“Firdaus” di Desa Langda

&Quot;Firdaus&Quot; Di Desa Langda

&Quot;Firdaus&Quot; Di Desa Langda

Oleh :  Yosef Naiobe 

Tulisan ini saya ramu dari tulisan teman-teman wartawan di Kabupaten Enrekang, Provinsi Sulawesi Selatan. Enrekang yang tak pernah meredup dalam ingatan, lantaran pernah bertugas di daerah ini. Saya memulai debut sebagai Jurnalis untuk salah satu media nasional yang beralamat di bilangan Menteng, Jakarta Pusat.

Sejatinya daerah ini menyimpan taman Firdaus. Sejumlah obyek wisata di sana, menjadi magnet. Keunikan dan eksotis alam yang indah itu laksana perawan yang butuh sentuhan, (polesan).

Kaya akan wisata alam. Salah satunya, Gunung Nona, di wilayah perbatasan Kabupaten Toraja. Disebut gunung nona karena bentuknya menyerupai organ vital kaum hawa. Setiap pelancong yang pernah ke Enrekang atau menuju Toraja melalui jalur darat akan takjub menyaksikan pemandangan yang disajikan gunung nona tersebut.

Gunung nona hanya salah satu dari obyek wisata di Bumi Massrenpulu. Pemandangan alam lain yang masih “perawan” antara lain air pancuran yang letaknya tak jauh dari stadion kota Enrekang.

Masih banyak deretan wisata alam yang sangat memanjakan mata. Sebut saja Bamba Puang atau makam kerajaan. Hawa di sekitarnya laksana salju. Menyejukkan. Seperti ingin membisikan sesuatu pada wisatawan. Nyaris tak ada sentuhan hawa panas yang disemburkan matahari, ketika sang raja tata surya ini melesat keluar dari porosnya.

Memiliki lingkungan alam asri. Di kelilingi gunung gemunung, deretan awan gemulai di atas langit Enrekang, kian mengencangkan daya tarik potensi alamnya. Siapa saja yang mengunjungi daerah ini akan merasa terhipnotis menyaksikan pesona alamnya.

Baca Juga :  Cerpen : Nestapa Sebuah Laptop
&Quot;Firdaus&Quot; Di Desa Langda
Salah Satu Obyek Wisata Alam Air Terjun Di Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan (Foto : Zaeni Salloko)

Sapuan alam, seakan mengajak orang untuk berlama lama di sini. Enrekang seperti menyimpan sejuta hikayat. Sejarah yang tak akan pernah tuntas. Kisah yang sulit dilukiskan dengan kata – kata meski meminjam kata – kata pujangga sekalipun.

Belum tuntas rasa kekaguman akan keindahan alam Enrekang, berita tentang wisata alam di Desa Langda, menandai saatnya Enrekang mengepakkan sayap potensi wisata alamnya. Berbicara di ranah Internasional, agar bule-bule bermata sipit itu meliriknya. Tidak saja Toraja, atau Lombok, Bali dan Labuan Bajo di Nusa Tenggara Timur.

Tentang salah satu wisata alam yang ditulis sahabat saya Zaeini Salloko, menjadi pengingat, kisah 10 tahun lalu ketika saya mengabdi di sana. Di Enrekang saya tidak sekedar beraktualisasi diri sebagai seorang wartawan namun juga mengais di antara deretan bukit kemakmuran.

Tinggal atau pas-nya indekos di Batili Dalam, pada seorang keluara yang ramah tamah. Ramah tamah karena saya tidak pernah bayar kos bulanan di Kelurahan Enrekang. Setiap pagi, saya menyaksikan secara kasat mata bagaimana mentari harus bersusah payah untuk bersinar. Enrekang dikelilingi gunung -gunung tinggi. Praktis akan menghalangi setiap fajar menjelang. Hawa yang sangat menyejukkan, bagaikan salju menyapu kulit.

Tentang potensi wisata alam di Desa Langda yang kini menarik perhatian pemerintah setempat, bagi saya ini adalah sebuah langkah maju untuk memoles alam yang masih “perawan” di daerah itu, tentu dengan harapan tidak merusak keasliannya. Polesan yang berlebihan ibarat lipstik yang menempel di bibir kaum perempuan dan hanya akan menuai cibiran.

Baca Juga :  Luruh

Kepala Bidang Pemasaran Pariwisata Dinas Pemuda dan Olahraga Enrekang, Andi Zulkarnaen mengatakan, beberapa daya tarik wisata unggulan Desa Langda yang akan dikembangkan adalah Air Terjun Katangka, Sungai Buntu Toding, Bukit Buntu Lintik dan Buntu Bangga, persawahan dan perkebunan salak.

“Kita tengah membangun semangat membangun desa serta komitmen bersama untuk mengelola dan melestarikan potensi di desa melalui unit usaha pariwisata yg akan di kelola BUMdes,” kata dia, Sabtu (6/3/2021).

Enrekang menjadi pelintas di antara selaksa kisah menarik lainnya. Gulungan awan bertengger di langit, seakan menghitung deret waktu. Bahwa obyek wisata di Enrekang kini menjelma menyerupai taman Firdaus. Sebuah tempat yang dilukiskan dalam kitab suci sebagai tempat yang indah. Sayang jika Tuan dan Puan, tidak pernah menginjak kaki di sana.

 

 

Yosef Naiobe,  Wartawan pengagum Senja. Hobi menulis cerpen dan puisi. Cerpen Sepenggal Kisah yang Terhempas pernah tayang di beberapa media. Baik online maupun cetak

 

 

 

 

Tetap Terhubung
Ikuti Zonanusantara.com untuk mendapatkan informasi terkini.

Related posts