- Caffe di Bone Tak Pernah Sepi, Ngopi Jadi Bahasa Persaudaraan Bugis.
Dari Jalan Beringin sampai Ahmad Yani, deretan caffe di Watampone selalu ramai tiap sore hingga malam. Orang Bugis Bone, secangkir kopi bukan sekadar minuman—tapi bahasa untuk berkumpul, bercerita, dan menjaga persaudaraan.
Di titik ini, caffe bukan sekadar tempat minum kopi. Ia sudah jadi ruang publik kedua. Tempat berkumpul, melepas penat, ngobrol santai, sampai membahas urusan kerjaan dan kampung.
Situasi itu paling kentara di Jalan Beringin, Jalan Ahmad Yani, hingga sudut-sudut Kota Watampone. Sejak sore menjelang malam, deretan caffe yang berjejer selalu dipadati penikmat kopi dari berbagai kalangan. Ada anak muda, keluarga, sampai bapak-bapak pensiunan.
“Orang Bone itu kalau kumpul pasti ujung-ujungnya ke caffe. Ngopi sambil ngobrol itu sudah jadi budaya. Sekalian melepas kangen sama teman atau keluarga,” ujar Abdul Malik, SH belum lama ini.
Menu yang ditawarkan pun beragam. Mulai kopi hitam klasik, kopi susu kekinian, sampai camilan khas Bone. Bagi penikmat kopi sejati, caffe jadi tempat meluapkan selera. Bagi yang lain, caffe jadi alasan untuk duduk lebih lama bersama orang terdekat.
- Sama Seperti Yogya, Beda Rasa
Situasi yang nyaris serupa juga terlihat di Yogyakarta. Kota yang dijuluki Kota Pelajar itu memang tidak pernah sepi. Setiap sudutnya dipadati orang, mulai mahasiswa, seniman, hingga wisatawan.

Sebagai kota kuliner, Yogya menawarkan nuansa khas dengan gudeg sebagai ikon utamanya. Tapi yang membuat beda adalah angkringan. Warung sederhana dengan menu nasi kucing, wedang jahe, dan sate telur puyuh itu mudah ditemui di tiap sudut kota.
Di angkringan Yogya, komunitas seniman dan mahasiswa berbaur. Obrolan mengalir dari diskusi tugas kuliah sampai wacana seni. Suasananya santai, merakyat, tapi sarat ide.
Jika di Bone caffe jadi tempat ngobrol dengan sentuhan modern, maka di Yogya angkringan jadi simbol kebersamaan yang sederhana. Keduanya sama-sama jadi saksi bisu bagaimana kopi dan ruang nongkrong menyatukan orang.
Baik di Watampone maupun Yogya, secangkir kopi ternyata punya bahasa yang sama: membuat orang betah berlama-lama, bercerita, dan merasa seperti di rumah sendiri.






