BONE–Pengurus Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kabupaten Bone di bawah kepemimpinan Muhammad Rusdi, S.Pd., M.Pd. memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-80 PGRI dan Hari Guru Nasional (HGN) Tahun 2025 dengan penuh khidmat melalui upacara pengibaran bendera merah putih di Lapangan Merdeka Watampone, Selasa (25/11/2025).
Pagi itu, Lapangan Merdeka dipenuhi lautan seragam para guru dari berbagai penjuru Bone. Di tengah semangat dan wajah-wajah penuh dedikasi, upacara dipimpin langsung oleh Wakil Bupati Bone, Dr. H. Andi Akmal Pasluddin, MM, yang bertindak sebagai Inspektur Upacara.
Sejumlah pejabat penting turut hadir, di antaranya Dandim 1407/Bone Letkol Inf Laode Muhammad Idrus, Perwakilan Danrem 141/Tp, Pj. Sekda Bone H. A. Saharuddin, S.STP., M.Si, para kepala OPD, kepala sekolah, serta pengurus PGRI cabang dan khusus se-Kabupaten Bone. Momen ini juga menjadi ruang silaturahmi bagi para purnabakti Dinas Pendidikan, seperti Drs. H. Taswin Arifin dan Hj. Andi Syamsiar Halid, S.Sos., M.Si., yang kembali hadir memberi dukungan moral bagi generasi guru penerus.
Wakil Bupati Bone menyampaikan ucapan selamat kepada seluruh guru dan keluarga besar PGRI. Ia menegaskan bahwa guru memegang peran kunci dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045, terutama melalui peningkatan kualitas pendidikan di tingkat dasar hingga menengah.
“Selamat Hari Guru dan HUT ke-80 PGRI. Harapan kita semua, kualitas guru semakin meningkat agar mampu melahirkan generasi yang semakin berkualitas. Indonesia Maju 2045 bisa kita wujudkan bila guru menjadi garda terdepan transformasi pendidikan,” ujarnya.
Andi Akmal juga menyinggung isu-isu strategis menyangkut dunia pendidikan, seperti kesejahteraan, perlindungan saat bertugas, serta perhatian pemerintah terhadap pemenuhan hak-hak guru.
Ia menegaskan bahwa Pemerintah Kabupaten Bone telah berkomitmen menuntaskan tunggakan pembayaran hak guru tahun sebelumnya. “Hak guru yang belum dibayarkan tahun lalu sudah kita tuntaskan sebesar 32 miliar rupiah. Tahun ini juga ada rencana dari Kementerian Keuangan untuk kembali membayarkan, meski dananya belum turun, tapi pemerintah daerah tetap berkomitmen,” jelasnya.
Menurutnya, PGRI dan pemerintah memiliki sistem dan peran masing-masing yang saling menguatkan dalam meningkatkan kapasitas guru. Apalagi saat ini dunia pendidikan tengah menghadapi perubahan besar, mulai dari hadirnya kurikulum baru hingga pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran.
“Pembelajaran berbasis teknologi menjadi keniscayaan. Guru harus siap. Pemerintah dan PGRI tentu akan terus mempersiapkan segala kebutuhan untuk mendukung kompetensi guru di era digital,” tambahnya.
Momentum perayaan HUT ke-80 PGRI dan HGN 2025 menjadi refleksi panjang perjalanan organisasi profesi guru tertua di Indonesia ini. Bagi PGRI Bone, peringatan tahun ini bukan sekadar seremoni, tetapi penegasan tentang peran strategis guru dalam mengawal perubahan.
Sementara itu, Ketua Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kabupaten Bone, Muhammad Rusdi, S.Pd., M.Pd, menegaskan pentingnya memperkuat solidaritas dan meningkatkan kompetensi guru sebagai kunci kemajuan pendidikan di Bumi Arung Palakka.
Menurut Rusdi, langkah pertama yang harus dijaga para pendidik adalah solidaritas, persatuan, dan kesatuan di antara seluruh guru di Kabupaten Bone. Dengan kebersamaan yang kuat, ia meyakini seluruh program pendidikan dapat berjalan lebih efektif.
“Yang paling pertama adalah meningkatkan solidaritas, persatuan, dan kesatuan di antara seluruh guru. Mari terus tingkatkan kompetensi kita masing-masing, bekerja dengan penuh kedisiplinan, dan menjaga kekompakan kita,” ujarnya.
Ketua PGRI Bone juga menekankan pentingnya kolaborasi antara PGRI, Dinas Pendidikan, dan Pemerintah Kabupaten Bone. Ia menyebut bahwa program-program PGRI disusun sejalan dengan kebijakan pemerintah daerah, khususnya peningkatan mutu pendidikan.
“Kami bekerja bersama pemerintah menjalankan seluruh program, termasuk pembinaan untuk guru. Harapan kami, hal-hal yang tidak diinginkan seperti kasus yang pernah terjadi di salah satu sekolah tidak terulang lagi,” jelasnya.
Rusdi turut menyinggung perkembangan RUU Guru dan Dosen yang saat ini tengah digodok di DPR. Ia menyampaikan bahwa regulasi tersebut diharapkan segera rampung sehingga mampu memperkuat posisi dan tugas para guru dalam menjalankan profesinya.
Ia memahami bahwa dalam praktik lapangan, guru kerap menghadapi dilema antara niat baik mendidik dan risiko mendapat sanksi akibat salah langkah.
“Tidak ada satu pun guru yang bertujuan merusak peserta didiknya. Semua demi kebaikan anak. Kadang niat baik itu bisa disalahpahami, tapi aturan nantinya akan lebih mempertegas perlindungan profesi guru,” tuturnya.
Rusdi menyebut bahwa kondisi kesejahteraan guru di Bone kini semakin membaik, seiring bertambahnya ragam tunjangan yang diterima. Mulai dari tunjangan sertifikasi, tunjangan penghasilan bagi guru non-sertifikasi, hingga tunjangan khusus guru di daerah terpencil.
“Alhamdulillah, guru-guru kita boleh dikata sudah semakin sejahtera dengan berbagai tunjangan yang ada,” tambahnya.
Sebagai bentuk keseriusan PGRI dan Dinas Pendidikan dalam mendorong profesionalisme guru, berbagai pelatihan dan penelitian terus dilakukan. Salah satunya adalah pelatihan digitalisasi pembelajaran.
Program ini disiapkan sebagai upaya mempercepat adaptasi teknologi sehingga para guru mampu menerapkan model pembelajaran yang sesuai dengan perkembangan zaman. “Mereka yang mengikuti pelatihan digitalisasi nantinya akan mengimplementasikan pengetahuan tersebut kepada guru-guru lain di Kabupaten Bone,” jelas Rusdi.
Di akhir penyampaiannya, Muhammad Rusdi menegaskan komitmen PGRI Bone untuk terus menjadi organisasi yang menjaga marwah profesi guru, memperjuangkan kesejahteraan, dan meningkatkan mutu pendidikan di daerah. (*)






