Paroki Mamsena berduka. Elias Ones, dirigen andalan dan pembina musik yang setia mengabdi selama puluhan tahun, meninggal dunia. Duka mendalam bagi umat Keuskupan Atambua.
Lama sekali kita tak pernah berjumpa. Waktu dan jarak telah menjadi pemisah yang tak pernah menjodohkan kita. Hari ini, angin membawa kabar duka: Elias Ones telah berpulang. Kabar yang menyesakkan hati, kabar yang tak pernah disukai oleh manusia.
Saya terdiam sejenak. Pada akhirnya menyadari: Kau telah menemukan jalan pulang, dan pulang untuk selamanya. Sampai di sini, perasaan duka cita mendalam menyelimuti.
- Ingat lagumu: Burung Dalam Sangkar
Tiba-tiba terngiang kembali di telinga, lagu Burung Dalam Sangkar yang pernah kau nyanyikan dalam acara perpisahan siswa SMP kelas 3, di tahun 80-an. Lagu yang kau nyanyikan puluhan tahun silam itu, kini menjadi nyata. Pusaramu adalah sangkar sucimu.
Sejak hari itu, semua teman seangkatan di SMP percaya bahwa kau memiliki darah seni yang otodidak. Sayang, langkah senimu terhenti karena kau lebih memilih mengabdi di paroki sebagai sekretaris. Namun namamu tetap tertoreh dalam tinta emas, sebagai pemimpin koor dan pembina musik di lingkungan se-Paroki Mamsena, Keuskupan Atambua – Timor.
Tidak ingat tanggal lahirmu
Lahir dengan nama Elias Ones, di sebuah kampung bernama Lansese, di pelosok Pulau Timor. Entah berapa usiamu saat Tuhan memanggilmu pulang. Kalau pun ada catatannya, pasti tak otentik. Karena di zaman kita, tanggal lahir adalah sebuah misteri yang tak pernah terungkap. Orang tua kita tahu kita dilahirkan, tapi lupa mencatat waktunya.
Itulah sebabnya, sepanjang hidup, kita tak pernah meniup lilin ulang tahun, apalagi menyanyikan lagu happy birthday.
Pak Eli, begitu kami menyapamu. Dari ujung barat Nusantara ini, saya hanya bisa mengirimkan doa. Dan itulah bentuk hadirku. Semoga doaku dan doa seluruh umat Paroki Mamsena menuntunmu menuju Surga yang abadi.
Selamat jalan, Maestro Kampung.






