BONE — Upaya peningkatan kualitas pendidikan di Kabupaten Bone kembali mendapat energi baru melalui pelatihan peningkatan kompetensi guru yang digelar Forum Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) dan BK Kabupaten Bone. Kegiatan yang berlangsung dalam empat gelombang ini menjadi wujud komitmen organisasi guru dalam mendorong profesionalisme tenaga pendidik, khususnya guru penerima tunjangan profesi dan tambahan penghasilan.
Ketua Forum MGMP dan BK Kabupaten Bone, Dra. A. Ratnawati, M.Pd, mengungkapkan bahwa pelatihan tersebut lahir dari hasil rapat pengurus Forum-MGMP SMP Kabupaten Bone bersama Dinas Pendidikan Kabupaten Bone. Menurutnya, forum dan dinas sepakat untuk merancang pelatihan secara terstruktur dan berkesinambungan agar mampu menjangkau lebih banyak guru tanpa mengganggu aktivitas pembelajaran di sekolah.
“Pelatihan ini disusun dalam empat gelombang karena kita ingin memastikan semua guru yang menjadi sasaran dapat terakomodasi. Sasarannya adalah guru penerima tunjangan profesi dan tambahan penghasilan,” jelas Ratnawati.
Ia menegaskan bahwa kegiatan ini dilaksanakan secara mandiri oleh masing-masing peserta, tanpa paksaan, sesuai kemampuan dan kesiapan guru. “Kami ingin pelatihan ini menjadi ruang belajar yang nyaman, fleksibel, dan benar-benar menjawab kebutuhan guru. Tidak ada unsur kewajiban yang memberatkan,” tambahnya.
Pelatihan ini diikuti oleh 13 MGMP mata pelajaran ditambah MGMP Koding tingkat SMP se-Kabupaten Bone, yang bergabung dalam satu wadah besar Forum MGMP/BK. Untuk memastikan pengembangan profesional guru berjalan relevan dengan kebutuhan zaman, dua fokus materi utama dihadirkan dalam kegiatan ini, yaitu:
Implementasi Kokurikuler dan Perbedaan P5, yang membantu guru memahami penguatan karakter siswa serta pengayaan pembelajaran berbasis Kurikulum Merdeka.
Media Pembelajaran Interaktif, mencakup pengenalan dan praktik penggunaan e-word, Canva, Merajut Pembelajaran Mendalam dengan Assemblr EDU, serta aplikasi Evel Up untuk mengoptimalkan proses mengajar di kelas.
Ratnawati menekankan bahwa perkembangan teknologi harus diikuti oleh guru untuk memastikan proses pembelajaran tetap adaptif, kreatif, dan menarik bagi peserta didik. “Era digital menuntut guru bukan hanya mengajar, tapi juga berinovasi. Karena itu materi yang kami hadirkan mendorong guru untuk mampu memanfaatkan media interaktif dalam mengajar,” katanya.
Dengan pelaksanaan yang dibagi dalam empat gelombang, pelatihan ini tidak hanya menjaga efektivitas belajar, tetapi juga memastikan sekolah tetap berjalan normal tanpa kekosongan guru. Forum MGMP/BK berharap program ini dapat terus berlangsung setiap tahun sebagai bagian dari peningkatan kompetensi berkelanjutan.
Kegiatan yang digagas secara kolaboratif ini menjadi bukti bahwa peningkatan kualitas pendidikan tidak hanya bergantung pada kebijakan pemerintah, tetapi juga pada inisiatif komunitas guru yang bergerak bersama, saling menguatkan, dan berkomitmen untuk terus belajar demi layanan pendidikan yang lebih baik bagi generasi Bone.
Sementara itu, Wakil Ketua I Forum MGMP Kabupaten Bone yang juga Ketua MGMP IPS, Zainal Ibrahim, S.Pd., M.M, menegaskan bahwa Pelatihan Peningkatan Kompetensi Guru Tahun 2025 menjadi salah satu kegiatan penting dalam mendorong mutu pendidikan di daerah. Pelatihan tersebut digelar selama empat hari, yakni pada 15, 16, 21, dan 22 November 2025, bertempat di Aula Dinas Pendidikan Kabupaten Bone.
Zainal menjelaskan bahwa pelatihan ini dirancang untuk menjawab kebutuhan guru dalam meningkatkan kualitas diri dan profesionalisme. Terdapat 12 mata pelajaran (mapel) yang terlibat, dan seluruh kegiatan dibagi dalam empat hari pelaksanaan agar lebih efektif dan terorganisasi.
“Tujuan utamanya jelas, yaitu meningkatkan kualitas guru. Kegiatan ini benar-benar lahir dari kebutuhan dan aspirasi rekan-rekan guru di lapangan,” ungkap Zainal.
Hal yang paling diapresiasi dari kegiatan tersebut adalah tingginya komitmen para peserta. Zainal menyebut, para guru hadir tanpa paksaan, bahkan menggunakan biaya pribadi untuk mengikuti pelatihan.
“Teman-teman datang dengan biaya sendiri. Tidak ada paksaan. Mereka hadir dengan penuh keikhlasan. Sampai saat ini kami tidak pernah menerima keluhan atau keberatan dari para guru. Justru mereka sangat antusias,” tegasnya.
Ia menambahkan bahwa penyelenggaraan pelatihan ini juga menjadi bukti keseriusan MGMP dalam mendukung program peningkatan kompetensi yang digalakkan pemerintah. Menurutnya, penyelenggaraan berjalan dengan baik dan tertib, mencerminkan semangat guru-guru di Bone dalam menyambut perubahan dan tantangan baru di dunia pendidikan.
“Alhamdulillah, kegiatan ini betul-betul berjalan sebagaimana yang diharapkan. Spirit guru-guru kita luar biasa. Inilah bentuk nyata komitmen mereka untuk terus belajar dan berkembang,” tutup Zainal.
Hal sama juga diungkapkan Wakil Ketua II Forum MGMP Kabupaten Bone, Mukhlis, S.Pd., M.Pd. Kegiatan ini lahir dari kebutuhan nyata para guru di lapangan. “Intinya, kegiatan ini terlaksana atas inspirasi dan pertimbangan kebutuhan pelatihan dari teman-teman guru,” ungkap Mukhlis.
Ia menegaskan bahwa konsep pengembangan keprofesian berkelanjutan bukan sekadar program, melainkan tuntutan profesi yang harus dipenuhi oleh setiap pendidik. Guru, kata Mukhlis, dituntut untuk senantiasa meningkatkan kemampuan melalui berbagai metode, salah satunya melalui pelatihan seperti yang diselenggarakan MGMP.
Pelatihan ini bukan kegiatan yang muncul secara tiba-tiba. Mukhlis memaparkan bahwa program tersebut melalui proses panjang mulai dari rapat koordinasi seluruh pengurus MGMP kabupaten, hingga penyusunan kebutuhan pelatihan oleh masing-masing pengurus mata pelajaran. “Semua kami koordinasikan dengan pihak terkait, termasuk Dinas Pendidikan, sekolah-sekolah, dan mitra lainnya,” jelasnya.
Menariknya, pelatihan ini bersifat sukarela, tanpa paksaan bagi guru untuk ikut. Pendaftaran dilakukan secara terbuka, dengan harapan peserta yang hadir adalah mereka yang betul-betul memiliki “panggilan hati” untuk mengembangkan kompetensinya, khususnya dalam digitalisasi pembelajaran.
Mukhlis menuturkan bahwa inti pelatihan tahun ini adalah pengembangan media pembelajaran interaktif. Dalam pelatihan ini, guru dikenalkan pada berbagai aplikasi dan media digital yang dapat membantu menciptakan pembelajaran yang lebih menarik, efektif, dan sesuai dengan tuntutan era saat ini. “Guru harus mampu menghadirkan pembelajaran yang interaktif dengan memanfaatkan teknologi. Itulah yang menjadi fokus utama pelatihan ini,” ujarnya.
Guru-guru diajak memahami dan mempraktikkan penggunaan aplikasi-aplikasi edukatif untuk mendukung proses belajar di kelas. Dengan meningkatnya tuntutan digitalisasi, kompetensi ini dianggap sangat penting agar guru tidak tertinggal dalam perkembangan dunia pendidikan yang semakin dinamis.
Selain teknologi pembelajaran, MGMP juga menyisipkan materi mengenai kokurikuler, sebuah aspek yang menurut Mukhlis masih kurang dipahami oleh sebagian guru maupun kepala sekolah. Pelatihan ini memberikan pendalaman mengenai esensi dan teknik pelaksanaan proyek kokurikuler yang baik dan benar.
“Hasilnya terlihat jelas. Banyak guru mengaku baru mendapatkan pencerahan tentang bagaimana melaksanakan proyek kokurikuler sesuai pedoman Kementerian Pendidikan,” ungkap Mukhlis.
Pelatihan ini menjadi salah satu langkah strategis MGMP Bone dalam memastikan guru-guru tetap berada pada jalur profesionalisme. Dengan kebutuhan kompetensi yang terus berkembang terutama dalam teknologi pendidikan MGMP ingin memastikan guru SMP di Bone tidak hanya mampu mengikuti perkembangan zaman, tetapi juga mampu menciptakan inovasi pembelajaran yang efektif.
Menurut Mukhlis, pelatihan ini tidak bisa digelar dalam satu hari karena melibatkan banyak mata pelajaran. “Guru ini kan ada beberapa mata pelajaran, sementara materi yang kita kembangkan itu sejenis. Sehingga kita bagi ke dalam empat angkatan. Kalau hanya satu hari, ada 10 sampai 13 mata pelajaran ditambah BK idak mungkin kita hadirkan semua guru sekaligus,” jelasnya.
Pembagian angkatan dilakukan untuk menjaga dua hal penting: pelatihan tetap berjalan maksimal dan kegiatan belajar-mengajar di sekolah tidak terganggu. “Kita petakan per hari, beberapa mapel per angkatan, sehingga sekolah tetap berjalan dengan baik dan pelatihan tetap berjalan,” ujarnya.
Ia merinci bahwa setiap angkatan diisi oleh tiga hingga empat mata pelajaran. Angkatan pertama terdiri dari empat mapel, termasuk Bahasa Indonesia dan Matematika. Angkatan kedua dan ketiga masing-masing empat mapel, sementara angkatan keempat memuat tiga mata pelajaran. Pembagian yang terstruktur ini membuat peserta dapat mengikuti pelatihan secara fokus tanpa mengganggu tugas utama mereka di sekolah.
Untuk narasumber, panitia memilih figur-figur profesional yang memiliki sertifikat pelatihan nasional serta lisensi keahlian di bidang pengembangan media pembelajaran interaktif. “Kita pilih orang yang betul-betul memiliki kapasitas dan kompetensi di bidangnya,” tegas Mukhlis.
Terkait pembiayaan, Mukhlis menegaskan bahwa pelatihan mandiri ini dilaksanakan karena tidak semua kebutuhan peningkatan kompetensi guru bisa ditanggung pemerintah. Mulai dari konsumsi, honor narasumber, listrik, sewa gedung, hingga pengadaan sertifikat, semuanya membutuhkan biaya yang harus dihitung secara rasional.
“Pelatihan ini membutuhkan konsumsi, biaya narasumber, sewa gedung, listrik, konsumsi peserta, panitia, honor narasumber, hingga pengadaan sertifikat. Semua harus diperhitungkan. Dan yang menikmatinya juga para peserta sendiri,” ucapnya.
Meski demikian, ia memastikan bahwa kegiatan ini sepenuhnya bersifat sukarela, tanpa paksaan. “Tidak semua pelatihan guru bisa dibiayai pemerintah. Kita hadir sebagai mitra pemerintah untuk mempercepat akselerasi pendidikan sehingga digelar secara mandiri. Teman-teman guru yang bersedia dan berkesempatan kita berikan ruang. Tidak ada penekanan harus ikut,” tegasnya.
Pada akhirnya, Mukhlis menegaskan bahwa pelatihan ini murni dilaksanakan untuk memenuhi kebutuhan peningkatan kompetensi guru. Para peserta mendapatkan materi, kesempatan diskusi, hingga sertifikat pelatihan sebagai bukti peningkatan kapasitas profesional.
“Intinya, kegiatan ini terlaksana sesuai kebutuhan dan tidak ada tujuan lain selain meningkatkan kompetensi guru,” pungkasnya.
Pelatihan ini menjadi bukti bahwa komitmen meningkatkan mutu pendidikan di Kabupaten Bone tidak hanya mengandalkan pemerintah, tetapi juga bergerak mandiri melalui kolaborasi para pendidik yang terus ingin berkembang. (*)





