BONE– Tak semua pemimpin lahir dari kemudahan. Sebagian justru ditempa dari keterbatasan, kesederhanaan, dan kerja keras tanpa henti. Itulah potret perjalanan hidup Sainal Abidin, S.Sos, sosok Aparatur Sipil Negara (ASN) yang memulai karier dari titik paling bawah sebagai penjaga sekolah, hingga akhirnya dipercaya mengemban amanah sebagai Camat Sibulue, Kabupaten Bone.
Pelantikan dan pengambilan sumpah jabatan Sainal Abidin sebagai Camat Sibulue dilaksanakan pada Rabu, 31 Desember 2025, bertempat di Aula Lateya Riduni. Prosesi sakral tersebut dipimpin langsung oleh Bupati Bone, H. Andi Asman Sulaiman, S.Sos., MM, dan disaksikan oleh Wakil Bupati Bone Dr. H. Andi Akmal Pasluddin, MM, serta Pj. Sekda Bone H. A. Saharuddin, S.STP., M.Si.
Sainal Abidin lahir di Apala, 16 Agustus 1972. Ia merupakan anak kedua dari enam bersaudara, dari pasangan almarhum Ahmading DM dan ST. Rabiah DM. Terlahir dari keluarga yang sangat sederhana dan kurang mampu, Sainal kecil telah terbiasa dengan kehidupan penuh keterbatasan, namun sarat nilai kejujuran dan kerja keras.
Pada 9 September 1999, ia menikah dengan Hasnawati Amin, dan dari pernikahan tersebut dikaruniai tiga orang anak yang menjadi sumber semangat dalam setiap langkah pengabdiannya.
Riwayat pendidikannya dimulai dari SDN 206 Apala (1979–1985), SMPN Barebbo (1985–1988), hingga SMAN 2 Bone (kini SMAN 3 Bone) (1988–1991). Tekad untuk terus belajar membawanya menempuh pendidikan tinggi di STKIP Muhammadiyah Bone meski tak selesai, sebelum akhirnya menamatkan studi di STIA PRIMA Bone (2004–2006) pada Jurusan Ilmu Administrasi Negara.
Karier ASN Sainal Abidin dimulai sebagai CPNS pada 1 Maret 2000, dengan pangkat Juru Muda Tk. I (I/b). Ia ditugaskan sebagai Pelaksana Urusan Tata Usaha sekaligus Penjaga Sekolah di SLTPN 1 Sibulue, dititipkan di SLTPN 4 Sibulue, dengan gaji pokok 80 persen yang kala itu hanya sekitar Rp120 ribu. Sebuah angka yang jauh dari kata cukup, namun tak pernah mengendurkan semangat pengabdian.
Melalui ketekunan dan loyalitas, Sainal Abidin perlahan menapaki jenjang kepangkatan. Ia resmi menjadi PNS pada 1 Oktober 2001, lalu terus mengalami kenaikan pangkat dari I/c, II/a, hingga III/b. Sekitar 18 tahun, ia mengabdikan diri di SMPN 4 Sibulue, menjadi saksi bisu perjalanan panjangnya dari penjaga sekolah hingga staf administrasi berpengalaman.
Pada Desember 2018, ia dimutasi ke Kantor Lurah Biru, Kecamatan Tanete Riattang. Kariernya semakin berkembang ketika pada 15 Januari 2021, ia dipercaya menjadi Lurah Apala, Kecamatan Barebbo. Jabatan ini menjadi titik penting dalam perjalanan kepemimpinannya di tingkat pemerintahan kelurahan.
Kepercayaan kembali diberikan saat ia dimutasi sebagai Sekretaris Camat Mare pada 25 September 2023, hingga akhirnya mencapai pangkat Penata Tk. I (III/d) per 1 Oktober 2025.
Puncak dari perjalanan panjang tersebut ditandai pada 31 Desember 2025, ketika Sainal Abidin resmi dimutasi dan dilantik sebagai Camat Sibulue. Sebuah amanah besar yang bukan hanya mencerminkan capaian karier, tetapi juga bukti bahwa dedikasi, kesabaran, dan integritas tak pernah mengkhianati hasil.
Kisah Sainal Abidin adalah cermin bahwa keterbatasan ekonomi bukanlah penghalang untuk mengabdi dan berprestasi. Dari penjaga sekolah dengan gaji minim hingga menjadi camat, perjalanannya menjadi inspirasi bagi banyak ASN dan generasi muda di Kabupaten Bone bahwa kerja keras, kejujuran, dan ketulusan adalah jalan terbaik menuju kepercayaan dan kehormatan.
Sebelum mengenakan seragam Aparatur Sipil Negara (ASN), perjalanan hidupnya ditempa oleh ombak dan angin laut. Sekira empat tahun lamanya, sejak 1 Januari 1995 hingga 1999, ia menjalani kehidupan sebagai anak buah kapal (ABK) di kapal berbantu layar—yang lebih dikenal sebagai kapal Bugis. Laut Jawa, Laut Kalimantan, hingga Laut Sumatera menjadi saksi bisu perjuangannya mencari nafkah sekaligus membentuk karakter hidup yang tangguh.
Di atas geladak kapal, jauh dari kampung halaman, justru tumbuh kecintaannya pada dunia literasi. Perjalanan panjang di laut dan kehidupan di tanah rantau mengalirkan inspirasi yang kemudian dituangkan dalam puisi-puisi tentang hidup, harapan, dan keteguhan hati. Menulis menjadi pelarian sekaligus penguat jiwa di tengah kerasnya kehidupan pelaut.
Kecintaan pada dunia tulis-menulis itulah yang kemudian mengantarkannya terjun ke dunia jurnalistik. Di akhir tahun 1999, ia mulai berkecimpung di media Lintas Sulawesi Group bersama kanda Edy Suspi, di bawah kepemimpinan Zainal Mufti. Tak berhenti di situ, ia juga berproses di salah satu media Fajar Group, yakni Fajar Pendidikan, hingga tahun 2012.
Perjalanan jurnalistiknya semakin matang ketika ia bergabung dengan organisasi kewartawanan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI). Pada tahun 2012, ia resmi bergabung dengan Harian Rakyat Sulsel (Fajar Group) dan mengikuti Uji Kompetensi Wartawan (UKW) dengan memilih jenjang Wartawan Muda. Hasilnya, ia dinyatakan lulus sebagai Wartawan Muda sebuah pencapaian yang menjadi kebanggaan tersendiri.
Namun jalan hidup membawanya pada persimpangan pilihan. Terbitnya Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2014 tentang ASN, beserta aturan turunannya seperti PP Nomor 11 Tahun 2017 tentang Manajemen PNS dan PP Nomor 49 Tahun 2018 tentang PPPK, secara tegas melarang rangkap jabatan serta penerimaan penghasilan ganda. Dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab, ia memilih mundur dari keanggotaan PWI dan hanya berperan sebagai Biro Harian Rakyat Sulsel di Kabupaten Bone dengan status penulis lepas.
Ada satu prinsip yang hingga kini terus dipegang teguh dalam pengabdiannya sebagai ASN: ASN adalah hamba negara, yang hakikatnya adalah pelayan masyarakat. Prinsip itu sejalan dengan falsafah hidup Bugis yang selalu mengiringi langkahnya:
“Pura babbara’ sompekku, pura tangkisik golikku, ulebbirenni tellennge nato’walie.”
Yang berarti, “Telah terkembang layarku, telah basah dayung dan kemudiku, maka lebih baik tenggelam (gagal) daripada kembali (mundur).”
Nilai-nilai luhur Bugis lainnya pun menjadi kompas moral dalam menjalankan amanah, seperti Sipakatau (saling memanusiakan), Sipakalebbi (saling menghargai), Sipakainge (saling mengingatkan), serta Siri’ na Pacce (menjaga harga diri dan solidaritas). Semua itu dipertegas dengan falsafah persaudaraan:
“Mali siparappe, rebba sipatokkong, malilu sipakainge”—jika hanyut saling menyelamatkan, jika jatuh saling menegakkan, jika lupa saling mengingatkan.
Tantangan terberat dalam menjalani peran sebagai pelayan masyarakat, menurutnya, adalah menjaga nama baik saudara dan keluarga. Terlahir dari keluarga yang sangat sederhana dan kurang mampu, ia dan saudara-saudaranya dididik dengan disiplin dan ketegasan. Kesederhanaan menjadi napas hidup, sementara keadilan, keramahan, dan kepatuhan pada akidah serta regulasi menjadi prinsip yang tak bisa ditawar.
Baginya, amanah adalah tanggung jawab besar yang harus dijaga dengan kejujuran dan ketulusan. Setiap tugas dijalani dengan berupaya mengikuti arahan dan petunjuk pimpinan, semata-mata demi kepentingan dan kesejahteraan orang banyak. Dengan semangat BerAmal, ia meyakini bahwa pengabdian yang tulus akan menjadi jalan untuk mewujudkan Bone yang Mandiri, Berkeadilan, dan Berkelanjutan.
Dari geladak kapal Bugis hingga lorong-lorong birokrasi, perjalanan hidupnya adalah kisah tentang keteguhan, pilihan, dan kesetiaan pada nilai. Sebuah pengabdian yang lahir dari kesederhanaan, ditempa oleh ombak, dan berlabuh pada amanah melayani masyarakat. (*)






