Oleh : Joseph Naiobe – Makassar
Jam dinding berdetak 24 kali menandai malam telah sepi. Sembilan tahun telah berlalu namun rasa kecewa masih terasa segar seperti luka yang menolak untuk sembuh.
Di memori ini penuh kenangan berisi kehidupan tanpa disortir. Kata – katanya samar mengalir dalam cahaya yang redup. Hujan turun malam itu perlahan beriringan dengan hawa dingin menusuk lebih dalam sedalam rasa sakit yang belum pulih.
cinta seperti penjara yang indah. Inilah sisi lain yang semua orang mungkin tidak memahaminya termasuk aku. Bahwa jatuh cinta yang demikian dalam akan memenjarakan batin. Cinta acapkali dimengerti dengan bahasa yang berbeda. Cinta itu seperti dunia yang kita tak pernah bermimpi untuk memasukinya.
Senyum yang tulus bukanlah bunga yang sedang mekar. Sebuah senyuman muncul dari rasa empati. Catatan harian ini hanyalah gambaran perjalanan cinta yang tumbuh selama lebih kurang sembilan tahun dan terhenti seketika dalam pusaran waktu yang seakan tak mau berotasi. Ketika cinta tak lagi bersenyawa dengan kerinduan, dengan cara lagi untuk memekarkan bunga yang sedang kayu? Cinta yang tulus acapkali mengambil jalan berbeda. Bertepuk sebelah tangan pada posisi yang berseberangan.
Suatu senja di kota Daeng 16 08 25





