Oleh : Oswin Pace Nule
Penggunaan Media sosial (medsos) termasuk Facebook sekarang ini sangat arak dikalangan masyarakat mulai dari anak-anak hingga orang dewasa. Interaksi sosial yang biasanya dilakukan secara langsung kini bahkan nyaris tergantikan oleh interaksi lewat medsos. Memang harus diakui bahwa medsos sangat berpengaruh.
Ada dua pengaruh medsos yakni pengaruh positif dan negatif. Pengaruh positif media sosial seperti yang Signifikan, termasuk memudahkan jaringan sosial dan komunikasi. Media sosial memungkinkan kita terhubung dengan orang-orang dari seluruh dunia, memperluas pertemanan dan relasi. Dampak negative utama meliputi gangguan mental seperti depresi dan kecemasan, kecanduan media sosial, Cyberbullying, kehilangan privasi, dan penyebaran informasi palsu.
Terhadap dua dampak media sosial diatas, saling terkait dan terikat karena merupakan hasil dari pengaruh dan dampak penggunaan. Namun tidak menutup kemungkinan ada dampak lain yang ditimbulkan bergantung dari cara penggunaan setiap orang.
Diberbagai daerah dan masyarakat dan Indonesia, memiliki pola dan cara penggunaan media sosial yang berbeda. Hal ini bergantung pada kultur, budaya dan latar belakang masyarakat. Dari cara penggunaan media sosial seperti ini, kemudian akan dianalisa menggunakan algoritma media sosial.
Untuk diketahui algoritma media sosial adalah sistem terstruktur yang digunakan dalam platform medsos seperti Facebook, Instagram, toktok, dan YouTube untuk menentukan konten mana yang ditampilkan kepada pengguna. Algoritma ini bekerja dengan menganalisis data pengguna, seperti interaksi (like, komen, share), histori penelusuran dan preferensi, untuk mempersonalisasi pengalaman pengguna dan menyajikan konten yang paling relevan.
Secara sederhana, algoritma media sosial berfungsi sebagai “Otak” yang mengatur alur infomasi di platform tertentu untuk menentukan konten apa yang dilihat oleh pengguna. Jadi algoritma bekerja untuk memastikan pengguna tetap terlibat dengan akun yang mendapat promosi. Dari penjelasan mengenai cara tujuan dan cara kerja algoritma diatas, maka kita suda bisa mengetahui, mengapa penggunaan media sosial sangat masif. Ternyata ada “otak”: algoritma, yang secara terselubung mengatur dan mengendalikan secara sistematis seluruh aktifitas di media sosial.
Penulis begitu mengakui kecanggihan teknologi yang luar biasa. Keadaan yang mutakhir ini akhirnya memacu penulis untuk mencari tahu bagaimana cara kerja algoritma di platform Facebook yang mampu menjebak banyak orang masuk dalam kendalinya. Untuk itu agar lebih konkrit penulis mengambil contoh penggunaan medsos masyarakat TTU.
Akhir-akhir ini masyarakat TTU dibuat heboh dengan akun Facebook bernama Mamud Regina Nule (MRN) karena konten di akun ini dianggap “nyentrik” dan tidak biasa. Dengan penampilan karakter yang apa adanya, jujur, realistis, dan bombastis alun ini berhasil menarik perhatian banyak orang. Bahkan mampu menguasai emosi dan perasaan para pengikutnya. Kalau tidak berlebihan bahkan akun MRN mendapat juluk ratu Facebook Pro. Komentar di setiap kontenya sangat ramai dan tidak jarang didalamnya terdapat kritikan tajam.
Saking viralnya, pemiliki akun MRN ini bahkan pernah mendapat surat teguran dari pastor paroki Oeolo kecamatan Mutis kabupaten TTU. Surat teguran ini dilayangkan kepada MRN karena alasan etika dari MRN terlalu mencolok dan dianggap tidak sesuai dengan norma kesopanan. Untuk surat teguran ini, penulis anggap bukan masalah justru perlu untuk diapresiasi sebagai bentuk kepedulian dan antisipasi yang positif dari pemimpin gereja terhadap umatnya.
Namun ada hal yang penulis perlu ingatkan kepada pengikut MRN agar tidak terlalu terobsesi dan terpancing emosi dengan dengan kelakuan MRN di setiap kontennya. Karena sebenarnya jika dikaitkan dengan cara kerja algoritma medsos (FB), sebenarnya akun MRN menjadi viral bukan semata-mata karena kelakuannya di konten. Akan tetapi ada peran algoritma yang turut bekerja membantu mempromosikan akunnya.
Bagi para pengikutnya tidak perlu terlalu tegang dengan kelakuan MRN karena MRN sendiri tidak bermaksud membuat pengikutnya tersinggung dan marah. Namun ia hanya mengikuti perintah algoritma yang sudah tersistem secara otomatis. Sederhananya kita harus dengan enteng menganggap bahwa itu hanya konten hiburan Saja. Kalaupun memang tidak sesuai dengan keinginan kita dan merasa itu melanggak etika, maka biarkan aturan FB yang bertindak untuk menegur MRN sesuai sistem dan prosedur yang berlaku.
Sebagai pengguna medsos yang bijak, kita mestinya sadar bahwa ini adalah “jebakan badman” yang di setting oleh algoritma yang sementara bekerja untuk mengendalikan selera dan emosi para pengguna. Kita tidak perlu menggerutu terhadap konten MRN karena itu dari kebebasan dia untuk berekspresi baik secara verbal dan gestural. Kesadaran ini yang ingin penulis bangun dengan tujuan agar kita semua tidak dibuat chaos/hancur oleh algoritma. Karakter algoritma itu adalah semakin kita penasaran dan terpancing dengan akun atau konten tertentu maka kita akan dengan mudah dikendalikan.
Jika diibaratkan, posisi MRN adalah sebagai artis dan managernya adalah Meta dan SOPnya adalah algoritma. Mereka saling bekerja sama untuk mendapatkan banyak pengikut dan penggemar untuk menaikan rating dan penghasilan. Jadi jika penampilan dari MRN dianggap terlalu mencolok tinggal di skip saja, tanpa kemudian harus menggerutu. Karena sama saja, komentar atau kritikan kita tidak akan lebih berpengaruh dari sistem algoritma.
Oleh karena itu dari seluruh keadaan ini, penulis ingin memberikan saran kita tidak perlu menaruh tendensi negatif yang berlebihan terhadap MRN. Sekali lagi kita sudah harus sadar bahwa MRN hanyalah “karyawan” FB Pro yang bekerja dibawa perintah Algoritma. Selagi MRN masih menjadi “karyawan” FB Pro maka kita sebagai pengikutnya tidak bisa menghentikannya karena bosnya bukan kita melainkan Meta. Jadi untuk itu berhentilah menghakimi MRN di media sosial. Biarkan dia berekspresi selagi itu tidak mengandung unsur menyerang pribadi atau golongan, baikan secara verbal dan gestural. Selalu bersikap positif dan bijaksana dalam bermedsos.
Menyadari batasan diri sendiri adalah karakter yang sangat mulia dan mampu menjamin terciptanya kondusifitas didalam kita berelasi baik secara langsung maupun tidak langsung. Ingat relasi kita jangan sampai dirusak oleh pengaruh teknologi karena relasi kita terhubung oleh dara bukan kabel (robotik).






