Kabupaten Malang – Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Malang Geram, melihat kondisi lapangan Desa Banjarejo Kecamatan Pagelaran.
Pasalnya, lapangan Desa Banjarejo tersebut saat ini menjadi tempat penampungan tanah atau urukan hasil galian tanah akibat proyek pengerjaan pelebaran jalan raya Gondanglegi-Balekambang.
Anggota DPRD Kabupaten Malang dari Fraksi Golkar, Fakih Pilihan mengatakan, kondisi lapangan Desa Banjarejo Kecamatan Pagelaran saat ini sangat memprihatinkan, karena menjadi tempat pembuangan tanah galian proyek pelebaran jalan.
“Kondisi lapangan itu (lapangan Desa Banjarejo) sangat memperihatinkan, karena manjadi salah satu tempat penampungan atau urukan hasil galian tanah akibat proyek pelebaran jalan,” ucapnya, saat dikonfirmasi awak media, Minggu (21/9/2025).
Menurut Fakih, pada 27 Mei 2025 lalu, pihak kontraktor penggarap proyek pelebaran jalan, yakni PT Jaya Kontruksi, telah sepakat untuk mengembalikan kondisi lapangan seperti sedia kala. Bahkan, perjanjian tertulis sudah dibuat dengan Pemerintah Desa Banjarejo.
“Sampai sekarang belum direalisasikan. Saya sangat menyayangkan komitmen ini. Saya juga memiliki bukti pernyataan dari pihak kontraktor. Tapi saya rasa mereka tidak bisa memegang amanah. Hal yang baik akan baik bila dilakukan dengan cara yang baik, tidak seperti ini. Sangat merugikan aktivitas pemuda,” jelasnya
Sejak awal, Fakih sebenarnya sudah cukup kecewa, mengingat lapangan yang selama ini difungsikan sebagai pusat kegiatan keolahragaan masyarakat, justru dijadikan tempat pembuangan tanah hasil galian proyek.
“Dampak ini sudah dirasakan oleh penggiat olahraga di Desa Banjarejo, sudah hampir 6 bulan tidak bisa melakukan kegiatan sepak bola. Lama-lama kalau dibiarkan akan membuat konflik antar pemuda dengan pihak pemborong,” ungkap pria yang juga dikenal sebagai Ketua Santri Embongan ini.
Lebih jauh, Fakih bilang, selama ini dirinya tidak tinggal diam untuk mecari solusi persoalan itu. Namun, upaya yang diperjuangkan oleh dirinya belum mendapatkan hasil hingga kini.
“Saya sudah berupaya untuk mendinginkan suasana, tetapi pihak BBPJN dan kontraktor tidak pernah merespon. Ya sudahlah kalau memang ini dibiarkan, saya kembalikan ke masyarakat dan pemuda, mau berbuat apa terserah. Karena saya sudah semaksimal mungkin berkomunikasi dengan pihak terkait, tapi tidak digubris,” tukasnya.






