
Oleh : Irene Sidok
Hingar bingar musik mengoyak gendang telinga. Sorak gegap gempita berbaur dengan hentekan musik dan syair. Kesenyapan kian menjauh berganti dengan “Oba Gete” dari suara khas milik Babo.
Semua bergoyang. Semua berjoget. Kebahagiaan yang mewarnai situasi itu laksana pelangi. Kegirangan adalah fantasi yang melunasi aksi balas dendam, karena sudah menempuh perjalanan jauh. Menelusuri bukit berbatu terjal, memenuhi sebuah undangan pesta komuni suci pertama bagi seorang anak yang menganut Katolik.
Alunan musik terus menghebat sepanjang malam. Meramaikan pesta komuni suci yang diselenggarakan keluarga Uak. Pada bagian akhir, dibikinlah sebuah skenario yang sudah disepakati para tamu untuk memberikan hiburan sebagai kado buat Uak.
Dalam kearifan lokal masyarakat setempat, rancangan pesta uak itu dirancang sedemikian rupa. Tentu, agar berbeda dan jauh lebih besar dibandingkab dengan pesta kebanyakan anak-anak lain di kampung Daran Natar, Moko. Rancangan ini, diprakarsai Inan Blupur. Penguasa tunggal dalam keluarga.
* * * Senja kelabu merasuk. Mengharu-biru, mencabik diri Uak dalam sesal tak bertepi.
“Eh…Uak. Kaukah itu?” sapa Sinta
Sinta adalah teman sebangku waktu di SMP. Penampilannya mencerminkan sebuah bentangan masa depan cerah. Penampilan Sinta familiar dengan balutan pakaian yang dikenakan. Menggenggam sebuah tas tangan kulit mungil dengan sepatu hitam mengkilat.
” Ya, aku. Masa lupa?” balas Uak.
Uak sebenarnya dalam hati protes lantaran teman sebanya itu terkesan lupa pada dirinya.
“Bukan begitu. Cuma bingung saja. Sudah lama tak bertemu, kan?” elaknya.
Hmm… Uak menarik nafas begitu berat. Ia masih menyisakan tanda tanya seputar sapaan Sinta. Sapaan yang mengisyaratkan “lupa” pada teman sendiri; bagaikan sebuah palu godam yang menghantam dirinya. Betapa perih menyesakan dada.
Sinta yang dulunya bersaing dengannya merebut juara kelas, kini tersenyum meniti hari-harinya dengan optimistis meski harus bertarung dalam kerasnya kehidupan di kota besar. Selepas SMP, Sinta memilih hengkang ke kota untuk melanjutkan cita-cita, dan juga sebagai tempat mengais asa.
Sementara Uak harus puas dengan dirinya saat ini. Menerima realitas. Saban hari berjemur di ladang dalam irama sako seng “bele lele ha”. Jika malam tiba, Uak kembali bergelut dalam keterampilan ikat tenunnya.
Di masa lalu menenun adalah sebuah lambang kebanggaan seorang wanita. Mengurus rumah, ikat-tenun, melayani suami dan anak-anak di rumah, adalah satu-satunya keharusan dan rutinitas yang diperankan seorang wanita sejak masa mudanya.
Suatu waktu dalam keremangan senja. Tiba-tiba saja pikiran Uak terbayang pada sosok wanita tua yang memegang kendali hidupnya kala itu.
“Uak ini sebagai cucu perempuanku satu-satunya. Sambut baru harus pesta besar. Titik!” begitulah nada Inan Blupur yang meninggi pada saat pertemuan bersama keluarga sebelum pesta sambut baru Uak digelar.
“Tidak usah pesta besar, Ina. Nanti kan harus urus dia sekolah,” bantah Ama Nadus.
“He, Nadus. Saya tidak tuntut dia sekolah. Dia kan perempuan. Buat apa dia sekolah. Yang penting kita buat pesta besar agar dia senang,”
sanggah Inan Blupur sambil memukul tangannya di dinding pelupu tua rumah Ama Nadus
Ayah Uak terperangah setelah nada bicaranya diintervensi Inan Blupur. Ama Nadus menganggap tidak demokratis. Inan Blupur otoriter. Memaksakan kehendaknya. Ama Nadus yang berusaha berpikir bijak itu akhirnya menyerah tanpa syarat kepada Inan Blupur. Ia bisa memahami kondisi Inan Blupur yang sudah renta, dimakan usia.
“Sudahlah. Toh dia sudah tua. Setelah Ina meninggal dunia, Ina kan tidak tahu apa-apa lagi,” pikir Ama Nadus.
Uak sendiri tidak cukup mengerti pertentangan itu. Namun sebenarnya Uak merasa bangga juga karena selalu dinomorsatukan oleh sang nenek, Inan Blupur. Jatah makan selalu harus lebih banyak. Pakaian harus selalu baru. Tidak cuma itu. Inan Blupur disegani teman-teman sepermainan Uak.
Niku teman sepermainan Uak pernah merasakan amukan Inan Blupur.
“Woe, Blupur. Mari sudah kita main!” teriak Niku yang menyapa nama belakang Uak.
Inan Blupur yang sempat mendengar sapaan Niku saat itu marah besar.
“ He, Nenek moyangmu tidak ajar kah?! Blupur itu nama saya. Berani sekali kau panggil Blupur, Blupur. Dasar anak kurang ajar. Awas kau!” selorohnya sembari mengejar Niku dengan sebatang kayu.
* * *
Pengumuman hasil EBTANAS SD baru seminggu berlalu. Uak dinyatakan lulus. Ama Nadus mulai berpikir keras. Ke mana harus menyekolahkan Uak. Setelah kepergian Ina Bunga, Ibu kandung Uak, Ama Nadus biasanya membicarakan masalahnya dengan Inan Blupur. Namun tentang urusan sekolah, Ama Nadus tidak ingin membicarakannya. Sia-sia saja. Pasti dibantah.
Ama Nadus berniat merencanakannya secara diam-diam tanpa sepengetahuan Inan Blupur. Dengan diam-diam pula ditanamkannya pengertian kepada Uak, bahwa sekolah itu penting. Meski berat rasanya berpisah dari Inan Blupur yang selalu membelanya, namun Uak akhirnya membenarkan pendapat ayahnya.
Uak sepakat menerima keputusan Ama Nadus untuk menyekolahkannya di SMP PGRI 1 Egon Waigete. Lantaran jarak tempuh yang begitu jauh, Uak dititipkan di rumah salah satu keluarga di Nangatobong.
Saat perpisahan pun tiba. Uak dianjurkan secara sembunyi-sembunyi mengepak pakaiannya di tas. Rupanya semua rencana itu tercium oleh Inan Blupur. Peperangan sengit Ama Nadus dan Inan Blupur pun pecahlah.
“Nadut! Kau mau kepala batu Nanti kau lihat!” sergah Inan Blupur sengit menunjuk ke arah Ama Nadus.
“Heh! Kau sudah tua bangka mau mati tau apa?! Sekarang orang harus sekolah,” balas Ama Nadus tak kalah sengit.
“Percuma perempuan sekolah. Besok lusa ada suami tidak bisa kasih sarung buat ipar-iparnya!”
“Kalau ada gaji kan bisa beli, Ina.”
“ Tapi saya tidak mau. Titik!”
“Saya mau. Koma…! Uak… ayo jalan. Jangan dengar nenekmu itu. Sudah tua sok atur!”
“Kau paksa, kau liat, Nadus!”
“Liat apa. Sudah tua kalau mau mati, mati sudah,” balas ama Nadus sengit. Tak peduli.
Ama Nadus menyambar tas pakaian Uak, dan berlangkah keluar dari rumah.
“Uak…, jalan sudah!”
Uak berdiri mematung dalam dilema. Mengikuti Ama Nadus lalu meninggalkan Inan Blupur yang mulai meraung panik, marah dan menangis itu? Sungguh berat rasanya. Atau tinggal bersama Inan Blupur yang selalu membelanya dalam segala salah dan benarnya? Uak berpikir keras tak mengerti.
“Uak, saya sudah daftar jadi jangan macam-macam. Jalan sudah!”
Tidak ingin Ama Nadus bertambah marah, Uak pun melangkah berat meninggalkan Inan Blupur. Sambil menangis Uak berjalan menyusul Ama Nadus yang beberapa meter telah mendahuluinya.
Pikirannya mulai tak tenang. Mungkin Uak akan lebih tenang kalau Inan Blupur merestui perjalananya.
Belum lagi teriakan Inan Blupur yang melemah oleh isak tangisnya terngiang jelas di telinganya.
“Uak………., kau tidak sayang saya kah? Kau jalan lepas saya….”
Catatan :
Cerpen ini mengisahkan pandangan masyarakat setempat tentang seorang anak gadis. Di zaman itu, anak perempuan tidak perlu sekolah. Cukup pandai menenun dan mengurus rumah tangga.
Penulis menggunakan istilah setempat, Ama Nadus, atau Bapak Nadus.
Uak, singkatan dari Nurak, sapaan kasih sayang bagi seorang anak perempuan.
Ina sapaan untuk sang nenek Blupur.
Sako seng, gotong royong mencangkul kebun.
Bale lele ha, lagu penyemangat saat mencangkul kebun (sako seng)
Irene Sidok,
guru SMP PGRI 1 Egon Waigete – Sikka, Nusa Tenggara Timur.





