KEFAMENANU,- Yayasan Sosial Ibu Anfrida Naob menyelenggarakan kampanye We Ring The Bell di Desa Lapeom pada 30 Juli 2025.
Kampanye ini bertujuan memperjuangkan hak-hak penyandang disabilitas, termasuk anak-anak yang pernah mengalami kusta, serta mendorong perhatian lebih dari pemerintah setempat.
Kampanye ini adalah bagian dari gerakan global We Ring The Bell oleh Liliane Fonds, yang digelar tiap tahun di lebih dari 20 negara untuk menyoroti pentingnya pendidikan inklusif.
Hadir dalam kampanye tersebut Kepala Desa Lapeom, perwakilan dinas pendidikan dan kesehatan, pengelola PAUD, siswa dari berbagai tingkat sekolah (PAUD hingga SMP), kelompok penyandang disabilitas, orang tua, guru, kader inklusi desa, serta tenaga kesehatan dari Puskesmas Mamsena dan 10 Pustu.
Kegiatan dimulai dengan membunyikan tong, peluit, atau instrumen lainnya secara serentak selama satu menit sebagai simbol bahwa “ada anak menikmati pendidikan” dan diikuti dengan penandatanganan komitmen dari berbagai pihak untuk mendukung hak anak penyandang disabilitas.

Ketua Yayasan Sosial Ibu Anfrida, Suster Maria Marcella PRR menegaskan bahwa kampanye ini bertujuan mewujudkan Akses Pendidikan berkualitas bagi semua anak tanpa diskriminasi termasuk mereka yang memiliki disabilitas dan latar belakang eks-kusta.
Kepala Desa Lapeom, Damianus Sengkoen, S.Pd, menyatakan kesiapan desa untuk terus mendukung program ini, karena menyadari bahwa anak-TTU/” title=”NLR Indonesia Teliti Dampak Iklim Pada Anak Disabilitas dan Penderita Kusta di TTU”>Anak Disabilitas memiliki hak yang sama dalam pendidikan.
Yayasan Ibu Anfrida Naob memperkuat komitmennya pada inklusi melalui gerakan simbolik dan kolaboratif. Kampanye We Ring The Bell bukan hanya menjadi pengingat pentingnya pendidikan inklusif, tetapi juga memicu tindakan nyata dari masyarakat dan pemerintah setempat.






