Oleh Yulius Salu
Jika anda tak cukup punya keyakinan untuk mencintai lebih dari sekedar cinta, berusaha untuk mencintai melebihi cinta. Tapi jika anda tak cukup punya nyali untuk mencintai, berkemaslah untuk nekat.
Ajakan yang menggoda ini bersedia di sisi hatiku tatkala keputusasaanku mempunyai peluang parkir. Ku tengadah ke langit memandang gemerlap bintang, tapi jiwaku terdampar dikekelaman masa lalu yang terus menagih untuk dikenang. Cerita yang tak indah tentang perjalanan hidup dan kemelut cinta yang terjalin setapak demi setapak, tak bisa aku urai jadi berkas yang bisa membangun rasa percaya diri. Badai hidup menghadiahiku ketergantungan pada ujud permohonan pertolongan, tanpa pernah sekalipun terkabulkan membuatku semakin hari semakin tak percaya pada kekuatan yang tak kelihatan. Kulipat sembah sujud dan pasrah diri pada kehendak yang memberiku napas, tapi keraguanku pun tak bisa kutepis, mengingat purnama kembali menyikapi dan keputusasaanku belum usai.
Kekasihku pergi tanpa meninggalkan sehelai pesan, yang kiranya bisa membuatku yakin, kalau selama setahun aku bukan bercinta dalam bayang-bayang.
Kekasih yang sering membuatku terkapar dalam kegelisahan dan terkurung dalam rasa cemburuku, bagai sungai yang tak bisa berteriak, mengalir meninggalkan Hulu yang pernah memberinya keteguhan.
Kekasihku, yang oleh karena cinta, kami memasrahkan kehormatan, bagai angin ia berlalu diam meninggalkanku yang merasa sangat tersiksa, walau hanya mengenang belaiannya.
Kekasihku, yang tatapannya membuatku tersingkir dan tanpa harus bicara ia pahami, dihati ini hanya ada ruang buatnya. Tapi kenapa hanya untuk pamit, ia tak bisa.
Aku sedih. Kesedihan sulit kejelaskan, seperti juga keputusasaanku yang sukar untuk kupahami.
Dan cinta, kenapa harus ada, tapi pada akhirnya tiada? Kenapa harus bersemi, kalau suatu ketika gugur? Kenapa indah, jika sekali kelak pilu? Kenapa bagai rembulan, tapi harus tenggelam dibalik kekerasan malam? Kenapa terbit dan menyikapi, sedangkan terbenam menjadi mungkin?
Kekasih, yang kalau sempat membaca dukaku, kabari aku tentang dirimu, sebelum nasib membatasi perpisahan kita jadi memori yang tidak indah untuk dikenang.





