Dinamika Demokrasi Bagi Anak-anak Asrama Putera Paroki Santa Maria Fatima Betun

Dinamika Demokrasi Bagi Anak-Anak Asrama Putera Paroki Santa Maria Fatima Betun

Oleh : Fr. Efen Nule

Bagaimana konsep kebijaksaan sejati dan bagaimana manusia harus mengusahakan untuk bisa mendapatkan kebijaksaan itu? Dua pertanyaan penuntutn yang bisa membawa setiap manusia memahami eksistensinya sebagai mausia yang selalu mencari pengetahuan dalam dinamika hidupnya di dunia ini.

Sebagai makhluk yang selalu mempunyai hasrat untuk mencari pengetahuan, manusia tak henti-hentinya meluangkan waktunya untuk berusaha mencari cara bagaimana ia bisa mendapatkan pengetahuan itu sendiri.

Kehidupan manusia akan bermakna bilamana ia selalu mempunya hasrat untuk mencari pengetahuan bahkan di luar batas dan mejelajahi apa yang tidak ia ketahui sehingga dalam filsafat manusia dapat dikatakan sebagai homo curiosus.

Rasa ingin tahu dalam diri manusia tidak akan selesai selagi manusia masih mempunyai hasrat untuk berpikir dan bertanya tentang apa yang belum ia ketahui dalam kehidupannya. Dengan kata lain, manusia hanya akan berhenti mencari tahu jika ia sudah mengalami kematian.

Menanggapi persoalan-persoalan yang terjadi dalam kehidupan manusia, saya mencoba melihat salah satu persoalan yang hingga kini masih menjadi pembahasan yang belum selesai dibahas. Salah satu persoalan yang menurut saya menarik untuk dibahas adalah tentang Demokrasi di Indonesia.

Secara etimologis, demokrasi berasal dari bahasa Yunani(demokratia) yang terdiri dari dua kata yaitu demos yang berarti rakyat dan kratos yang berarti kekuasaan.

Dengan demikian, dapat kita ketahui jika kekuasaan tertinggi selalu berada di tangan rakyat sehingga kita dapat mengenal istilah demokrasi yaitu dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat sendiri. Rakyat mempunyai peran penting dalam pengambilan suatu keputusan dalam suatu kehidupan bernegara.

Dinamika kehidupan demokrasi di Indoneisa selalu menjadi fokus perhatian hingga saat ini. Esesnsi dari demokrasi selalu diuji setiap kali adanya PEMILU (Pemilihan Umum) di berbagai daerah atau negara, dimulai dari pemilihan Kepala Desa hingga pemilihan Kepala Negara (Presiden).

Di wadah PEMILU inilah eksistensi demokrasi diuji untuk diketahui bagaimana demokrasi menjadi suatu cara bagi manusia dalam bersuara. PEMILU menjadi lsalah satu locus bagi demokrasi bisa dilihat.

Selasa, 11 Februari 2025, tepatnya pkl. 20:00-21:00 wita, 35 siswa Asrama Putera Paroki Sta. Maria Fatima Betun melangsungkan proses pemilihan ketua asrama periode 2025-2026 secara demokrasi.

Baca Juga :  PJ. Bupati Bone Tekankan Netralitas Pendamping PKH, Peringatkan Jangan Manfaatkan Program untuk Keperluan Politik

Dalam proses pemilihan ini, terdapat 3 kandidat atau calon ketua asrama yaitu, Febriananus Anselmus Bau, Jemitrianus Seran Suri, dan Marianto Remon Bria.

Proses pemilihan ini diawali dengan doa pembuka dan dilanjutkan dengan pemaparan visa dan misi dari setiap calon ketua secara bergiliran. Pemaparan visi dan misi berjalan dengan baik karena setiap calon menunjukan kesungguhan mereka untuk menjadi pemimpin.

Setelah pemaparan visi dan misi, dilanjutkan dengan sesi tanya-jawab antara para audiens dan ketiga calon ketua asrama. Sesi tanya-jawab ini berlangsung sekitar 30 menit sebelum proses pemilihan dan pemungutan suara. Di dalam sesi tanya-jawab ini, para audiens memberikan pertanyaan yang sangat tajam bagi pada bakal calon ketua.

Pertanyaan-pertanyaan yang diberikan seperti apa strategi ang akan dipakai untuk merealisasikan visi dan misi yang telah dipaparkan? Bagaimana jika visi dan misi yang telah dipaparkan tidak dijalankan oleh para calon ketua sendiri?

Selain dua pertanyaan ini, masih ada beberapa pertanyaan yang bisa menggambarkan bagaimana anak-anak asrama menunjukan dinamika demikrasi yang cukup baik dan benar sehingga pada sesi ini, suasa begitu menegangkan karena masing-masing calon ketua memberi jawababn yang cukup mendalam dan juga sanggahan dari beberapa audiens yang membuat para calon ketua sedikit kerepotan untuk menjawab.

Setelah proses tanya-jawab, dilanjutkan dengan proses pemilihan calon ketua di mana para audiens menggunakan hak suaranya secara utuh adil dan jauh dari pengaruh-pengaruh nepotisme. Asas Pemilu, Luber Jurdi (langsung, umum, bebas, rahasia jujur dan adil), diterapkan atau dimanifestasikan dengan sangat apik dan sesuai apa yang diharapkan.

Asas Pemilu yang dipakai dalam proses pemilihan ketua asrama ini telah menunjukan bagaimana demikrasi menjunjung tinggi keadilan dan hak setiuap orang dalam menentukan hal pilihnya bagi setiap calon pemimpin setelah tercapainya proses pemilihan, dilanjutkan dengan proses pemungutan suara yang akhirnya terpilih ketua asrama yang baru yaitu Febrianus Anselmus Mau dengan perolehan 17 suara, disusul dengan Marianto Remon Bria dengan perolehan 10 suara, dan yang terkahir Jemitrianus Seran Suru dengan perolehan 8 suara.

Proses pemungutan suara berlangsung dengan tertib dan aman sehingga terlihat raut tawa bahagia dari para audiensmaupun ketua asrama yang terpilih.

Baca Juga :  Publik Sesalkan Sikap DLH Kota Malang atas Penolakan Peminjaman Senso

Proses pemilihan ketua asrama ini akhirnya telah terealisasi dengan sangat baik untuk periode ini (2025-2026). Rangkaian pemilihan ketua asrama diakhiri dengan sambutan dari ketua asrama terpilih, bapak asrama Fr. Efen Nule, dan diakhiri dengan doa penutup dan doa syukur dari salah satu anggota asrama.

Ada beberapa tujuan yang ingin disampaikan atau diwujudkan oleh bapak asrama (Fr. Efen) dalam menggelar pemilihan ketua asrama secara demokrasi, diantaranya: mengajarkan dan menanamkan nilai-nilai demikrasi bagi anak-anak asrama yang telah beranjak dewasa, menerapkan prinsip tanggung jawab dan mendalami asas pemilu bagi mereka yang akan menggunakan hak-hak suaranya dalam menentukan pemimpin yang berkompeten dan berintegritas.

Lebih dari itu, bapak asrama ingin agar setiap anggoota asrama melatih kepribadian mereka dalam memimpin, bertanggung jawab penuh atas setiap situasi, dan ingin menerapkan prinsip demokrasi yang bebas dari nepotisme. Inilah salah satu bentuk kepedulian dari anak-anak bangsa, khususnya anak-anak asrama Putera Paroki Sta. Maria Fatima Betun dalam berdemokrasi.

Latihan-latihan kecil seperti ini ingin mengubah faktisitas demokrasi saat ini yang kian terbelenggu dengan pengaruh-pengaruh nepotisme dan politik uang (money politics). Realitas demokrasi yang tengah dihadapi oleh Indonesia sangat disayangkan untuk dicontoh dan dipelajari oleh anak-anak bangsa.

Tidak menutup kemungkinan, jika perkembangan anak-anak bangsa terkait demokrasi dihambat dengan berbagai praktek-praktek yang hjauh dari prinsip demokrasi. Senhingga saat ini, demokrasi tidak diartikan lagi sebagai “pemegang kekuasaan tertinggi ada pada rakyat tetapi pemegang kekuasaan tertinggi ada pada uang”.

Makna dan hakikat demokrasi diperjualelkan dengan harga setinggi-tingginya sehingga lahirlah situasi-situasi yang tidak kondusif danjauh dari keadilan. Oleh karena itu, penerapan pemilihan ketua asrama secara demokrasi merupakan suatu pembelajaran bagi anak-anak asrama Putera Paroki Sta. Maria Fatima Betum dalam menjaga esensi dan eksistensi demokrasi di daerah-daerah yang akan mereka tinggal dan lebih luas menjaga agar demokrasi Indonesia tidak pernah mati sehingga menjadi media bagaimana rakyat yang kecil bisa bersuara danmenegaskan keadilan.

Tetap Terhubung
Ikuti Zonanusantara.com untuk mendapatkan informasi terkini.

Related posts