BELU, NTT – Di balik jalur berat dari Kabupaten Belu menuju Cristo Rei di Dili, Timor Leste, Tour Timor Handcycle “From Mother to Son” menyimpan pesan kemanusiaan yang jauh lebih dalam daripada sekadar olahraga lintas negara.
Ajang yang diinisiasi Bali Sports Foundation (BSF) Asia ini mengangkat kisah tentang ketabahan, kasih seorang ibu, dan perjalanan hidup seorang anak yang menolak menyerah pada keterbatasan.
Nama “From Mother to Son” bukan sekadar judul. Ia adalah dedikasi bagi perjuangan penyandang disabilitas yang terinspirasi oleh dorongan, doa, dan cinta seorang ibu, figur yang kerap menjadi penopang utama para atlet difabel untuk berdiri kembali ketika dunia terasa runtuh.
Ketika para peserta tiba di Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Motaain, suasananya berbeda. Bukan hanya penyambutan protokoler, tetapi getaran haru saat para atlet melewati garis batas yang bagi sebagian dari mereka adalah simbol melampaui masa lalu yang sulit.
Kepala PLBN Motaain, Maria Fatima Rika, ikut menangkap getaran itu. Ia menilai kedatangan para atlet bukan sekadar melintasi perbatasan fisik, tetapi juga perjalanan batin menuju penerimaan diri dan keberanian.
“Setiap kayuhan adalah cerita. Mereka membawa pengalaman hidup, ketabahan, dan cinta keluarga khususnya cinta seorang ibu yang membuat mereka tiba di sini,”ungkap Maria Fatima Rika
Peserta dari Australia, Kanada, Uzbekistan, dan beberapa negara lain hadir bukan hanya untuk berkompetisi, tetapi membawa kisah pribadi tentang hubungan ibu dan anak yang menguatkan mereka.
Nama-nama seperti Rodney James Holt, Glen Eric Scott, dan Abdumutal Khasanov adalah contoh atlet yang perjalanan hidupnya tidak lepas dari peran seorang ibu yang merawat, memperjuangkan akses rehabilitasi, atau menjadi sumber motivasi pertama.
Tour ini mengingatkan bahwa setiap penyandang disabilitas memiliki sosok yang menopang, sering kali seorang ibu yang memperjuangkan mereka dalam diam.
Bagi PLBN Motaain, kehadiran para peserta bukan hanya soal kelancaran administrasi lintas-negara.
Ini adalah momen yang mengajarkan empati dan menunjukkan bahwa perbatasan pun bisa menjadi ruang bagi kisah kemanusiaan.
“Kita tidak hanya menyaksikan atlet melintas, tetapi juga menyaksikan spirit hidup yang diwariskan oleh seorang ibu kepada anaknya,” kata Rika.






