KEFAMENANU,- Staf dari Yayasan Harapan Bangsa Lentera Mandiri (HBLM) yang berbasis di Bogor, Jawa Barat, yaitu Johanis Fredi Sine, meresmikan satu unit fasilitas MCK (mandi-cuci-kakus) berukuran 2,5 × 5 meter di lingkungan Gereja Sidang Jemaat Allah (Imanuel) Oepope, Desa Naob, Kecamatan Noemuti Timur, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Nusa Tenggara Timur (NTT).
Hadiri pada kesempatan itu Staf Yayasan HBLM Bogor, Johanis F. Sine, Titus Nathaniel Jaya, Kepala Seksi Bimas Kristen Kabupaten TTU, Penehas Batuk S.H, Ketua Wilayah 13 Kabupaten TTU, Ibu Pdt.Veronika A. Sumilat S.Th dan Gembala Sidang Jemaat Oepope, Pendeta, Serka Francisco Moniz.
Fasilitas MCK tersebut disediakan oleh HBLM dalam rangka meningkatkan kualitas hidup masyarakat setempat melalui perilaku hidup bersih dan sehat khususnya dalam pengelolaan sanitasi lingkungan.
“Karena dengan memperhatikan kesehatan lingkungan, otomatis akan berdampak pada kehidupan masyarakat selanjutnya di mana pola hidup semakin berubah dan semakin mengenal yang namanya kesehatan lingkungan yang standar,” ujar Sine setelah acara peresmian.
HBLM, yang berkantor di Bogor, Jawa Barat, digambarkan sebagai lembaga sosial-kemanusiaan yang fokus pada pengembangan desa tertinggal tidak hanya di NTT, tetapi juga di Provinsi Maluku (termasuk Ambon).

Program utamanya adalah agar masyarakat di daerah terpencil juga memiliki akses terhadap kesejahteraan yang lebih baik, sejajar dengan daerah lainnya.
Hingga saat ini, pembangunan MCK di Kabupaten TTU baru dilaksanakan di GSJA Imanuel Oepope. HBLM menyebut akan melakukan survei ke lokasi lain dan jika memungkinkan akan membangun fasilitas MCK tambahan.
Selain itu, yayasan tersebut juga berencana membangun sumur bor di lokasi yang sama, untuk menjamin akses air bersih bagi masyarakat Desa Naob.
“Titiknya sudah ada. Kita akan upayakan supaya bisa membantu sumur bor supaya masyarakat mengalami yang namanya tidak kesusahan air lagi mendapatkan air bersih,” tuturnya.
Investasi dalam fasilitas sanitasi seperti MCK dan sumur bor menunjukkan bahwa aspek higienitas bukan sekadar pembangunan fisik, tetapi juga kunci perubahan perilaku yang pada gilirannya dapat meningkatkan kesehatan masyarakat dan lingkungan.
Dengan memperbaiki sanitasi, potensi penurunan penyakit terkait kebersihan lingkungan meningkat, dan kualitas hidup warga bisa lebih layak.
Desa-desa seperti Naob di area NTT seringkali menghadapi tantangan infrastruktur dasar yang belum memadai. Kehadiran inisiatif seperti ini memberikan contoh bahwa intervensi kecil namun tepat sasaran bisa memberi dampak nyata.
Peresmian fasilitas MCK oleh Yayasan HBLM di GSJA Imanuel Oepope merupakan langkah nyata dan penting dalam meningkatkan akses sanitasi di wilayah terpencil NTT. Selain menyediakan sarana fisik, yang tak kalah penting adalah penguatan pola hidup sehat dan kesadaran lingkungan.
Dengan rencana lanjutan seperti sumur bor, program ini bisa membawa manfaat jangka panjang bagi warga Desa Naob dan sekitarnya.






