Langit Jingga di antara Film Sarah

Langit Jingga Di Antara Film Sarah

Langit Jingga Di Antara Film SarahOleh : Hendrika LW

Langit kemerahan memantulkan keceriaan, bertengger di atas kota Malang. Cuaca mendung yang biasanya menggelayut, enyah entah ke mana.

Semilir angin syahdu mengiringi para musisi jalanan memainkan perkusi. Kehadiran seniman jalanan ini mampu mensinergikan roda kehidupan yang seakan tak pernah sepi. Aktivitas di luar rumah, yang hanya beratapkan warna jingga.

Jalan Retawu, seakan menjadi saksi perbincangan 10 orang anggota persatuan artis film (Parfi) Kota Malang, yang dinahkodai Hj. Rossa S. Romlah.

Penang Cafe, ikut menghangatkan suasana yang kian akrab dan asyik saja. Pertemuan diwarnai usulan dari George da Silva agar mengganti judul film “Sarah” yang ditulis, Hendrika L. Wariati.

Penasihat Parfi Malang ini beralasan, judul tersebut mengeksploitasi sosok Sarah. Sebagai penulis, Hendrika menilai usulan tersebut sebagai masukan berharga untuk memperluas wawasan.

Alur cerita film Sarah, menjadi topik utama, para peserta. Nahkoda Parfi Malang, Rossa S. Romlah, menyatakan pembuatan film sebagai syarat pelantikan badan pengurus.

Dalam suasana penuh keakraban, Rossa menjelaskan setelah naskah film itu ditulis, selanjutnya, menentukan setting lokasi, pengambilan gambar dan memilih pemeran, yang nota bene diambil dari para pengurus, dan juga calon pemeran yang lolos audisi.

Baca Juga :  Sentuhan Kasih Biarawan Katolik asal Sumatera Utara

“Semua pengurus wajib ambil bagian sebagai pemeran, ini sebagai syarat mutlak untuk pelantikan bulan Maret mendatang.” tegas Rossa.

Pendiri PKMR (Perempuan Kain dan Kebaya Malang Raya) ini menambahkan, untuk pemeran lainnya dari anak-anak pemenang fashion, siswa SMAN 4 dan yang lolos audisi.

Film berdurasi 30 menit yang disutradarai Bang Jo Sugeng Rianto, SH, menetapkan lokasi pengambilan gambar di daerah Dinoyo dan SMAN 4 Malang, melibatkan lebih dari 30 pemeran dengan kru kameramen dari Pagak TV Malang, pimpinan Oegik Sugiyanto S.Th.

Langit Jingga Di Antara Film Sarah
Crew Parfi Malang (Foto : Hendrika Lw

Selanjutnya disambung dengan bedah program yang dicanangkan Parfi pusat dan daerah. Peserta juga menyentil Bengkel Cafe Parfi sebagai prioritas, yang bermarkas di Persinggahan Tunggul Ametung, Gubug Klakah, Tumpang, milik Ide S. Roseno.

Bengkel Cafe, sebagai pusat kegiatan seperti Workshop film : pelatihan seni peran, sinematografi, pemilihan duta Parfi dan kegiatan lain yang seirama dengan dunia perfilman.

Rossa menjelaskan, Parfi sebagai organisasi profesi harus bisa menghasilkan keuangan, agar dapat berjalan dengan baik.

Baca Juga :  Mundur Demi Bone

“Parfi adalah organisasi profesi. Jadi harus bisa menghasilkan uang karena kegiatan kita membutuhkan dana,” begitu tandasnya di akhir acara.

Tambah Rossa, pengurus dan anggota bisa bersinergi mengembangkan profesinya di sini. Sesuai dengan usaha dan kreativitasnya.

Waktu merambat perlahan, tak terasa keasyikan diskusi berlangsung lebih dari tiga jam. Para pramusaji sudah mulai membereskan ruangan, pertanda tak ada lagi jamuan. Isyarat para tamu harap segera pulang.

Sepoi angin kembali menyapu. Menggoda relung-relung kehidupan. Bunda Rossa seperti sebuah fragmen, yang memainkan drama kehidupan bersama Parfi Kota Malang. Sementara George da Silva laksana mercusuar agar perahu Parfi Kota Malang tak membentur karang.

Hendrika LW :  wartawan sastra, penyair dan peran. Penulis buku Nyanyian Hati ini, telah menulis sejumlah puisi dan cerpen.

 

 

 

Tetap Terhubung
Ikuti Zonanusantara.com untuk mendapatkan informasi terkini.

Related posts