Jakarta- Masyarakat Manggarai diaspora Jabodetabek yang tergabung dalam Ikatan Keluarga Manggarai Jabodetabek (IKAMADA) menggelar Festival Budaya Manggarai di Anjungan Nusa Tenggara Timur (NTT), Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, Minggu (2/8/2026).
Richard Bagun, Ketua IKAMADA mengatakan, pentas caci tersebut merupakan bagian dari rangkaian festival budaya Manggarai yang menampilkan beragam ekspresi budaya antara lain: Sanda, Mbata, Danding, Rangkuk Alu dan berbagai motif tenun ikat kas Manggarai (songke).
Menurut Richard, Festival budaya ini akan menjadi agenda tahunan IKAMADA dalam upaya merawat dan mempromosikan nilai-nilai luhur budaya Manggarai sebagai desain kehidupan (design for living) orang Manggarai. Sebab budaya merupakan faktor determinan pembentukan karakter suatu suku bangsa yang tampak dalam sikap dan perilaku (attitude), keyakinan (beliefs) dan penghayatan nilai-nilai kemanusiaan (humanistic values). Itulah sebabnya, karakter suatu suku berbeda dengan suku-suku lainnya.
“Festival budaya Manggarai di diaspora tidak saja merawat tradisi leluhur dan momen membangun soliditas orang Manggarai di tanah rantau, tetapi juga mempromosikan kekayaan budaya Manggarai kepada generasi muda Manggarai yang lahir dan besar di tanah Manggarai,” kata Richard.
Sementara itu, penanggung jawab Festival Budaya Pentas Caci 2026, Gaudens Wodar, mengatakan caci menjadi simbol kebanggaan masyarakat Manggarai. Caci tidak sekadar tontonan. Sebagai pertarungan satu lawan satu, caci menonjolkan ketangkasan (pukul & tangkis), seni (lomes) tari (kelong) – suara (lagu & pekikan), sportivitas dan rasa hormat, keberanian serta rasa syukur.
Menurut Gaudens, tema Festival Caci Diaspora Manggarai tahun ini adalah, REKO B’EO TANAH KUNI AGU KALO. Mencintai dan merawat nilai- nilai budaya. Cinta budaya adalah cinta nilai (spiritualitas) kehidupan. Merawat budaya adalah merawat nilai dasar kehidupan.
“Kita wajib menjaga, membangun, merawat nilai budaya Manggarai sebagai tanah kelahiran tempat kita berasal. Ungkapan ini mengingatkan setiap orang Manggarai agar tidak lupa ( neka hemong tanah Kuni agu kalo – tanah Manggarai) sebagai identitas dan asal-usulnya, meski sedang merantau jauh,”ujarnya.
Gaudens menambahkan meski tampak seperti saling pukul & tangkis, caci diatur oleh norma dan etika ketat yang ditutun nilai-nilai luhur budaya. Gaudens menilai caci sebagai warisan budaya dan spiritual yang perlu dilestarikan, serta meminta dukungan pemerintah agar tradisi ini berkelanjutan.
Selanjutnya, Ketua panitia Festival Budaya Pentas Caci 2026, Libertus Jehani, menjelaskan festival akan dimulai pada pukul 08.00 hingga sore hari. Acara ini diselenggarakan bekerja sama dengan beberapa Komunitas Diaspora Manggarai Se-Jabodetabek.
Selain pentas caci dan danding, kegiatan diisi kirab budaya dan tarian khas Manggarai termasuk Ndundudake yang dibawakan oleh kelompok diaspora muda Manggarai yang sebagian besar adalah mahasiswa mahasiswi. Rangkaian pentas budaya ini akan diakhiri dengan goyang massal terpimpin dengan lagu-lagu seperti “Sini Senang” dan “Kokor Gola.”






