BONE–Suasana haru menyelimuti Dusun Raja 1, Desa Mattampawalie, Kecamatan Lappariaja, Kabupaten Bone, Minggu dini hari, 13 Juli 2025. Di saat sebagian besar warga masih terlelap, Hj. Darna, 68 tahun, seorang guru mengaji yang sudah puluhan tahun membina anak-anak desa membaca Al-Qur’an, terpaksa menyaksikan rumah panggungnya roboh rata dengan tanah.
Kala itu sekitar pukul 03.00 WITA, Hj. Darna baru saja menunaikan shalat tahajjud, sebuah rutinitas yang tak pernah putus sejak muda. Di tengah sunyi, suara patahan kayu mengejutkan langkahnya. Dengan sigap, ia membangunkan cucunya, Yuga, bocah tiga tahun yang masih terlelap. Sambil menahan panik, Hj. Darna menggandeng sang cucu, menuruni tangga rumah panggung yang sudah rapuh.
Belum sempat menarik napas lega, dari luar terdengar suara retakan lebih keras. Detik berikutnya, rumah panggung berusia puluhan tahun itu ambruk “Alhamdulillah, saya dan cucu selamat. Cuma ini saya sedih, rumah tempat anak-anak belajar mengaji sekarang roboh,” tutur Hj. Darna sambil menahan haru.
Kabar robohnya rumah guru mengaji itu cepat menyebar. Bupati Bone, H. Andi Asman Sulaiman, S.Sos., MM, pun langsung bergerak cepat. Di sela jadwalnya, ia datang meninjau lokasi, menyapa Hj. Darna dan warga sekitar dengan penuh empati. “Ini bukan sekadar rumah, tapi tempat anak-anak kita belajar agama. Saya sangat prihatin dan insya Allah kita tidak akan membiarkan Bu Guru Darna sendiri,” ungkap Bupati di hadapan warga.
Sebagai wujud kepedulian, Bupati Andi Asman Sulaiman memerintahkan instansi terkait untuk segera bertindak. Dinas Sosial, Baznas, aparat TNI-Polri, hingga Camat dan Pemerintah Desa diinstruksikan untuk bergotong-royong membangun rumah semi permanen pengganti rumah panggung Hj. Darna. Pembangunan ini diharapkan selesai secepatnya, agar proses mengaji anak-anak yang jumlahnya mencapai 60 orang bisa kembali berjalan tanpa hambatan.
“Musibah ini harus segera ditangani. Saya minta semua pihak terlibat, kita buktikan nilai gotong-royong masih hidup di Bone,” tegas Bupati.
Hingga berita ini diturunkan, bantuan darurat mulai mengalir. Rencana pembangunan rumah pengganti pun tengah dimatangkan bersama aparat desa dan tokoh masyarakat.
Di balik reruntuhan rumah panggungnya, Hj. Darna masih tetap tersenyum sabar. Ia yakin, semangat mengajarnya takkan runtuh bersama robohnya tiang kayu lapuk. Baginya, rumah boleh ambruk, tapi cahaya Al-Qur’an di hati murid-muridnya akan terus menyala. (*)






