BONE–Suasana hijau menyambut setiap langkah di halaman belakang SMP Negeri 1 Watampone. Deretan tanaman lombok, tomat, pakcoy, dan sayuran lainnya tumbuh subur dalam petak-petak tertata rapi. Di balik keberhasilan ini, ada tangan-tangan kecil penuh semangat dan kepemimpinan inspiratif dari Muhammad Arfah, S.Pd., M.Pd., Kepala SMPN 1 Watampone.

Program Pertanian Masuk Sekolah (PMS) bukan sekadar slogan di sekolah ini. Di bawah kepemimpinan Arfah, program tersebut telah diimplementasikan secara nyata dalam bentuk Pengembangan Pekarangan Pangan Lestari (P2L) yang fokus pada tanaman hortikultura. Inisiatif ini tak hanya menjadi media pembelajaran praktis bagi siswa, tetapi juga menjadi ruang tumbuhnya kesadaran akan pentingnya Ketahanan Pangan sejak dini.
“Anak-anak bukan hanya belajar menanam, tapi juga merawat, memanen, dan memahami nilai ekonomis dari hasil pertanian mereka,” ungkap Muhammad Arfah.
Ia menjelaskan bahwa program ini dirancang agar siswa lebih dekat dengan alam dan memahami pentingnya pertanian berkelanjutan.
Melalui P2L, sekolah ini tidak hanya menghasilkan produk segar untuk konsumsi internal, tetapi juga menumbuhkan jiwa kewirausahaan siswa.
Lebih dari sekadar proyek sekolah, taman hortikultura SMPN 1 Watampone kini menjadi laboratorium hidup yang mengajarkan kolaborasi, tanggung jawab, dan cinta lingkungan. Keterlibatan para guru, tenaga kependidikan, hingga orang tua siswa membuat program ini hidup dan terus berkembang.
“Inilah pendidikan kontekstual yang kami harapkan. Anak-anak belajar tidak hanya dari buku, tetapi juga dari pengalaman nyata,” ujarnya.
SMP Negeri 1 Watampone telah membuktikan bahwa sekolah bisa menjadi pionir perubahan, bahkan dalam urusan pertanian. Lewat Program Pertanian Masuk Sekolah, mereka menanam harapan, memanen pengetahuan, dan menumbuhkan generasi yang peduli terhadap masa depan pangan bangsa. (*)






