sampah Bersama Petugas Kebersihan

Ia mengungkapkan bahwa salah satu tantangan terbesar adalah kebiasaan masyarakat yang menyimpan dan membuang sampah di bawah rumah. “Kurangnya pendekatan membuat mereka terbiasa. Ini yang harus kita ubah,” ujarnya.

Volume sampah yang diangkut dalam kegiatan ini tak main-main—mencapai 20 hingga 30 ton. Sebuah angka yang mencerminkan betapa pentingnya upaya terpadu dalam penanganan sampah, terlebih di kawasan yang disebut masuk kategori kumuh.

Namun, DLH Bone tak ingin berhenti pada penanganan sesaat. Mereka tengah menggagas pendekatan berbasis pemberdayaan dan ekonomi sirkular. Salah satunya dengan mengarahkan masyarakat agar dapat memperoleh penghasilan dari sampah. “Kalau lebih banyak sampah organik, kita akan bina mereka melalui program margok. Untuk anorganik, seperti plastik, kita hubungkan dengan Perusda dalam pembuatan paving blok,” jelasnya.

Baca Juga :  IAI Bone Wujudkan Apoteker Tangguh dan Beretika Melalui Pelatihan Kepemimpinan

Sebagai langkah taktis, penggunaan incinerator juga dipertimbangkan sebagai solusi cepat dalam pengurangan volume sampah. Tapi, bagi DLH Bone, kunci utamanya tetap terletak pada kesadaran masyarakat.

Aksi ini bukan sekadar momentum bersih-bersih, tetapi awal dari gerakan perubahan. Gerakan yang mengajak semua elemen untuk tidak hanya membersihkan lingkungan, tapi juga menjadikannya sumber nilai dan keberlanjutan hidup. (*)

Tetap Terhubung
Ikuti Zonanusantara.com untuk mendapatkan informasi terkini.

Related posts