Kota Malang, ZonaNusantara – Pemerintah Kota (Pemkot) Malang memberikan apresiasi tinggi terhadap pelaksanaan Program Taruna Bhakti di Sekolah Rakyat.
Program pendampingan yang melibatkan unsur TNI dan Polri ini dinilai sangat efektif dalam menanamkan kedisiplinan, kemandirian, serta wawasan kebangsaan bagi para siswa asrama.
Berjalan pada awal Agustus 2026, program ini mendapatkan sambutan hangat dari jajaran Pemkot Malang karena memberikan dampak positif yang signifikan terhadap pembentukan karakter peserta didik.

Wakil Wali Kota Malang, Ali Mutohirin, menyampaikan apresiasi mendalam saat melepas tim Taruna Bhakti dari Akademi Militer (Akmil) Magelang yang dipimpin oleh Sersan Mayor (Serma) Haryanto.
Selama sepekan, para taruna telah memberikan pendampingan intensif di Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 16 Malang.
“Pengalaman dan pengetahuan yang dibagikan kepada para siswa kami di SRMP 16 sangat bermanfaat, khususnya mengenai kedisiplinan, integritas, dan wawasan kebangsaan,” ujar Ali Mutohirin usai acara Sayonara Taruna Bhakti di SRMP 16, Malang, Jumat (7/8/2026).
Melihat hasil positif tersebut, Pemkot Malang membuka peluang untuk memperpanjang durasi program di masa mendatang menjadi dua minggu hingga satu bulan.
Langkah ini bertujuan mengoptimalkan pendidikan karakter, gotong royong, kolaborasi, serta loyalitas siswa kepada bangsa dan negara.
“Ke depan, kegiatan seperti ini juga direncanakan untuk digelar di sekolah-sekolah umum melalui sinergi lintas instansi dengan Komando Rayon Militer (Koramil) serta Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud),” jelasnya.
Di samping itu, Ali menegaskan bahwa Pemkot Malang memiliki komitmen penuh untuk menjamin seluruh fasilitas pendidikan bagi siswa Sekolah Rakyat secara gratis, baik seragam sekolah lengkap, makanan dan minuman bernutrisi tinggi, serta fasilitas asrama yang memadai.
Ia berpesan agar para siswa dan keluarga memanfaatkan kesempatan emas ini dengan dedikasi tinggi demi mengubah masa depan mereka.
“Pendidikan adalah satu-satunya jalan untuk memperbaiki masa depan individu, keluarga, bahkan masa depan bangsa dan negara. Negara telah hadir menyediakan lingkungan pendidikan yang luar biasa bagi anak-anak kita yang sebelumnya mungkin kurang memiliki akses,” pesannya.

Sementara itu, Sekretaris Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (Dinsos-P3AP2KB) Kota Malang, Kenprabandari Aprilia B., memaparkan kondisi terkini para siswa di SRMP 16 Malang.
“Jadi, di sekolah ini (SRMP 16 Malang) ada 89 siswa yang terdiri dari 50 perempuan dan 39 laki-laki, yang memiliki latar belakang dari keluarga prasejahtera atau Desil 1 dan 2 di Kota Malang,” kata wanita yang akrab disapa Niken ini.
“Di SRMP 16 Malang ini mewadahi anak-anak putus sekolah serta mereka yang usianya telah melewati batas jenjang SMP reguler tanpa batasan usia yang ketat,” tambahnya.
Niken menegaskan bahwa seluruh siswa telah resmi terdaftar di dalam Data Pokok Pendidikan (Dapodik) Dinas Pendidikan.
Dalam operasionalnya, SRMP 16 Malang menerapkan sistem boarding school.
Pada minggu pertama, fokus diarahkan pada proses adaptasi, pembangunan karakter, penurunan ego, pelatihan kedisiplinan, serta penumbuhkan kebersamaan di antara siswa dengan latar belakang yang beragam.
Sebagai bentuk dukungan penuh, Dinsos-P3AP2KB juga menyiagakan tim pendamping serta psikolog profesional untuk mendampingi siswa maupun orang tua selama masa transisi di asrama.






