KEFAMENANU,- Bupati Timor Tengah Utara (TTU), Yosep Falentinus Delasalle Kebo, melangkah ke altar Gereja St. Petrus Kanisius Manufui untuk menyaksikan langsung 112 anak dari lima SD di Kecamatan Biboki Selatan menerima Sakramen Komuni Pertama, Minggu (22/6).
Momen sakral ini menjadi lebih dari seremoni, melahirkan refleksi mendalam tentang peran gereja sebagai penggerak spiritual dan sosial bagi masyarakat.
Romo Emanuel Bere Mau Pr memimpin misa dengan khidmat, mengingatkan bahwa Ekaristi bukan hanya simbol agama, tetapi sarana syukur, persekutuan, dan penguatan iman.
Kehadiran Bupati memperkaya makna liturgis tersebut, menegaskan bahwa pemerintah dan gereja turut dihadirkan sebagai pilar dalam memperkuat komunitas dan solidaritas lokal.
Bupati Falent menyatakan rasa bahagia bisa hadir di tengah umat dan menyaksikan prosesi Komuni Pertama.
Kehadiran sipil negara ini bukan sekadar kehadiran tokoh, tetapi sinyal dari pemimpin yang menghargai proses spiritual sebagai bagian dari fondasi membangun karakter anak-anak dan meningkatkan kohesi sosial.
Dalam kunjungannya, Bupati Falent menyampaikan dua kebijakan progresif. Fasilitasi pernikahan massal untuk pasangan lajang yang telah hidup bersama mengatasi hambatan adat dan ekonomi, serta sosialisasi layanan darurat 112. Langkah nyata ini tak hanya bicara iman, melainkan controllable action berbasis kebutuhan warga.
Pada momen yang sama, Bupati menyampaikan sikap tegas terhadap penyebaran ajaran agama baru yang “tidak sesuai UU” menggunakan bantuan sosial sebagai kedok.
Ia menegaskan Apabila ditemukan dan terbukti akan saya hentikan aktivitas dan menutup aliran tersebut. Pernyataan ini menegaskan komitmen menjaga kerukunan dan identitas agama yang selama ini menjadi elemen penting dalam kohesi NTT.
Komuni Pertama bukan sekadar prosesi keagamaan, melainkan ruang kolaborasi strategis antara pemerintah dan agama.
Bapak Bupati hadir bukan hanya untuk berdoa, tapi hadir sebagai agen penjembatan sinergi dari altar menuju kebijakan sosial konkret.






