Mengejar harta akan sirna bersama usia. Menabur kebaikan akan kekal, ditulis oleh waktu dan dikenang manusia.
Selama ini masyarakat masih melekat pada stigma: sekolah swasta minim fasilitas, jarang berprestasi. Stigma itu runtuh di Palakka, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan.
MTs Al-Faaizun, sekolah swasta di bawah naungan Yayasan Pendidikan Islam Al-Faaizun, justru mencatatkan diri sebagai salah satu sekolah swasta di Sulawesi Selatan yang paling banyak menorehkan prestasi. Deretan piala yang terpajang di sudut ruang guru menjadi bukti nyata. Itu semua adalah mahakarya anak-anak belia yang belajar tanpa dipungut biaya sepeser pun.
Diakui, prestasi yang diraih masih sebatas tingkat regional dan kabupaten. Tapi bagi sebuah sekolah swasta yang berdiri di pelosok Bone, capaian itu sudah cukup untuk menempatkannya sebagai sekolah dengan kualitas yang membanggakan dan patut diperhitungkan.
Kebanggaan itu terpancar dari wajah Hj. Nur Aisyah Ramly, S. Pd, M. PD, bahwa deretan piala di ruang sekolah bukan sekedar logam tapi bukti: niat baik melahirkan prestasi, dan prestasi mengharumkan nama sekolah.
Berdiri sejak 2006, MTs Al-Faaizun hadir dengan satu komitmen: menggratiskan pendidikan. Tidak ada SPP, tidak ada pungutan.
Kehadirannya seperti menyalakan kembali obor harapan orang tua yang nyaris padam karena rasa putus asa tidak sanggup membiayai anak sekolah.
Basri, petani sederhana asal Palakka, adalah salah satu potretnya. Tiga tahun anaknya, Saskia Ramadhani, mengenyam pendidikan di MTs Al-Faaizun tanpa mengeluarkan biaya.
“Tentu saya bersyukur. Anak saya sekolah sampai tamat tidak pernah bayar uang sekolah,” kata Basri via telepon, Sabtu (22/8/2026).
Bagi Basri, bantuan itu luar biasa. Ia mewakili banyak orang tua lain di kelompok marginal yang selama ini hanya bisa merindukan sekolah gratis atau biaya murah untuk anak-anak mereka.

Di tengah maraknya pungutan sekolah, MTs Al-Faaizun membuktikan satu hal: sekolah swasta gratis bukan penghalang untuk berprestasi. Ketika pendidikan digratiskan, yang tumbuh bukan hanya angka kelulusan, tapi juga mimpi.
Ladang UMKM
Tak ada yang menyangka. Kehadiran MTs Al-Faaizun ternyata membawa berkah lebih dari sekadar ruang kelas.
Sekolah gratis ini diam-diam menumbuhkan ekonomi di sekitarnya. Halaman dan sekitar sekolah berubah menjadi denyut nadi usaha warga.
Empat kantin kecil berdiri. Ada yang menjual gorengan, mie siram, dan minuman dingin untuk anak-anak. Dari sinilah roda ekonomi berputar. Dari sinilah asap dapur warga tetap mengepul.
Bagi masyarakat sekitar, sekolah bukan hanya tempat belajar. Ia adalah ladang baru, tempat mengais dan menjaring kehidupan. Bukti bahwa pendidikan yang digratiskan, dampaknya besar. Dan, tak bisa dipungkiri kebaikan akan kembali pada orang yang menaburnya. Mencari jalannya sendiri.






