
Kisah Diantara Kita
Oleh : Kimberly Harefa
Kita terlahir dengan keadaan yang tak sama
Seperti mereka yang mampu mengungkapkan kata
Mereka yang berlari mengejar angin
Dan pelukan hangat dalam rahim seorang ibu
Kita saling memahami lewat rasa
Lewat tatapan yang tak dimengerti kebanyakan orang
Kita berbeda,
Sehingga hanya dipandang sebelah mata
Teringat saat itu
Aku mengajarimu banyak hal
Dari yang sederhana hingga rumit
Meski dengan keterbatasan yang juga kumiliki
Ya,
Aku dan kamu; kita
Berbeda dimata manusia
Namun sama dimataNya
Banyak hal yang kupelajari darimu;
Berbicara dengan isyarat, sentuhan, maupun bahasa tubuh yang seringkali gagal kupahami
Menahan sabar kala tingkahmu membuatku gemas
Dan mengurungkan niat menjadi seorang yang pemalas
Terima kasih karena sudah membuatku tak henti mengucap syukur
Atas segala yang kumiliki
Meski dengan keterbatasan
Mampu meyakinkan diri untuk bisa jadi yang berguna bagi semesta
Kelak,
Inginku menghabiskan waktu berbagi kisah denganmu
Mendorongmu menjadi seorang yang kuat
Agar semesta tahu, keterbatasan bukan penghalang meraih mimpi
Berjanjilah padaku,
Untuk saling merangkul
Saat dunia seakan menjauh
#HanyaKataKim
9-5-20
***
Pantun
Oleh : Hendrika LW
Buah duku di atas meja
Kuambil empat kumakan semua
Kubawa dirimu ke dalam doa
Semoga sehat damai sentosa
Pisang, jambu, manggis, dan mangga
Itu buah kesukaan saya
Menulis pantun irama kata
Sungguh indah asyik menggoda
Pohon bidara di tepi jalan
Lebat berbuah dimakan jangan
Itu sodara ternyata kembaran
Hati dan jiwa tak terpisahkan
Musik perlahan sendu terdengar
Mengantar tidur terbuai mimpi
Bila malam rindu bergetar
Bisakah dirimu kan kujumpai
***
Anomali Cinta
Oleh : Yosef Naiobe
Musim terus berganti
Flamboyan menandai isyarat waktu
Sebentar lagi kita jalani enam tahun
merajut cinta
menyatukan hati
dalam satu getar rindu
Kita tak pernah menepi
dari cerita cinta
Berhias nostalgia
Yang tak selamanya indah
acapkali menebalkan
kadang juga menyenangkan
Dari situ kita belajar
Memahami satu sama lain
Meski sesungguhnya kita kembar
Dua diri satu organ
Dua raga satu rasa
dalam suka dan duka
Satu derai airmata
dalam elegi cinta
Entahlah berapa lama lagi
Waktu akan terus menemani
Mewarnai perjalanan cinta ini
Yang telah banyak meneguk
Asam garam, menorehkan
catatan hitam putih
dalam tumpukan deret waktu
Yang tak terbilang kini
Baik itu manis maupun pahit
Beragam rasa kita teguk berdua
membingkai di atas pigura beranama kenangan
Kekasih
Bilangan waktu tanpa batas
Aku tak ingin waktu berhenti
Sebab aku masih menyayangimu
Hingga senja memisahkan
Kuharap mimpi kita sama
Di setiap malam menjelang
Kugeganggam erat janjimu
Seperti kuntum bunga
Hingga fajar kembali bersinar
Menebar pesona di antara kita
Suatu waktu di Palmerah
Jelang akhir tahun di penanggalan 16 Oktober 2021





