Oleh: Dr. Andi Abbas, SH, MH, M.Si
Saat Sang Saka Merah Putih berkibar di langit Nusantara, kita diingatkan: Kemerdekaan ini dibayar dengan darah. 81 tahun Indonesia merdeka bukan hadiah dan bukan hasil karnaval. Kemerdekaan lahir dari perjuangan panjang dan pengorbanan yang tak ternilai.
Langit di Bumi Nusantara kembali bertebaran Merah Putih. Di jalan, sekolah, kantor, hingga gang-gang kecil, bendera itu berkibar menyambut usia ke-81 Republik Indonesia.
Namun di balik semaraknya, ada kisah panjang yang tidak boleh kita lupakan: tentang darah, air mata, dan pengorbanan yang membayar lunas kemerdekaan ini. Karena kemerdekaan bukan hadiah dari penjajah.
Kemerdekaan Bukan Durian Runtuh
Kemerdekaan Indonesia tidak jatuh dari langit. Ia tidak diberikan begitu saja oleh bangsa penjajah. Ia lahir dari perjalanan panjang yang dibayar dengan keringat, air mata, bahkan nyawa para pejuang.
Setiap kali Sang Saka berkibar, kita sesungguhnya sedang menyaksikan kembali sejarah keberanian. Merah bukan sekadar warna. Putih bukan sekadar kain. Keduanya adalah simbol harga yang pernah dibayar bangsa ini untuk berdiri sebagai bangsa merdeka.
17 Agustus 1945. Soekarno-Hatta membacakan Proklamasi atas nama bangsa Indonesia. Suaranya menggema dan mengubah arah sejarah. Namun Proklamasi bukanlah akhir. Justru sejak saat itulah perjuangan memasuki babak paling berat: mempertahankan kemerdekaan.
Proklamasi Bukan Titik Akhir
Belanda tidak menerima begitu saja. Setelah berabad-abad menjajah, mereka kembali ingin menguasai Nusantara. Melalui agresi militer Belanda.
Perang pun meletus. Jakarta, Yogyakarta, Surabaya, Bandung, Semarang, dan kota-kota lain menjadi medan pertempuran. Tembakan, bom, penangkapan, pengasingan. Tapi semangat rakyat tidak pernah padam.
Di tengah situasi mencekam itu hanya ada dua pilihan: Merdeka atau Mati.
Bagi para pejuang, kemerdekaan adalah martabat. Lebih baik tubuh terkoyak daripada tanah air kembali direnggut. Lebih baik berkorban daripada melihat Republik tercabik-cabik. Dan dari keberanian itulah Merah Putih terus berkibar hingga hari ini.
81 Tahun: Bukan Sekadar Angka
Kini kita telah 81 tahun merdeka. Angka itu bukan cerita pendek. Di dalamnya ada jutaan kisah: tentang kemiskinan, pembangunan, krisis, reformasi, dan harapan.
Para pendiri bangsa sudah meletakkan haluan dalam Pembukaan UUD 1945: melindungi segenap bangsa, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut menjaga perdamaian dunia. Konstitusi itu adalah mercusuar. Ia menuntun kapal besar bernama Indonesia agar tidak kehilangan arah di tengah badai zaman.
Tapi kemerdekaan bukan berarti semua persoalan selesai. Justru di sinilah tanggung jawab kita dimulai.
Jika dulu para pejuang melawan kolonialisme dengan bambu runcing, hari ini kita melawan kemiskinan, kebodohan, korupsi, kesenjangan, disinformasi, dan ketidakadilan.
Perjuangan kini tidak di medan perang. Ia ada di ruang kelas, di kantor pemerintahan, di pasar, di desa, di kampus, bahkan di dalam diri kita sendiri.
Apa arti merdeka jika anak-anak masih kesulitan sekolah? Apa arti Merah Putih jika petani belum dapat harga adil dan nelayan masih terpinggirkan? Apa arti kemerdekaan jika sebagian rakyat masih merasa menjadi warga kelas dua?
Jangan Biarkan Merah Putih Hanya Jadi Hiasan
Kemerdekaan bukan akhir dari penderitaan. Ia adalah awal dari pekerjaan besar.
Karena itu jangan biarkan semangat 17 Agustus berhenti di upacara, lomba, dan karnaval. Merah Putih harus hidup dalam perilaku: dalam kejujuran, gotong royong, keadilan, dan keberanian membela kebenaran.
Dulu murka terhadap penjajahan menyalakan keberanian para pejuang. Kini semangat itu harus kita ubah menjadi energi untuk membangun Indonesia.
Langit Nusantara boleh penuh bendera. Tapi yang lebih penting, Merah Putih juga harus berkibar di hati setiap anak bangsa.
Sebab Indonesia merdeka bukan hanya untuk memiliki bendera. Indonesia merdeka untuk memiliki martabat, keadilan, kesejahteraan, dan masa depan.
Jika para pejuang dahulu menyerahkan darahnya untuk merebut kemerdekaan, maka tugas kita hari ini adalah memastikan pengorbanan itu tidak sia-sia.
Merdeka bukan sekadar warisan. Merdeka adalah tanggung jawab yang harus terus diperjuangkan.
Merdeka! Merdeka! Merdeka!
Dr Andi Abbas : Seorang pemerhati masalah masalah sosial, pandangannya acapkali masuk ke dalam ruang ruang filsafat. Kendati demikian ia tetap menguasai keilmuannya : Doktor di Bidang Hukum.






