BELU, NTT – Badan Nasional Pengelola Perbatasan Republik Indonesia (BNPP RI) melalui Tim Pelaksana Lapangan melaksanakan simulasi uji coba alur kendaraan angkutan barang ekspor-impor di Terminal Barang Internasional (TBI) Motaain. Kegiatan ini menindaklanjuti Surat Tugas Nomor 052-1/KRT.54.01/BNPP/XI/2025 tertanggal 11 November 2025.
Simulasi tersebut merespons hasil rapat BNPP dan Kementerian Perhubungan pada 6 November 2025, yang menghasilkan dua alternatif sirkulasi jalur kendaraan impor. Alternatif pertama mengharuskan kendaraan melewati gerbang keluar/masuk Kawasan PLBN kemudian kembali masuk menuju TBI. Alternatif kedua memanfaatkan jalur baru yang membutuhkan pembukaan pagar sebagai akses khusus kendaraan impor.
Pelaksanaan simulasi pada 13 November 2025 melibatkan sejumlah pihak, antara lain Direktorat Prasarana Transportasi Jalan dan Direktorat Lalu Lintas Jalan Kementerian Perhubungan, Asisten Deputi Lintas Batas Negara BNPP, Kantor Bea dan Cukai Atambua, Balai Karantina Satpel Motaain, dan Kantor Imigrasi Atambua. Hasil kegiatan dituangkan dalam Berita Acara Uji Coba Nomor BA-BPTD Kelas II NTT 36 Tahun 2025.
BNPP mencatat beberapa catatan dalam pelaksanaan simulasi :
Simulasi hanya dilakukan untuk Alternatif I, sehingga tidak menggambarkan perbandingan menyeluruh antara kedua alternatif yang telah disepakati.
Jalur simulasi berbeda dari rencana awal karena truk impor tidak dapat melewati jalur sempit yang ada. Dibutuhkan pembongkaran median sepanjang 15 meter agar kendaraan dapat bermanuver.

Kementerian Perhubungan mengharapkan pembongkaran median, pemasangan pelican crossing, serta rambu dan marka jalan dilakukan paralel jika Alternatif I dipilih. Namun, kondisi tersebut dinilai berisiko bagi keselamatan pelintas batas, terlebih sarana prasarana baru akan tersedia pada 2026.
Jarak manuver menuju TBI yang terlalu dekat dengan zebra cross dinilai berpotensi menimbulkan penumpukan kendaraan, terutama saat arus pelintas meningkat.
Peningkatan arus kendaraan juga berpotensi terjadi karena kendaraan asal Timor Leste tujuan transit Oecusse wajib diperiksa di TBI.
BNPP menilai permasalahan ini muncul karena pekerjaan lapangan tidak sepenuhnya sesuai dengan masterplan yang mengatur dedicated lane untuk arus kendaraan.
Alternatif II belum dapat disimulasikan karena pagar akses belum dibongkar. Namun, sejumlah catatan dari Bea Cukai Atambua telah disampaikan:
Kendaraan impor keluar dari kawasan pabean, sehingga dinilai perlu dilakukan penyegelan ulang.
BNPP menjelaskan, kondisi ini serupa dengan praktik pelayanan kendaraan impor saat ini, yang bahkan melakukan penimbunan barang di gudang luar kawasan pabean. Mengingat kendaraan impor sudah memiliki segel dari Timor Leste, penyegelan ulang dinilai tidak diperlukan.
Hal ini dapat diantisipasi dengan pengawasan ketat, termasuk menempatkan petugas keamanan di titik check-point dan beberapa ruas jalan.
BNPP telah mengusulkan pintu masuk impor baru berjarak 80 meter dari lokasi yang direncanakan pada Alternatif II. Usulan ini memungkinkan kendaraan impor langsung menuju jembatan timbang di TBI. Namun, usulan ini memerlukan pembongkaran pagar dan median jalan sepanjang masing-masing 10 meter.
BNPP menilai operasionalisasi TBI Motaain sangat penting karena menjadi pilot project bagi TBI pada PLBN lainnya. Sejumlah TBI baru dibangun jauh dari kawasan PLBN, sehingga isu kawasan kepabeanan dan alur kendaraan harus diselesaikan sejak awal sebagai model nasional.
Untuk TBI yang masih dalam tahap perencanaan dan berlokasi dekat PLBN, BNPP meminta Kementerian Perhubungan melakukan koordinasi intensif agar desain TBI selaras dengan masterplan PLBN.





