Harian SINDO Dalam Kenangan

Harian Sindo Dalam Kenangan

Yosef Naiobe – (eks wartawan sindo) 

Kabar tentang koran SINDO ditutup permanen sebenarnya tidak terlalu mengejutkan. Sejak kehadiran media online satu dekade yang lalu, media cetak secara perlahan mulai kehilangan pembaca dan pelanggan. Informasi atau berita media cetak kalah cepat dengan media online yang mulai booming sekitar tujuh tahun silam.

Kemajuan teknologi informasi memang tidak bisa dibendung. Dewasa ini orang lebih cenderung memilih media online ketimbang media cetak. Praktis dan cepat. Sebuah peristiwa di daerah lain bahkan di luar negeri, hanya hitungan menit sudah bisa diketahui seantero jagat raya. Tidak heran, jika media cetak menjadi kisah masa lalu yang penuh kenangan.

Kebersamaan dan petualangan bersama koran Sindo dimulai pada penghujung 2009.  Saat itu saya mendapat kabar baik dari managemen PT Media Nusantara Center (MNC) Jakarta yang dikirim melalui box email saya, yang intinya meminta saya agar segera menyiapkan diri untuk berangkat ke Manado, Sulawesi Utara.

Pemberitahuan itu menyusul surat lamaran kerja yang saya kirim untuk bekerja sebagai wartawan Harian Seputar Indonesia (SINDO) dibawah naungan PT MNC. Puji Tuhan, saya diterima.

Sebelum beralih ke cetak, selama lima tahun saya bekerja di salah satu televisi swasta nasional. Lantaran ingin menjajal tantangan baru saya memutuskan bikin surat lamaran ke Harian SINDO yang saat itu memang lagi butuh wartawan yang sudah berpengalaman.

Berselang beberapa minggu kemudian, ada pemberitahuan dari perusahaan bahwa posisi saya di Manado dialihkan ke kantor Biro Sulawesi Selatan di Makassar. Penempatan di Makassar menandai dimulainya saya bekerja sebagai wartawan SINDO. Berkelana dari satu daerah ke daerah yang lain. Menyisir nusantara dari pulau Jawa hingga luar pulau Jawa. Beragam peristiwa mulai dari pengalaman yang manis maupun pahit bergulir bersama sang waktu.

Baca Juga :  Cerpen dan Puisi Akhir Pekan

Acapkali di balik kenikmatan menjalankan profesi mulia ini tetap saja dihantui perasaan was-was. Wartawan dalam menjalankan tugasnya memang dilindungi oleh undang-undang. Akan tetapi benturan di lapangan seringkali terjadi dan sulit dihindari. Pekerjaan wartawan identik dan dekat sekali dengan ancaman. Bila tidak  hati-hati dan cermat menulis berita kasus, cepat atau lambat pasti dimusuhi dan bahkan dipersekusi, baik secara verbal (ancaman, teror dan intimidasi) maupun secara fisik seperti penganiayaan ringan atau berat. Bahkan tidak sedikit wartawan kehilangan nyawa karena profesinya.

Petualangan bersama koran Sindi terus berlanjut. Dari Sulawesi Selatan saya ditarik ke Daerah Istimewa Yogyakarta. Lebih dari tiga kali saya mengalami rotasi.

Akhir 2019 kabar “buruk” menimpa karyawan SINDO di seluruh Indonesia. Koran milik pengusaha Hary Tanoesoedibjo ini akan melakukan restrukturisasi. Dampaknya sebagian wartawan daerah resign. Ada yang ditarik ke Jakarta, sebagian lagi memilih unit lain yang disediakan perusahaan. Tinggal memilih unit mana yang diinginkan. (Bank, atau asuransi atau media online, sindonews.com).

Saya termasuk yang memilih resign. Posisi saat itu lagi bertugas di Kabupaten Malang Jawa Timur.

Sebelum ditugaskan di Biro Jatim saya dinyatakan layak untuk dipromosikan menjadi asred (asisten redaktur) di kantor pusat. Lantaran menolak karena memilih jadi wartawan lapangan. Saya Kemudian dipindahkan dari Semarang ke Malang.

Gelombang keresahan wartawan cetak sebenarnya sudah mukai terasa sejak akhir 2016. Beberapa media online mulai bermunculan bak jamur di musim hujan. Hal ini ditunjang dengan kecanggihan teknologi komunikasi (handphone smart). Dari aspek bisnis, persaingan koran atau media cetak mulai goyah. Puncaknya pada Senin 17 April 2023. KORAN SINDO tempat saya bertualang, selama 10 tahun, dinyatakan tidak terbit alias tutup secara permanen.

Baca Juga :  Cerpen: Fajar di Pantai Losari: Di Balik Dinamika Tim Pemenangan BerAmal

Sebagai wartawan yang pernah menjadi bagian dari eksistensi koran Sindo di tanah air, kabar duka itu cukup mengoyak rasa.

Namun saya juga sadar, bahwa tidak ada yang abadi di dunia ini. Segala sesuatu ada masanya. Seperti senja. Hanya sesaat menebarkan pesona siluetnya yang menakjubkan, lalu lenyap sekita dalam pelukan malam yang pekat. Yang tersisa hanya rasa dan kenangan.

Saya menatap cakrawala seperti diselimuti kabut tebal. Semangat menjelajah dunia wartawan terasa memudar, disesaki ilusi. Dalam kebimbangan saya mencoba menelusuri jejak idealisme baru. Sayang fantasi kekalutan menghalangi nalar. Kaki terasa enggan melangkah keluar dari zona nyaman. Area di mana 10 tahun saya dininakbobokan dengan sebutan wartawan nasional. KORAN SINDO!

Sekilas tentang SINDO

Koran Sindo (sebelumnya Harian Seputar Indonesia dan Koran Seputar Indonesia) adalah sebuah surat kabar harian yang terbit di Jakarta yang terbit perdana pada tanggal hari Rabu, 29 Juni 2005. “Sindo” di namai surat kabar adalah singkatan dari nama acara berita terdahulu di RCTI, yaitu Seputar Indonesia. Koran Sindo terbit selama 7 hari selama 1 minggu, dengan format ukuran panjang 7 kolom dan tinggi 54 cm. Edisi Nasional terbit 44 halaman dengan 3 bagian koran.

Menurut sebuah laporan yang dikeluarkan Reuters Institute for the Study of Journalism dan Universitas Oxford pada tahun 2021, Koran Sindo merupakan media yang paling dipercaya masyarakat dengan skor kepercayaan mencapai 9%.

.

Tetap Terhubung
Ikuti Zonanusantara.com untuk mendapatkan informasi terkini.

Related posts