BONE– Warga Desa Samaenre, Kecamatan Tellu Limpoe, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, kini harus ekstra hati-hati saat melintas di jalan desa mereka. Aspal yang sebelumnya mulus, perlahan berubah menjadi hamparan lubang dan permukaan terkelupas. Dugaan kuat, kerusakan tersebut disebabkan oleh aktivitas alat berat jenis excavator yang kerap melintas tanpa pelindung roda besi.
Setiap hari, suara besi menghantam aspal seakan menjadi penanda rusaknya fasilitas umum yang seharusnya dijaga bersama. Excavator-excavator itu disebut sering keluar masuk desa untuk berbagai keperluan, mulai dari pencetakan sawah hingga persiapan pembangunan rumah warga. Namun, aktivitas tersebut dinilai abai terhadap dampak yang ditimbulkan.
Keluhan warga akhirnya mendapat perhatian serius dari Anggota DPRD Kabupaten Bone Daerah Pemilihan Tellu Limpoe, Farel Adywansya, S.T. Legislator dari Fraksi PKB itu menyatakan kegeramannya terhadap ulah oknum pengusaha yang dinilai tidak bertanggung jawab.
“Saya sebagai anggota DPRD Bone yang berasal dari Kecamatan Tellu Limpoe tentu tidak menerima kejadian seperti ini, di mana ada oknum pengusaha yang merusak jalan dengan alat berat,” tegas Farel, Minggu (11/1/2026).
Menurutnya, kerusakan jalan tersebut bukan persoalan sepele. Ruas jalan yang terdampak merupakan jalan provinsi yang sebelumnya telah diperbaiki oleh pemerintah provinsi. Upaya perbaikan itu, kata Farel, menjadi sia-sia jika masih ada pihak yang dengan mudah merusaknya kembali.
“Ini merupakan jalan provinsi. Pemerintah provinsi sudah berupaya memperbaiki dan memberikan kondisi jalan yang baik, tetapi di sisi lain ada oknum yang tidak bertanggung jawab justru merusaknya kembali,” ujarnya.
Farel pun mendesak agar pengusaha pemilik alat berat bertanggung jawab penuh atas kerusakan yang ditimbulkan. Ia juga meminta aparat penegak hukum untuk bertindak tegas demi memberi efek jera.
“Kami meminta pengusaha tersebut bertanggung jawab. Kami juga meminta kepada pihak berwajib yang berwenang agar memberikan sanksi tegas kepada oknum pengusaha itu,” tambahnya.
Di tengah keresahan warga, langkah cepat ditunjukkan jajaran Polsek Tellu Limpoe yang turun langsung ke lapangan meninjau kondisi jalan. Kehadiran aparat kepolisian diapresiasi oleh Farel dan masyarakat, karena dinilai penting untuk memberikan rasa aman sekaligus memastikan aturan ditegakkan.
Pantauan warga menunjukkan, aspal yang rusak diduga kuat akibat excavator yang melintas tanpa alas atau pelindung pada roda besinya. Kondisi tersebut menyebabkan roda besi langsung menghantam permukaan aspal, hingga terkelupas dan berlubang.
Ironisnya, warga menyebut kejadian serupa bukan kali pertama terjadi. Meski telah berulang kali diperingatkan, pemilik alat berat disebut tetap mengabaikan keluhan masyarakat dan terus melintas di jalan umum.
Kini, masyarakat Desa Samaenre berharap ada tindakan nyata dan tegas dari pihak berwenang. Mereka ingin aktivitas alat berat di jalan umum diatur sesuai ketentuan, agar pembangunan tidak mengorbankan kepentingan publik dan keselamatan pengguna jalan.
Bagi warga, jalan bukan sekadar aspal yang membentang, tetapi urat nadi kehidupan yang menghubungkan aktivitas, ekonomi, dan masa depan desa mereka. (*)






