
Aroma Hujan
Oleh Hendrika LW
aroma hujan mengingatkanku
pada kenangan yang tumbuh
di bawah pohon akasia
menyatukan imajiku dengan bau tubuhnya
harum melati yang membalur seluruh jiwanya
membangkitkan hasrat cinta pada kekasih
yang tak pernah mati
karena cintaku tumbuh dan hidup bersama hujan di sepanjang musim
aroma hujan selalu kurindu
bersama derainya aku menghitung
waktu
untuk kembali menjumputi kisah yang beradu desah
Kekasih
duhai kekasih,
saat kusibak tirai jendela
kulihat dirimu di bawah rembulan
dengan setangkai mawar di tangan
sungguhkah kau datang?
paras elok bermata bening
pandanglah aku dan berilah senyuman
kan kubawa dalam peluk mimpi
malam ini bermandikan cahaya bulan
Secangkir Teh
rasa pahitnya tak sepahit kisah hidupmu
karena angkara telah meracuni cangkirnya
nikmat rasanya kini beradu dengan nasib
tidak ada lagi pelayan yang menghidangkan
apalagi rupawan bergincu yang pandai merayu
secangkir teh ditumpahkan oleh ambisi
tak tahu diri
yang membawa petaka pada peti mati
Hendrika LW : wartawan sastra, penulis puisi, cerpen





