BONE, SULSEL– Kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) khususnya jenis solar yang melanda Kabupaten Bone beberapa waktu terakhir mulai berdampak langsung pada harga komoditas di pasaran. Salah satu yang paling terasa adalah kenaikan harga sayur mayur.
Kondisi sulitnya BBM membuat biaya operasional angkutan meningkat. Akibatnya, para pedagang sayur di Pasar Sentral Palakka terpaksa menyesuaikan harga jual.
“Kami mau tidak mau ikut menaikkan sedikit harganya karena biaya transportasi naik. Katanya sulit solar, jadi biayanya juga ikut naik,” ungkap Tompo, salah satu pedagang di Pasar Palakka, Bone.
Hal senada disampaikan Martang pedagang sayur lainnya. Ia menyebut sebagian besar komoditas sayur seperti tomat, cabai, bawang, kol, dan sayur segar lainnya didatangkan dari luar Kabupaten Bone dan tiba di pasar setiap dini hari.
“Biasanya kami ambil dari luar yang dibawa langsung oleh petani. Tapi karena sekarang biaya transportasinya naik akibat sulitnya dapat BBM, jadi kami juga harus berani menaikkan harganya,” jelas Martang.
Dampak kelangkaan BBM membuat harga sejumlah sayur naik bervariasi antara Rp1.000 hingga Rp5.000 per kilogram.
Contohnya tomat yang sebelumnya dijual Rp10.000 per kilo, kini naik menjadi Rp13.000 hingga Rp15.000 per kilo. Cabai dan kangkung juga mengalami kenaikan yang sama.
Para pedagang khawatir kenaikan ini akan semakin memberatkan masyarakat, apalagi Bone sebentar lagi akan menjadi tuan rumah Pekan Olahraga Provinsi.
“Kami berharap Pemerintah Daerah melalui dinas terkait segera mencari solusi untuk mengatasi kelangkaan BBM ini. Biar harga sayur bisa kembali stabil sebelum even olahraga berlangsung,” harap para pedagang. (Subaer)






